Tertib Dakwah

Malfuudzaat 75


Beberapa hari setelah Hakimul Ummah, Maulana Ashraf Ali Thanwi rah.a. wafat, seorang yang ada hubungan bai’at dengan beliau telah datang dan saya yang berdosa ini telah memperkenalkannya kepada Maulana Ilyas. Beliau berkata, “Mereka yang ada hubungan dan kecintaan yang akrab dengan halqah Syaikh Thanwi perlu diberi takziah. Saya ingin disampaikan takziah kesemua yang ada hubungan dengan Syaikh. Secara khusus untuk menguatkan hubungan dengan Syaikh, medapat keberkahan, meninggikan derajatnya, dan untuk menggembirakan ruh beliau ialah dengan cara istiqamah dengan segala ajaran dan petunjuk yang hak yang telah disampaikan oleh Syaikh serta menyebarkan ajaran beliau. Semakin banyak orang yang mengikuti nasihat Hadzrat Syaikh, maka semakin besar pahalanya dan semakin tinggi derajatnya.”

“Barangsiapa mengajak kepada kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Kemudian beliau berkata, “Inilah cara yang paling tinggi untuk menyampaikan pahala kepada arwah Beliau.”

Iklan
Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Kisah Muawiyah dengan Saad Berkenaan dengan Ali ra.


Dikeluarkan oleh Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi dari Amir bin Saad bin Abi Waqas dari bapaknya, bapaknya berkata: Muawiyah bin Abu Sufyan memerintahkan Saad dengan berkata, “Apakah yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab (gelar yang diberikan Rasulullah untuk Ali)?”

Saad berkata, “AKu akan menyebutkan tiga hal yang disabdakan oleh Rasulullah, yang jika satu darinya aku miliki, maka lebih aku sukai daripada unta merah:

  1. Pertama, dalam perang Tabuk Rasulullah menghendaki Ali tinggal di Madinah, maka Ali berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Apakah engkau meninggalkanku bersama dengan kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah pun bersabda, ‘Apakah kamu ridha sekiranya kamu memperoleh kedudukan di sampingku sebagaimana Nabi Harun di sisi Musa as, sedangkan tiada Nabi selepasku.”
  2. Aku juga mendengar Rasulullah pada hari perang Khaibar, ‘Aku akan memberikan Panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Panggilah Ali supaya datang menemuiku.’ Kemudian Ali datang dan ia sedang sakit mata, lalu beliau meludahi kedua mata Ali kemudian menyerahkan panji itu kepadanya. Allah telah memberikan kemenangan kepada umat Islam.
  3. Ketika ayat ini diwahyukan kepada Rasulullah, Rasulullah pun memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein kemudian bersabda, ‘Wahai Allah mereka ini adalah ahli keluargaku.’

3_61

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Umar Menentang Orang yang Mencerca Ali ra.


Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Urwah ra, bahwa seorang lelaki telah mencerca dan menghina Ali dihadapan Umar bin Khattab. Maka Umar pun berkata, “Apakah kamu tahu pemilik kubur ini, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dan apakah kamu mengetahui mengenai Ali bin Abdul Muthalib? Janganlah kamu berkata-kata mengenai Ali kecuali dengan kebaikan karena sesungguhnya jika kamu menyakitinya, maka kamu telah menyakiti penghuni kubur ini (Rasulullah) dalam kuburnya.” Al Muntakhab.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Sabda Rasulullah, “Barangsiapa Menyakiti Ali, maka Ia Telah Menyakiti Aku.”


Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dari Amru bin Shah Al Aslami ra, seorang sahabat yang menyertai perjanjian Hudaibiyah, katanya: Aku bersama dengan Ali dalam pasukan yang dikirim oleh Rasulullah ke Yaman. Ali telah berlaku kasar kepadaku yang membuat aku menentangnya. Ketika aku sampai di Madinah, aku pun mengadukan perlakuannya itu kepada siapa saja yang aku temui di Madinah.

Pada suatu hari, aku menemui Rasulullah yang sedang duduk di dalam masjid. Ketika Rasulullah melihat kedatanganku, aku melihat ke arah beliau dan beliau pun melihat ke arah ku hingga aku duduk dihadapannya. Lalu Rasulullah bersabda kepadaku, “Demi Allah! Sesungguhnya engkau telah menyakitiku wahai Amru.”

Aku pun berkata, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun. Aku berlindung kepada Allah dan agama Islam dari menyakiti hati Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang menyakiti Ali, maka sesungguhnya ia telah menyakiti aku.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Amru bin Shas sebagaimana dalam Al Bidayah. Kata Haitsami, hadits ini telah diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dengan ringkas dan Bazar lebih ringkas lagi.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , | Tinggalkan komentar

Abu Bakar Memuliakan Ali Bin Abu Thalib


Dikeluarkan oleh Ibnu Arabi dari Anas ra katanya: “Suatu ketika Rasulullah sedang duduk di dalam masjid dengan dikelilingi oleh para sahabatnya. Kemudian Ali muncul lalu memberi salam kepada mereka sambil berdiri mencari tempat kosong untuk tempat duduknya. Rasulullah pun melihat ke arah sahabat sambil mencari adakah tempat kosong yang cukup untuk tempat duduk Ali. Ketika itu Abu Bakar sedang duduk di sisi kanan Rasulullah, lalu Abu Bakar pun bergeser dari tempat duduknya sambil berkata kepada Ali, ‘Duduklah di simi wahai Abu Hasan.’ Maka Ali pun duduk di antara Rasulullah dan Abu Bakar.”

Kami pun melihat raut kegembiraan pada wajah Rasulullah , kemudian beliau berpaling ke arah Abu Bakar dan berkata, “Wahai Abu Bakar. Sesungguhnya orang yang mengetahui kelebihan orang-orang yang mempunyai kelebihan, adalah orang yang mempunyai kelebihan.” (Al Bidayah)

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 74


Beliau berkata, “Kelebihan manusia dari makhluk lain ialah karena lisannya dan seyogyanya kelebihan ini digunakan untuk kebaikan. Lisan juga bisa digunakan untuk keburukan. Apabila lisan manusia digunakan untuk kebaikan dan usaha agama, maka ia akan menjadi asbab kebaikan yang sangat luas dan derajatnya akan lebih tinggi dari malaikat. Sebaiknya jika lisannya digunakan untuk keburukan, maka derajatnya menjadi lebih rendah dari binatang seperti anjing dan babi.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 73


Beliau berkata, “Maksud dan Matluub kerja agama ini ialah Ridha Allah dan pahala di akhirat. Nikmat serta berkah yang dijanjikan di dunia ini seperti ketenangan jiwa, kemuliaan, Istikhlaf atau tamkin (kedudukan tinggi), bukanlah maksud tetapi mau’uud (yang dijanjikan). Apa-apa yang kita buat untuk agama mestilah hanya untuk ridha Allah dan kejayaan di akhirat. Kita juga hendaklah yakin akan apa yang dijanjikan di dunia ini bahkan berdoa untuk perkara itu tetapa ianya jangan dijadikan maksud dari ibadah dan ketaatan kita.”

Contoh perbedaan antara maksud dan mau’uud:

Maksud Nikah adalah mendapatkan isteri dan segala faedahnya tetapi seseorang akan juga akan mendapatkan hadiah berupa uang dan barang-barang yang bukan maksudnya. Benda-benda ini seolah-olah sesuatu yang dijanjikan. Sangat bodoh jika seorang menikah dengan maksud hanya menginginkan hadiah-hadiah. Apabila diketahui maksudnya ini oleh isterinya, apakah ada tempat baginya dalam hati wanita itu?”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 72


Dalam bayan ini Maulana telah berkata, “Aturkan khidmat dan senangkan mereka yang harus kamu tunaikan haknya dan kamu mesti taat kepadanya. Kemudian baru kamu keluar untuk tabligh. Buat baik kepada orang tua kamu dan tingkatkan semangat menuntut ilmu serta semangat untuk selalu ishlah diri kamu, agar dengan melihat kemajuan ilmu dan semangat kamu itu maka mereka bukan saja gembira bahkan akan mendukung dan mendorong kamu untuk ikut usaha ini.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 71


Beliau berkata lagi kepada pelajar, “Ketahuilah! Syaithan adalah makhluk yang licik. Dia senantiasa menyerang dalam setiap kesempatan. Kamu telah keluar dari rumah untuk menuntut ilmu maka syaithan kecewa karena kamu tidak lagi jahil. Maka syaithan akan membuat suatu muslihat baru, ‘biarlah kamu menuntut ilmu. Aku akan usaha keras untuk menggunakan kamu dalam kerja-kerjaku.’

“Kerja saya ialah suatu serangan besar terhadap usaha syaithan karena memalingkan hamba Allah dari jalan syaithan dan membawanya ke jalan Allah. Beritahulah, sekarang apakah keputusan kamu?”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 70


Maulana memberi bayan kepada pelajar dari suatu madrasah dengan berkata, “Baritahu, kamu ini siapa?” Beliau sendiri menjawab, “Kamu adalah tetamu Allah dan Rasul-Nya. Jika seseorang tetamu menyusahkan hati tuan rumahnya, maka itu lebih sakit dari kesusahan yang dibuat oleh orang lain. Apabila kamu, penuntut ilmu, tidak membuat kerja yang diridhai Allah dan Rasul-Nya maka kamu ikut jalan yang salah. Katahuilah bahwa kamu adalah tetamu yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar