Posts Tagged With: Malfuudzaat

Malfuudzaat 75


Beberapa hari setelah Hakimul Ummah, Maulana Ashraf Ali Thanwi rah.a. wafat, seorang yang ada hubungan bai’at dengan beliau telah datang dan saya yang berdosa ini telah memperkenalkannya kepada Maulana Ilyas. Beliau berkata, “Mereka yang ada hubungan dan kecintaan yang akrab dengan halqah Syaikh Thanwi perlu diberi takziah. Saya ingin disampaikan takziah kesemua yang ada hubungan dengan Syaikh. Secara khusus untuk menguatkan hubungan dengan Syaikh, medapat keberkahan, meninggikan derajatnya, dan untuk menggembirakan ruh beliau ialah dengan cara istiqamah dengan segala ajaran dan petunjuk yang hak yang telah disampaikan oleh Syaikh serta menyebarkan ajaran beliau. Semakin banyak orang yang mengikuti nasihat Hadzrat Syaikh, maka semakin besar pahalanya dan semakin tinggi derajatnya.”

“Barangsiapa mengajak kepada kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Kemudian beliau berkata, “Inilah cara yang paling tinggi untuk menyampaikan pahala kepada arwah Beliau.”

Iklan
Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 43


Pada suatu ketika beliau berkata, “Maulana! Kesimpulan kerja kita ini agar kaum Muslimin yang awam dapat mengambil manfaat agama dari alim ulama mereka, kemudian menyampaikannya kepada orang-orang yang masih kekurangan (lebih rendah) dari mereka. Namun mereka harus menganggap orang yang kurang dari mereka itu telah berbuat kebaikan kepadanya, karena sebanyak mana kita menyampaikan kalimah tauhid, maka sebanyak itu pula kalimah tersebut akan semakin sempurna dan semakin bercahaya pada diri kita. Dan sebanyak kita menyediakan orang untuk shalat, maka sebanyak itu pula shalat kita akan semakin sempurna.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 41


Pada suatu ketika beliau berkata, “Maulana! Ilmu dan Dzikir sangat penting di dalam tabligh. Tanpa Ilmu, tidak akan dapat beramal dan tidak mengenal amalan. Tanpa Dzikir, ilmu adalah Zhulumat yang sangat gelap. Karkun-karkun kita sangat kurang perkara ini.”

Saya berkata, “Tabligh juga adalah fardhu yang sangat penting maka kesibukan dalam tabligh menyebabkan mereka kurang dalam Dzikir adalah wajar. Begitu juga Hadrat Sayyid Ahmad Berelwy rah. ketika dalam persiapan Jihad, beliau menangguhkan Dzikir para muridnya dan sibuk berlatih menembak, menunggang kuda, dan lain-lain. Lalu ada yang mengadu bahwa mereka tidak merasa nur Dzikir seperti dulu. Sayyid Ahmad rah. berkata, “Benar, nur Dzikir tidak ada lagi tetapi nur Jihad ada dan inilah yang paling utama sekarang.”

Maulana Ilyas rah. berkata, “Namun saya merasa sedih karena kelemahan kita dalam ilmu dan Dzikir lantaran ahli ilmu dan ahli dzikir belum mengambil kerja ini. Seandainya mereka ikuti kerja ini maka kekurangan ini dapat diimbangi. Sayang hingga kini, sangat sedikit ahli ilmu dan ahli dzikir yang mengikuti  kerja ini.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 40


Dalam suatu majelis beliau berkata, “Maksud asal kerja Tabligh kami ialah memalingkan keyakinan manusia dari thaqut dan kembali kepada Allah. Perkara ini tidak dapat dicapai kecuali dengan pengorbanan. Dalam agama ada pengorbanan diri dan pengorbanan harta. Pengorbanan diri adalah keluar meninggalkan kampung halaman karena Allah untuk menyebarkan kalimah Allah dan agama. Pengorbanan harta ialah menanggung sendiri perbelanjaan sewaktu keluar di jalan Allah. Jika diri sendiri ada halangan untuk keluar maka beri semangat dan galakan kepada orang lain agar keluar bertabligh. Dikatakan bahwa, Addaalu ‘alal khairi kafaa’ilihi Orang yang menunkukkan kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti orang yang membuat kebaikan itu.

Sebanyak mana kita usaha agar orang lain keluar bertabligh maka sebanyak itu kita akan mendapat pahalanya. Apabila kita membantu dengan harta maka kita akan mendapat pula pahala pengorbanan harta. Kemudian kita anggaplah orang yang keluar itu telah berbuat kebaikan kepada kita karena ia telah membantu melaksanakan kewajiban kita yang terhalang. Begitulah agama, orang yang tertinggal dan uzur, menganggap orang yang berjuang itu telah berbuat kebaikan kepadanya.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 39


Pada suatu haru, sebelum shalat Jumat, saya telah berkhutbah di Masjid Assembly di Delhi atas kehendak Maulana. Setelah shalat Jumat saya tidak pulang ke Nizamuddin tetapi bermalam di tempat seorang saudara. Esoknya di Nizamuddin saya beri alasan, “Atas permintaan saudara saya, saya terpaksa bermalam di Delhi.” Beliau berkata, “Maulana tidak perlu beri alasan, karkun memang begitu. Jangan bimbang. Ada beri bayan di Masjid Assembly?” Saya jawab, “Ya, ada.” Beliau gembira dan berkata, “Lihatlah, mereka tidak mengundang kita atas alasan tidak ada waktu dan sibuk dengan dunia. Maka kita perlu pergi kepada mereka untuk bertabligh.” Beliau bertanya, “Apakah yang kamu bayankan?” Saya beritahu, “Saya bayan mengenai ayat, Inna fii khalqis samaawaati wal ‘ardhi wakh tilaafil laili wannahaari la ayaati liulil albaab. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pertukaran malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang berakal. (Ali Imran (3) : 190)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berakal ialah mereka yang berfikir mengenai alam ini, mengenali serta senantiasa mengingati Sang Penciptanya, bukan mereka yang terperdaya dengan benda di antara bumi dan langit dan tidak mengenali Rabb nya. Kemudian saya terangkan kepentingan dan hakikat dzikrullah, setelah itu kepentingan tabligh. Beliau berkata, “Perkara itu terlalu tinggi, tidak sesuai dengan majlis itu. Bayan kamu itu sesuai dalam majelis di sini. Yang sesuai di sana ialah ayat ini, wal ladziinajtanabuuth thaaquuta aiya’buduuhaa wa anaabuu ilallahi lahumul busyra fabasysyir ‘ibaad. “Dan orang-orang yang menjauhi thaqut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah bagi mereka kabar gembira, maka hendaknya beri kabar gembira kepada hamba-hamba Allah.” (Az Zumar (39) : 17)

Kemudian beliau berkata, “Majelis di situ masih rendah derajatnya dan ucapan yang sesuai disana ialah, Hadahumullah (Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka).” Saya menjawab, “Ya, benar. Bila datang lagi saya akan sampaikan ayat ini di sana.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | 1 Komentar

Malfuudzaat 38


Beliau berkata, Melihat keberkatan kerja tabligh ini, orang-orang menyangka bahwa kerja sedang berjalan. Padahal, kerja dakwah adalah sesuatu yang lain dan keberkatan adalah sesuatu yang lain pula.

Lihatlah ketika lahir Rasulullah saw, keberkatan telah didzahirkan sedangkan Dakwahnya bermula setelah beberapa tahun kemudian. Maka hendaklah kita fahami. Saya berkata benar bahwa kerja dakwah yang asli belum bermula lagi. Apabila kerja dakwah ini telah bermula maka keadaan muslimin akan kembali seperti keadaannya ketika 700 tahun yang silam. Apabila kerja dakwah yang sebenar tidak bermula maka berlaku keadaan seperti sekarang ini. Ramai orang menganggap bahwa dakwah kita hanyalah seperti pergerakan-pergerakan lain dan ramai karkun yang hilang tujuan. Fitnah yang sepatutnya datang selepas masa beratus tahun, akan datang dalam beberapa tahun. Maka sangat penting perkara ini difikirkan.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 37


Dalam suatu mudzakarah beliau berkata, “Sebuah hadits menyatakan Addunya sijnul mu’min wa jannatul kaafir Dunia adalah penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir”

Maksudnya ialah kita dihantar ke dunia bukan untuk hidup mengikuti kehendak dan keinginan nafsu dan syahwat kita, menjadikan dunia ini surga. Bahkan kita dihantar ke dunia ini untuk melawan hawa nafsu dan mentaati hukum-hukum Allah SWT dimana dunia adalah penjara bagi orang Mukmin. Jika kita hidup mengikuti hawa nafsu seperti orang kafir berarti kita telah menjadikan dunia ini sebagai surga, justru kita telah mengambil hak orang kafir dan dalam keadaan ini nushrah Allah tidak akan bersama orang yang mengambil hak, malah pertolongan Allah akan bersama orang-orang yang diambil haknya.”

Kemudian beliau berkata, “Fikirkanlah perkara ini!”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 36


Saat terakhir saya berada di sana pada pertengahan bulan Juni, Maulana Ilyas rah telah mengucapkan sebuah syair,

“Hidupku akan sebentar lagi berakhir, kasih! Marilah kita hidup bersama untuk beberapa hari. Jika kamu dating setelah daku meninggal, kamu akan gagal dan menyesal.”

Saya sangat terkesan mendengar ucapannya sehingga berlinangan air mata tanpa disadari. Kemudian beliau berkata, “Apakah kamu ingat janjimu?” Saya pernah berjanji untuk melapangkan masa dalam tabligh. Saya menjawab, “Ya saya masih ingat, tetapi sekarang cuaca di Delhi sangat panas. Di bulan Ramadhan ada tartil. Saya akan beri masa selepas Ramadhan.” Beliau menjawab, “Kamu sebut mengenai Ramadhan sedangkan bulan Sya’ban pun saya belum tentu ada harapan.”

(Sepuluh hari sebelum bulan Sya’ban, pada waktu subuh 21 Rajab 1363H/1944M. Beliau kembali kepada Khaliqnya)

Saya berkaya, “Baiklah sekarang juga saya memberi masa untuk Tabligh. Janganlah Maulana susah hati”. Mendengar jawaban saya, berseri-seri wajah beliau lalu memeluk leher saya, mencium kening saya dan memeluk saya dengan dadanya sambil berdoa untuk saya. Kemudian beliau berkata, “Kamu telah mendekati saya. Banyak ulama yang ingin memahami maksud saya tetapi dari jauh.” Kemudian beliau menyebut nama seorang ulama besar dan berkata, “Beliau selalu ikuti kerja dakwah ini. Tetapi jika kamu bertanya, maka saya akan menjawab: Dia belum faham apa yang saya inginkan karena dia menghubungi saya melalui wakil. Bagaimana saya boleh memahamkannya jika wakil itu pun tidak faham. Oleh karena itu saya ingin kamu ikut bersama saya beberapa hari supaya kamu dapat memahami keinginan dan maksud saya. Ia tidak dapat difahami dari jauh. Saya tahu kamu telah ambil bagian dalam dakwah ini memberi taqrir di majelis-majelis dan pendengar mendapat banyak faedah darinya, tetapi bukan dakwah seperti itu yang saya kehendaki.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 21


Pada setiap hari setelah shalat Subuh, Maulana Ilyas rah. Memberi targhib mengenai khidmat dan nusrah usaha agama. Beliau berkata, “Lihatlah, anda semua tahu dan percaya bahwa Allah itu ada dan senantiasa hadir pada setiap saat, justru apakah patut seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk di dalam hal-hal lain? Ini adalah kerugian yang amat besar dan melalaikan kerja agama menyebabkan Allah murka. Sibuk dengan urusan dunia, tidak menghiraukan perintah-Nya adalah sebenarnya menjauhi dan memutuskan hubungan dengan Allah.

Adalah dikehendaki manusia sibuk dengan nusrah kerja agama di samping mentaati perintah-Nya. Senantiasa utamakan perkara yang lebih penting dengan berpandukan kehidupan Rasulullah saw yang merupakan Uswatun Hasanah. Baginda adalah yang paling banyak menanggung kesusahan karena menyebarkan Kalimah Allah dan menyediakan manusia beribadat kepada Allah. Inilah kerja yang paling penting dan unggul dan sibuk dalam kerja ini adalah penghambaan yang sebenarnya.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 20


Beliau berkata, “Manusia lebih mulia dan tinggi dari makhluk lain disebabkan oleh lidahnya. Jika lidahnya digunakan untuk berkata yang baik maka ia akan mencapai kemuliaan dan ketinggian itu. Jika ia berkata yang buruk dan menyakiti orang lain maka derajatnya akan lebih rendah dari pada anjing dan babi, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Dan perkataan manusia akan menyebabkan manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan merangkak dan terseret di atasnya.” Ya Allah jagalah kami.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar