Adab Tidur


adab-tidur# Sebelum tidur disunnahkan berwudhu dulu, sebagaimana wudhu shalat (Bukhari Muslim)
# Sunnah mengibas-ngibas alas tidur sebelum di hamparkan (Bukhari)
# Sebelum tidur hendaknya menghisab diri, yaitu mengoreksi amal perbuatan kita pada hari itu dan berniat akan beramal lebih baik pada hari berikutnya (Umar bin Khattab)
# Sebelum tidur berniat bangun tahajjud. Dan mengajak keluarga bersama sama mengerjakan shalat tahajjud (Bukhari, Muslim, Abu Daud)
# Nabi SAW. Tidur dengan menggunakan bantal yang terbuat dari kulit berisi daun-daun kurma. Dan kasurnya dari kulit. Pada musim dingin akan di lipat tipis dan pada musim panas akan di lipat tebal (Tirmidzi)
# Di sunnahkan tidur dengan posisi dengan tulang rusuk kanan berada di bawah , muka dan badan menghadap kiblat, dan telapak tangan di letakkan di bawah pipi. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
# Hendaknya menjaga aurat, walaupun dikamar sendiri (AlQur’an – tirmidzi, Nasa’I )
# Sesama lelaki atau sesama wanita dilarang tidur dalam satu selimut. (Muslim).
# Anak laki-laki dan perempuan hendaklah di pisahkan tempat tidurnya setelah umur 6 tahun. (Abu Daud, Tirmidzi).
# Sebelum tidur hendaknya menjauhkan benda benda tajam dari sisi kita, seperti : silet, gunting, pisau, dan parang, dsb.
Larangan Pada Tidur
# Dilarang tidur tengkurap, itu cara tidur yang dibenci Allah. (Abu Dawud,Tirmidzi).
# Dilarang tidur hanya berselimut, tanpa berpakaian apapun. (muslim)
# Dilarang menceritakan mimpi buruk kepada siapapun. Disunnahkan menceritakan mimpi baik kepada orang yang dipercayai. (Bukhari).
Qailula (Tidur Siang)
# Sunnah tidur siang (qailula) untuk membantu tahajjud. (Abu Dawud).
# Tidur siang lebih utama dilakukan sebelum waktu Dhuhur (menjelang zhuhur) kecuali pada hari Jum’at. (Imam Nawawi).
# Tidur siang tanpa bangun malam untuk Tahajjud, seperti makan sahur tetapi tidak berpuasa. (Imam Nawawi)
Bacaan Sebelum Tidur
# Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, kemuadian ditiupkan ke telapak tangan dan di usapkan ke seluruh anggota badan, sebanyak tiga kali.(Bukhari,Muslim,Tirmidzi,Nasa’i)
# Membaca surat Al-kafirun. Barang siapa membaca sebelum tidur, akan terhindar dari sifat syirik . (Thabrani,Abu daud,Nasa’i)
# Membaca surat Al-Mulk. Barang siapa membacanya akan terhindar adzab kubur. (Nasa’i)
# Membaca surat Al-Waqiah. Barang siapa membacanya setiap malam akan terhindar dari kelaparan selamanya. (Baihaqi)
# Membaca surat Yaasin. Barangsiapa membacanya, dosa-dosanya diampuni dan dijaga oleh para malaikat, sehingga syetan pun tidak akan mendekatinya.(Ibnu Hibban).
# Dianjurkan beristigfar sebanyak-banyaknya, minimal tiga kali. Dan membaca sedikitnya sepuluh ayat Alquran sebelum tidur malam. Barangsiapa membaca pada malam hari dan ia meninggal dunia, maka ia tidak tergolong orang-orang yang lalai. (Tirmidzi)
# Membaca sayyidul Istighfar sebelum tidur.

Categories: Adab-Adab | Tags: , , | Meninggalkan komentar

12Tipuan Syaithan Untuk Para Dai


  1. Mengabaikan Bayan Hidayah
  2. Mengabaikan Bayan Wabsyi
  3. Mengabaikan Amalan Infiradi
  4. Mengabaikan Amalan Ijtima’i
  5. Mengabaikan keputusan Musyawarah
  6. Tidak Mau Maqomi
  7. Buat Maqomi tapi tidak Ikut Arahan
  8. Tidak memelihara nishab 3 hari
  9. Tidak mau Mendengarkan Nasihat Ahbab Lama
  10. Tidak mau Mendengar Kargozari
  11. Tidak Mau Hadir Musyawarah Halakah
  12. Tidak Mau hadir Musyawarah Markaz
Categories: Amal Maqami, Muzakarah Dakwah | Tags: , , | Meninggalkan komentar

Ijazah Doktor Tafsir Diamalkan Setelah Khuruj 3 Hari


Subhanallah asbab adanya dakwah ummat manusia mengenal Allah ta`ala.

Ana berlatar belakang salafi, dari kecil belajar dari ulama2 salafi, sampai akhirnya ana menemukan hidayah utk mencintai jama`ah tabligh, ana mencoba untuk ikut program khuruj 3 hari bersama jama’ah Madinah waktu ana di malaysia, dan subhanallah muskilah2 yg selama ini tersusun rapi dalam pikiran ana tentang jama`ah tabligh terjawab semua. Ternyata Rasulullah saw pun pernah mengutus rombongan Khalid bin Walid ra ke Najran utk berdakwah selama 3 hari, kemudian pulang ke markaz madinah dg membawa Tasykilan bani Harist bin Ka`ab.

Kepada ikhwan2, mohon bantuan do`a dan dukungan untuk ana yg masih sangat sedikit memahami usaha dakwah yang dihidupkan kembali oleh Syeikh Muhammad Ilyas Al-Kandhalawi rah.a. Setelah ana ikut program khuruj, ikhwan2 salafi banyak yg menghujani ana dengan berbagai pernyataan yang sangat tidak pantas diucapkan, tapi ana bersabar dan ana kembalikan semua kepada Allah ta`ala pemilik kebenaran yg sebenarnya.

Jika ikhwan2 yg tergabung di grup ini sering mendengar fatwa2 miring tentang usaha dakwah ini, itu adalah kerjaan oknum yang baru mempunyai sedikit ilmu tapi sudah takabbur.

Dan sampaikan permohonan maaf ana kepada ikhwan2 tabligh yg pernah ana usir waktu hendak mengadakan khuruj di masjid yg ana kelola. Ternyata pengusiran itu berbuah hidayah. Setelah mengusir jama`ah, ana berangkat umroh dan menceritakan kepada guru ana, Syeikh Mokhtar (imam Masjid Nabawi), ternyata beliau memarahi tindakan ana yg mengusir jama`ah khuruj 3 hari. Akhirnya ana merenung dan selalu terbayang para jama`ah yang ana usir, senyum keikhlasannya terpancar sangat mempesona, dan akhirnya ana putuskan utk meminta restu beberapa Syeikh di masjid Nabawi bahwa ana akan mencoba menyelidiki jama`ah tabligh. Akhirnya Allah ta`ala pilih malaysia sebagai tempat ana bergabung dengan jama`ah tabligh. Sepulang umroh ana satu pesawat dengan jama`ah dari madinah yang hendak khuruj 4 bulan, ana sekursi dengan Ahmad Moorseed orang Yanbu`, dengan kelembutan dan kemuliaan akhlaknya beliau banyak cerita pengalamannya dalam jama`ah tabligh. Akhirnya sesampai di Sri Petaling, ana diajak menjumpai Mulwi (maulana) Hamzah, dari lisan beliau keluar kata2 yg sangat mengetuk hati ana, bahwa yang akan diterima Allah ta`ala bukanlah hujjah yang baik, tapi amal yg baiklah yg akan menjadi ukuran kesuksesan manusia dalam kehidupan setelah mati. Ana langsung sujud syukur dan tak henti2nya menangis, teringat saudara2 yg pernah ana usir dari masjid.

Ana akhirnya diputus oleh musyawarah khuruj bersama jama`ah Madinah sekalian bantu tenaga sebagai mutarjim, ana khuruj di Kelantan.

Setelah khuruj 3 hari rasanya subhanallah, ijazah Doktor Tafsir yg ana dapatkan dari Jami`ah Islamiyyah Madinah baru saja ana amalkan setelah ikut khuruj 3 hari.

Sekarang ana konsentrasi untuk merintis Ma’had Tahfidz Al-Qur`an program 7 bulan, dan alhamdulillah telah meluluskan santri hafidz 30 juz selama 8 bulan yang sekarang sedang melanjutkan belajar di Makkah Al-Mukarromah.

Jika ikhwan2 di grup ini mendapatkan pertanyaan dari ikhwan2 salafi tentang kesesatan jama`ah tabligh versi mereka, maka denga segala keterbasan ilmu ana siap bantu memberikan jawaban, karena ana pernah langsung Mulazamah dengan Syeikh Bin Bazz selama 3 tahun, jadi ana tahu betul fatwa beliau tentang jama`ah tabligh.
Demikian sedikit pengalaman ana setelah ana ikut jama`ah dakwah tabligh.

sumber: Abu Nashir Al-Makki

tambahan: penulis pernah belajar di Ma’had Abu Bakar sewaktu di Pakistan.

tambahan penulis: alhamdulillah ulama2 Haramain udh banyak yg mendukung usaha dakwah jama`ah tabligh, waktu musim haji kemaren ana bawa maulana Ahmad Lath utk khususi dg beberapa Imam Masjidil haram, diantara Syeikh Maheer Al-Muaeqly, Alhamdulilla h beliau ternyata pernah mendapatkan beberapa sanad hadist dari Deoband, jadi nyambung keilmuannya dg ulama2 dakwah…

Categories: Laporan Dakwah | Tags: , , , | 1 Komentar

Fitnah atas kitab Fadhilah amal tentang Kasyaf


Disadur dari https://www.facebook.com/groups/Usaha.Atas.Iman/permalink/1053250651368445/

Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan kitab fadhilah amal yang datang ke ane dari sebagian kamum muslimin yang dalam beberapa statementnya memfitnah dan mengobarkan kebencian kepada jamaah dakwah Tabligh. Di antaranya adalah yang tertulis di dalam kitab fahilah amal tentang kisah seorang yang kasyaf, kemudian mengirim amal sholeh kepada ahli kubur. Dalam kisah diceritakan setelah dikirimi amal sholeh pada ahli kubur, maka ahli kubur tersebut dibebaskan dari adzab yang pedih.

Dalam beberapa statement fitnahnya adalah, mereka menuduh bahwa kisah tersebut menggambarkan adanya syirik dan khurafat. Berbagai dalil disemburkan walau sebenarnya tidak mengenai sasaran. Lain yang gatal lain pula yang digaruk. Its no problemo.

Baiklah, melalui tulisan ini ane akan membantu menjawab. Akan tetapi jangan jadikan tulisan ini sebagai alasan dan dalih untuk ganti menyerang dan memaki jamaah dakwah yang lainnya.

Masalah kasyaf yang mereka kategorikan adalah perbuatan syirik karena mengetahui yang ghaib padahal yang mengetahui yang ghaib hanya Allah ta’ala seperti dalil :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ
“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.” [An-Naml: 65]

Dan beberapa dalil yang semakna dengan hal tersebut. Tidak perlu ane sampaikan semuanya, karena akan membuat penuh halaman ini. Yang penting kita sudah mengetahui maksudnya saja.

Untuk menjawab hal ini, seharusnya kita sepakati dahulu bahwa semua ulama yang berbicara dan mengakui adanya kasyaf adalah pelaku syirik. Jika telah kita sepakati, maka mari kita mulai kupas tentang kasyaf.

Ibnul Qoyyim Al Jauzi di dalam kitabnya Madarijua Salikin, membahas tentang kasyaf sebagai berikut :

Mukasyafah (kasyaf) yang benar merupakan ilmu yang disusupkan Allah ke dalam hati hamba dan menampakkan kepadanya perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain. Namun Allah juga bisa memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat tutupan di dalam hatinya.
Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Yang lebih tebal lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran.
Yang pertama berlaku bagi para nabi, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, “Sesungguhnya ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku
memohon ampun kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali (dalam sehari).”
Yang kedua berlaku bagi orang-orang Mukmin,
dan yang ketiga
bagi orang-orang yang menderita, seperti firman Allah,

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka
usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14).

Ibnul Qoyyim Al Jauzi juga membagi kasyaf menjadi 3, yakni :
1. kasyaf rahmani, yang khusus bagi orang-orang yag beriman,

2. kasyaf nafsani, dan

3. kasyaf syaithani, yang dijelaskan dalam pernyataannya, “Adapun kasyaf juz’i yaitu yang dapat dimiliki oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, juga oleh orang-orang baik maupun orang-orang jahat, seperti: mengetahui apa yang ada di rumah seseorang, tongkat di tangannya, di bawah pakaiannya, atau jenis kelamin janin yang ada dalam kandungan istrinya. Adapun yang tidak terlihat oleh seorang hamba berupa hal-hal yang sangat jauh, terkadang berasal dari setan atau dari dirinya sendiri. Karena itulah, maka hal itu bisa terjadi pada orang-orang kafir, seperti orang-orang yang melakukan kemaksiatan, penyembah api, dan salib.

Contoh kasyaf rahmani adalah kasyaf dari Abu Bakar r.a., ketika beliau berkata kepada Aisyah r.a. bahwa sesungguhnya istrinya mengandung janin perempuan. Kasyaf Umar r.a. ketika beliau berkata, “Wahai pasukan naiklah ke gunung.”

Kemudian coba kita buka lagi penjelasan Ibnu Taimiyah tentang masalah kasyaf ini. Menurut Syiekh al-Islam Ibn Taimiyyah, terdapat 3 jenis Kasyaf (al-Safadiyyah, ms 187) :-

a. Kasyaf yang berlaku apakah di dalam sadar ataupun didalam mimpi. Ia berlaku apabila jiwa berjauhan sedikit dengan badan, apakah akibat latihan rohani atau sebaliknya, Kasyaf ini dinamakan Kasyaf Psikologi. Ibn Qayyim menyifatkan Kasyaf ini sebagai kasyaf Juz’I, yang boleh dilakukan oleh orang Islam dan bukan islam.

b. Kasyaf yang kedua adalah khabaran yang diterima dari Jin atau Syaitan.

c. Kasyaf yang ketiga merupakan yang dibawa oleh Malaikat. Ini merupakan tahap kasyaf yang tertinggi, Ia juga dikatakan Karaamah. Kasyaf jenis ini dikurniakan kepada hamba-hamba yang Allah kasihi.

Contohnya : Abu Bakr ra. pernah memberihau A’isyah bahawa isterinya mengandung anak perempuan. Begitu juga dengan peristiwa Umar ra. ketika didalam satu khutbah pada hari Jumaat, mengarahkan Saariyah menuju kearah bukit. Maka mereka dapati Saariyah telah pergi kearahbukit walaupun jarak diantara Umar dan Saariyah adalah 1 bulan perjalanan. (Madaarij al-Salikin, 3/227).

Setelah ane jelaskan panjang lebar mengenai Ibnul Qoyyim dan Ibnu Taimiyah yang mana mereka ternyata mengakui tentang adanya kasyaf, apakah para penyerang fadhilah amal juga sepakat bahwa Ibnul Qoyyim dan Ibnu Taimiyah adalah pelaku syirik atau bisa kita sebut mereka adalah orang musyrik karena mengakui adanya kasyaf..?!

Bukankah sudah kita sepakati jika orang yang mengakui adanya kasyaf itu adalah pelaku syirik..?! Hingga saat ini, setiap diskusi masalah ini, tidak pernah ada satupun para musuh fadhilah amal yang berani menjawabnya.

Masalah pengiriman amal shalih kepada ahli kubur dan kemudian mereka diperlihatkan bahwa ahli kubur tersebut bebas dari adzab Allah, itu juga sebenarnya telah diceritakan di dalam kitab lainnya selain fadhilah amal, yakni dalam kitab Ar-Ruh karya Ibnul Qoyyim AL Jauzi :

قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !
Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

Nah, jika para musuh fadhilah amal susah payah dengan gigih dan jahatnya menyerang fadhilah amal karena memuat kisah orang diberitahu oleh Allah bahwa amal sholihnya bisa menyelamatkan penghuni kubur, seharusnya mereka juga menyerang habis-habisan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauzi juga karena memuat kisah yang sama.

Dari kisah di atas, akan tampak jelas bahwa para musuh fadhilah amal itu memiliki standar ganda, karena kebencian yang mendalam pada saudara muslimnya. Jika melihat orang di luar jamaahnya seolah-olah semua yang ada pada saudara muslimnya itu dipandang salah dan sesat bagi mereka dengan berbagai macam dalil yang disesuaikan dengan ilmu mereka, tetapi sebaliknya mereka berusaha menutup mata mereka sendiri jika ternyata hal yang sama ditulis oleh ulama yang sudah terlanjur diagungkan oleh mereka.

Memang sulit untuk berbuat adil jika kebencian sudah terlanjur tertanam secara mendalam di dalam hati. Padahal kebalikan dari adil adalah dzalim, dan kedzaliman pada saudara muslimnya adalah sebuah kejahatan. Nasihat ane pada pembenci saudara muslimnya, sungguh sifat jahat saat ini telah bersemayam pada diri antum, apakah kejahatan dan kedengkian serta kedzaliman itu masih ingin antum pelihara..?! Berlakulah bijak, selama nyawa antum masih ada pada raga antum. Sebab jika kejahatan tersebut masih berada pada diri antum, maka semua sudah terlambat. Pahamilah saudaraku..

Artikel ini bukan untuk menyerang salah satu pihak atau jamaah kaum muslimin, tetapi hanya sebagai jawaban atas fitnah yang mereka sebarkan serta semoga bisa menjadi pembuka mata hati saudara-saudara muslim kita yang masih menyimpan kebencian pada jamaah kaum muslimin yang lainnya. Jadi jangan jadikan artikel ini untuk menyerang siapapun. Sehingga penulis tidak mencantumkan nama jamaah apapun di sini.

"‎Menjawab Fitnah atas kitab Fadhilah amal tentang Kasyaf</p>
<p>Atas arahan bhay @[100001345845440:2048:Bayan Aang] dan musyawarah intern dengannya, maka ane diminta untuk menulis tentang menjawab fitnah atas kitab Fadhilah amal ini.</p>
<p>Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan kitab fadhilah amal yang datang ke ane dari sebagian kamum muslimin yang dalam beberapa statementnya memfitnah dan mengobarkan kebencian kepada jamaah dakwah Tabligh. Di antaranya adalah yang tertulis di dalam kitab fahilah amal tentang kisah seorang yang kasyaf, kemudian mengirim amal sholeh kepada ahli kubur. Dalam kisah diceritakan setelah dikirimi amal sholeh pada ahli kubur, maka ahli kubur tersebut dibebaskan dari adzab yang pedih.</p>
<p>Dalam beberapa statement fitnahnya adalah, mereka menuduh bahwa kisah tersebut menggambarkan adanya syirik dan khurafat. Berbagai dalil disemburkan walau sebenarnya tidak mengenai sasaran. Lain yang gatal lain pula yang digaruk. Its no problemo.</p>
<p>Baiklah, melalui tulisan ini ane akan membantu menjawab. Akan tetapi jangan jadikan tulisan ini sebagai alasan dan dalih untuk ganti menyerang dan memaki jamaah dakwah yang lainnya.</p>
<p>Masalah kasyaf yang mereka kategorikan adalah perbuatan syirik karena mengetahui yang ghaib padahal yang mengetahui yang ghaib hanya Allah ta’ala seperti dalil :</p>
<p>قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ<br />
“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.” [An-Naml: 65]</p>
<p>Dan beberapa dalil yang semakna dengan hal tersebut. Tidak perlu ane sampaikan semuanya, karena akan membuat penuh halaman ini. Yang penting kita sudah mengetahui maksudnya saja.</p>
<p>Untuk menjawab hal ini, seharusnya kita sepakati dahulu bahwa semua ulama yang berbicara dan mengakui adanya kasyaf adalah pelaku syirik. Jika telah kita sepakati, maka mari kita mulai kupas tentang kasyaf.</p>
<p>Ibnul Qoyyim Al Jauzi di dalam kitabnya Madarijua Salikin, membahas tentang kasyaf sebagai berikut :</p>
<p>Mukasyafah (kasyaf) yang benar merupakan ilmu yang disusupkan Allah ke dalam hati hamba dan menampakkan kepadanya perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain. Namun Allah juga bisa memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat tutupan di dalam hatinya.<br />
Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Yang lebih tebal lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran.<br />
Yang pertama berlaku bagi para nabi, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa<br />
Sallam, "Sesungguhnya ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku<br />
memohon ampun kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali (dalam sehari)."<br />
Yang kedua berlaku bagi orang-orang Mukmin,<br />
dan yang ketiga<br />
bagi orang-orang yang menderita, seperti firman Allah,</p>
<p>"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka<br />
usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin: 14).</p>
<p>Ibnul Qoyyim Al Jauzi juga membagi kasyaf menjadi 3, yakni :<br />
: kasyaf rahmani, yang khusus bagi orang-orang yag beriman,<br />
kasyaf nafsani, dan kasyaf syaithani, yang dijelaskan dalam pernyataannya, “Adapun kasyaf juz’i yaitu yang dapat dimiliki oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, juga oleh orang-orang baik maupun orang-orang jahat, seperti: mengetahui apa yang ada di rumah seseorang, tongkat di tangannya, di bawah pakaiannya, atau jenis kelamin janin yang ada dalam kandungan istrinya. Adapun yang tidak terlihat oleh seorang hamba berupa hal-hal yang sangat jauh, terkadang berasal dari setan atau dari dirinya sendiri. Karena itulah, maka hal itu bisa terjadi pada orang-orang kafir, seperti orang-orang yang melakukan kemaksiatan, penyembah api, dan salib.</p>
<p>Contoh kasyaf rahmani adalah kasyaf dari Abu Bakar r.a., ketika beliau berkata kepada Aisyah r.a. bahwa sesungguhnya istrinya mengandung janin perempuan. Kasyaf Umar r.a. ketika beliau berkata, “Wahai pasukan naiklah ke gunung.”</p>
<p>Kemudian coba kita buka lagi penjelasan Ibnu Taimiyah tentang masalah kasyaf ini. Menurut Syiekh al-Islam Ibn Taimiyyah, terdapat 3 jenis Kasyaf (al-Safadiyyah, ms 187) :-</p>
<p>a. Kasyaf yang berlaku apakah di dalam sadar ataupun didalam mimpi. Ia berlaku apabila jiwa berjauhan sedikit dengan badan, apakah akibat latihan rohani atau sebaliknya, Kasyaf ini dinamakan Kasyaf Psikologi. Ibn Qayyim menyifatkan Kasyaf ini sebagai kasyaf Juz’I, yang boleh dilakukan oleh orang Islam dan bukan islam.</p>
<p>b. Kasyaf yang kedua adalah khabaran yang diterima dari Jin atau Syaitan.</p>
<p>c. Kasyaf yang ketiga merupakan yang dibawa oleh Malaikat. Ini merupakan tahap kasyaf yang tertinggi, Ia juga dikatakan Karaamah. Kasyaf jenis ini dikurniakan kepada hamba-hamba yang Allah kasihi.</p>
<p>Contohnya : Abu Bakr ra. pernah memberihau A’isyah bahawa isterinya mengandung anak perempuan. Begitu juga dengan peristiwa Umar ra. ketika didalam satu khutbah pada hari Jumaat, mengarahkan Saariyah menuju kearah bukit. Maka mereka dapati Saariyah telah pergi kearahbukit walaupun jarak diantara Umar dan Saariyah adalah 1 bulan perjalanan. (Madaarij al-Salikin, 3/227).</p>
<p>Setelah ane jelaskan panjang lebar mengenai Ibnul Qoyyim dan Ibnu Taimiyah yang mana mereka ternyata mengakui tentang adanya kasyaf, apakah para penyerang fadhilah amal juga sepakat bahwa Ibnul Qoyyim dan Ibnu Taimiyah adalah pelaku syirik atau bisa kita sebut mereka adalah orang musyrik karena mengakui adanya kasyaf..?!</p>
<p>Bukankah sudah kita sepakati jika orang yang mengakui adanya kasyaf itu adalah pelaku syirik..?! Hingga saat ini, setiap diskusi masalah ini, tidak pernah ada satupun para musuh fadhilah amal yang berani menjawabnya.</p>
<p>Masalah pengiriman amal shalih kepada ahli kubur dan kemudian mereka diperlihatkan bahwa ahli kubur tersebut bebas dari adzab Allah, itu juga sebenarnya telah diceritakan di dalam kitab lainnya selain fadhilah amal, yakni dalam kitab Ar-Ruh karya Ibnul Qoyyim AL Jauzi :</p>
<p>قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك</p>
<p>Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.</p>
<p>Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !<br />
Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.</p>
<p>Nah, jika para musuh fadhilah amal susah payah dengan gigih dan jahatnya menyerang fadhilah amal karena memuat kisah orang diberitahu oleh Allah bahwa amal sholihnya bisa menyelamatkan penghuni kubur, seharusnya mereka juga menyerang habis-habisan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauzi juga karena memuat kisah yang sama.</p>
<p>Dari kisah di atas, akan tampak jelas bahwa para musuh fadhilah amal itu memiliki standar ganda, karena kebencian yang mendalam pada saudara muslimnya. Jika melihat orang di luar jamaahnya seolah-olah semua yang ada pada saudara muslimnya itu dipandang salah dan sesat bagi mereka dengan berbagai macam dalil yang disesuaikan dengan ilmu mereka, tetapi sebaliknya mereka berusaha menutup mata mereka sendiri jika ternyata hal yang sama ditulis oleh ulama yang sudah terlanjur diagungkan oleh mereka.</p>
<p>Memang sulit untuk berbuat adil jika kebencian sudah terlanjur tertanam secara mendalam di dalam hati. Padahal kebalikan dari adil adalah dzalim, dan kedzaliman pada saudara muslimnya adalah sebuah kejahatan. Nasihat ane pada pembenci saudara muslimnya, sungguh sifat jahat saat ini telah bersemayam pada diri antum, apakah kejahatan dan kedengkian serta kedzaliman itu masih ingin antum pelihara..?! Berlakulah bijak, selama nyawa antum masih ada pada raga antum. Sebab jika kejahatan tersebut masih berada pada diri antum, maka semua sudah terlambat. Pahamilah saudaraku..</p>
<p>Artikel ini bukan untuk menyerang salah satu pihak atau jamaah kaum muslimin, tetapi hanya sebagai jawaban atas fitnah yang mereka sebarkan serta semoga bisa menjadi pembuka mata hati saudara-saudara muslim kita yang masih menyimpan kebencian pada jamaah kaum muslimin yang lainnya. Jadi jangan jadikan artikel ini untuk menyerang siapapun. Sehingga penulis tidak mencantumkan nama jamaah apapun di sini.‎"

 

Categories: Fadhilah | Tags: , | Meninggalkan komentar

Hukum Menerima/Menolak Jamaah Tabligh di Masjid-Masjid


HASIL BAHTSU MASA’IL PENGURUS CABANG NAHDLATUL ‘ULAMA KABUPATEN JEPARA

MUSHOHIH :
1. KH. Ahmad Kholil (Rois syuriyah) (kalinyamatan)
2. KH. Khumaidurrohman (Wakil Rois) (Jepara)
3. KH. Sya’toni (Mustasyar) (Bate Alit)
4. KH. Mahfudz Shidiq (Wakil Rois) (Kedung)
5. KH. Nafi’uddin Hamdan (Wakil Rois) (Welahan)
6. KH. Ubaidillah (Wakil Rois) (Keling)
7. KH. Kamil Ahmad (Wakil Rois) (Kalinyamatan)
8. KH. Muhsin Ali (Wakil Rois) (Kedung)

PERUMUS :
1. KH. Kholilurrohman (Ketua LBM) (Tahunan)
2. KH. Imam Abi Jamroh (Wakil Katib Syuriyah)
(Tahunan)
3. KH. Mukhlish (Wakil Ketua LBM) (Welahan)
4. KH. Mundziri Jauhari (Wakil ketua LBM)
(Welahan)
5. KH. Hadziq (Anggota LBM) (Welahan)
6. KH. Masduqi ridlwan (A’wan Syuriyah) (Kedung)
7. KH. Ahmad Roziqin (Katib Syuriyah) (Jepara)

JAMAAH TABLIGH
Deskripsi Masalah

Sering kita jumpai sekelompok orang (jamaa’ah) yang singgah di masjid–masjid ataupun musholla. Sebagian masyarakat menyebutnya Jamaah Tabligh, Khuruj, Jaulah, Jama’ah Kompor, Jama’ah jenggot, dan lain–lain.
Di satu tempat mereka diterima dengan baik, dihormati dan dimuliakan seperti lazimnya menerima dan menghormati ilmu, namun ditempat yang lain ada yang menolak untuk singgah di masjid mereka, bahkan diusir dan dihina dengan dalih kecurigaan “jangan–jangan mereka kelompok teroris”, atau “membawa agama baru”, atau “akidahnya menyimpang”, atau “tidak sama dengan kita” dan lain– lain.
Pertanyaan :
A. Bagaimana hukumnya menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita ?
B. Bagaimana hukumnya menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alasan di atas ?
C. Bagaimana hukumnya masuk atau bergabung ke dalam organisasi keagamaan semisal : Jam’iyyah Tabligh, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan lain–lain ?
Jawaban :
A. Hukum menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita adalah SUNNAH selama mereka benar–benar memegang teguh ajaran–ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah ala Ahlussunnah wal Jamaah
Referensi :
1. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya!” yaitu : karena memuliakan tamu merupakan akhlak para Nabi dan orang shalih serta etika Islam… sampai komentarnya… Abu Al-Laits bin Sa’id telah mewajibkan menjamu tamu sehari semalam karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :
“malamnya tamu itu wajib bagi tiap muslim”. Sedanglan para pakar fikih umumnya mengartikannya sebagai sunah. Menjamu tamu merupakan termasuk akhlak mulia dan kebaikan agama. (Al MajalissSaniyah, hal.45)
2. Firman allah Ta’ala :
”Baik yang bermukim disitu (Masjid Al haram)” (QS. Al Hajj : 25) sampai penjelasannya, pengertiannya yaitu seorang yang mukim di masjid dan yang datang disana, sama dalam masalah singgah di sana, siapa saja yang lebih dulu menempati suatu tempat maka itu adalah haknya, dan orang lain tidak boleh mengusirnya.” (Tafsir As – Showy, Juz 3, hal. 120)
B. Hukum menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alasan diatas tidak dibenarkan (tidak boleh) selama mereka tidak menyimpang dari ajaran Al–Qur’an dan As-sunnah ala Ahlus Sunnah wal Jama’ah .
Referensi :
1. Firman Allah (“dan siapakah yang lebih aniaya”) artinya tidak ada yang lebih aniaya (daripada orang yang menghalang–halangi menyebut nama Allah dalam masjid–masjid–Nya”), dengan shalat dan bacaan tasbih. Firman-Nya : daripada orang yang menghalang–halangi, …sampai perkataannya… pengertiannya tidak ada yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang–halangi dzikir menyebut asma Allah di masjid –masjid–Nya.
Tindakan menghalangi itu adakalanya dengan menguncinya, mengosongkan dari orang yang memakmurkannya, merobohkannya, memakan pendapatannya atau ceroboh dalam menunaikan hak–haknya. Yang dipandang adalah umumnya lafal bukan sebab yang khusus. (Tafsir Ash-Showy Juz 1 hal.80 )
2. Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Rahmatullahi ‘alaihi berkata : “Hindarilah mencintai seseorang atau membencinya, kecuali setelah menimbang perbuatannya dengan Kitabullah dan sunnah agar kalian tidak mencintai atau membencinya karena hawa nafsu!” (AnNurul Burhani hal. 55)
C. Hukum bergabung ke dalam organisasi keagamaan adalah boleh, selama tidak menyimpang dari faham Ahlussunnah wal jama’ah.
Penjelasan :
Jika seseorang yakin atau merasa tidak mampu menjaga agamanya dari hal–hal yang bisa merusak agamanya kecuali dengan masuk kedalam organisasi tersebut, maka wajib baginya untuk ikut bergabung, selama organisasi itu menganut faham Ahlus sunnah wal jama’ah.
Referensi :
Pertanyaan :
Sekarang ini telah Nampak kerusakan baik di darat maupun di laut, tersebar di kota maupun desa, kaum muslimin diuji dalam menjaga mereka dan tetap berada dalam hukum–hukum Allah. “Apakah wajib atau tidak bagi tiap muslim di zaman ini untuk bergabung dengan suatu perkumpulan Ahlussunnah wal jama’ah agar bisa menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran beserta melaksanakan kewajibannya membantu iuran bulanan atau selainnya ?”
JAWAB :
Siapa saja yakin atau menyangka dirinya tidak akan mampu menjaga agamanya dan menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran kecuali hanya dengan bergabung bersama perkumpulan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka wajib bergabung dengannya. Pengarang Sullam Taufiq berkata, “Wajib bagi tiap muslim untuk menjaga ke-islamannya serta menjaganya dari perkara yang bisa merusak atau membatalkannya.” (Ahkamul Fuqoha’, Juz 2, hal.96)
Surat Balasan dari Abdul-Aziz bin Abdullah bin Baz di Madinah (Ketua Umum Lembaga Penyelidikan Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Pertimbangan) Tentang Jamaah Tabligh
Assalamu alaikum wr. wb. Amma ba’du.
Saya beritahukan kepada anda bahwa pada saat ini saya tetap berada pada pendapat saya semula mengenai Jamaah Tabligh sebagaimana yang telah saya tulis dalam buku-buku maupun surat-surat, baik dahulu maupun sekarang.
Demikian pula, apa yang telah di tulis oleh pendahulu saya, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, keluarga Asy-Syaikh, semoga Allah mensucikan ruhnya dan menerangi kuburnya, ataupun yang telah di tulis oleh para ulama lain yang telah di kuatkan oleh yang mulia Paduka Raja Abdul-Aziz, semoga Allah merahmatinya, dan Paduka Raja Fahd, semoga Allah melimpahkan taufik kepadanya.
Karena melalui Jamaah Tabligh, Allah telah memberikan manfaat yang amat banyak dan menurunkan hidayah kepada menusia. Yang seharusnya kita perbuat adalah berterimakasih kepada mereka atas usaha dan perjuangannya. Hal yang demikian termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta saling menasihati sesama kaum muslimin.
Hanya saja, saya nasehatkan kepada mereka dan seluruh umat Islam (terutama kaum muda) agar tidak bepergian ke negeri kafir, kecuali bagi orang yang mempunyai ilmu dan bashirah. Karena hal itu akan sangat berbahaya bagi orang yang tidak mengetahui syariat Islam dan dasar aqidah yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw. dan di ikuti oleh para sahabatnya.
Adapun mengenai pertanyaan mereka bahwa saya mencabut pendapat saya mengenai Jamaah Tabligh, itu pernyataan dusta. Bahkan, saya menasehati mereka agar menghentikan ulah tersebut dan saya menganjurkan mereka agar menghadiri pertemuan Jamaah Tabligh dan ikut keluar (khuruj) bersama mereka supaya memperoleh banyak manfaat.
Kemudian, saya meminta kepada mereka agar berhati-hati dalam memberikan pendapat dan agar berpandangan jauh ke depan. Saya juga mengingatkan kepada mereka bahwa sikap penolakan mereka itu akan berakibat buruk di dunia dan akhirat, karena itu hanyalah tipu daya syaitan.
Semoga Allah menyelamatkan kita dari orang-orang yang hendak memalingkan manusia dari seruan agama serta menyibukkan manusia dengan hal-hal yang merusak hati dan banyak bicara.
Ini adalah agama Allah. Kita memohon kepada Allah agar memperlihatkan kebenaran kepada kita dan menetapkan kita di atas kebenaran tersebut, kemudian menampakkan kebatilan kepada kita, dan menjauhkan kita darinya. Sesungguhnya Dia Maha Penolong dan Maha Kuasa atas semua itu.
Semoga Allah melimpahkan rahmatnya ke atas hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw.  Sebagai rahmat bagi seluruh alam, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat. Amiin.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Di terjemahkan dari buku
Maulana Muhammad Ilyas Bayna al Muayyidin Wal Muta’arridlin
Oleh : Ustadz Masrokhan Ahmad
Di terbitkan oleh penerbit Ash-Shaff
Jl. Timoho No. 124 Yogyakarta 55221

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , , , , , , | 7 Komentar

Keputusan Menteri Agama Nomor 70 Tahun 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama


Keputusan Menteri Agama menyatakan bahwa:

Pertama, untuk menjaga stabilitas nasional dan demi tegaknya kerukunan antar umat beragama, pengembangan dan penyiaran agama supaya dilaksanakan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, teposeliro, saling menghargai, hormat menghormati antar umat beragama sesuai jiwa Pancasila;

Kedua, penyiaran agama tidak dibenarkan untuk:

  1. Ditujukan terhadap orang dan atau orang-orang yang telah memeluk sesuatu agama lain;
  2. Dilakukan dengan menggunakan bujukan/pemberian material, uang, pakaian, makanan/minuman, obat-obatan, dan lain-lain agar supaya orang tertarik untuk memeluk sesuatu agama;
  3. Dilakukan dengan cara-cara penyebaran pamflet, buletin, majalah, buku-buku, dan sebagainya di daerah-daerah/ di rumah-rumah kediaman umat/orang yang beragama lain; dan d) Dilakukan dengan cara-cara masuk ke luar dari rumah ke rumah orang yang telah memeluk agama lain dengan dalih apapun.

Ketiga, bilamana ternyata pelaksanaan pengembangan dan penyiaran agama sebagaimana yang dimaksud Diktum Kedua, menimbulkan terganggunya kerukunan hidup antar umat beragama, akan diambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , , | Meninggalkan komentar

WALISONGO ADALAH JAMAAH YANG BERTABLIGH


WALISONGO ADALAH JAMAAH YANG BERTABLIGH

1. TERTIB DAKWAH WALISONGO

Para Wali Songo yang datang ke Tanah Jawa bukan sendiri-sendiri dan tanpa program, beliau meninggalkan keluarga dan kampung halamannya untuk mendakwahkan agama dengan harta dan diri mereka untuk ta’at perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal ini bukan sekedar kebetulan, beliau berkumpul dengan sahabat-sahabat yang lain. Para Da’i dan Wali Allah yang masuk ke Tanah Jawa ini tidak hanya satu rombongan saja seperti anggapan kebanyakan orang. Sesungguhnya semua ada 5 periode atau 5 rombongan. Dalam 1 rombongan semuanya berjumlah 9 (sembilan) orang dan setiap satu rombongan semuanya memiliki keistimewaan atau keahlian sendiri-sendiri yang sangat munasib (kompeten) ada Ahli Tata Negara, Ahli Ilmu Dinniyah atau Agama, Ilmu Teknik, Ahli Seni, dll.

Periode yang ke 1

Amir (pimpinan) rombongan adalah Syech Maulana Malik Ibrohim makamnya di Gresik.
Ma’murnya (anggota) :

1. Syech Maulana Ibrohim As Samarqondi makamnya di Gresik Harjo Tuban

2. Syech Maulana Ishak makamnya di Aceh
3. Syech Maulana Ibrohim Jamadil Qubro makamnya di Pamijahan Jabar

4. Syech Maula Achmad Jamadil Qubro makamnya di Trowulan Mojokerto.

5. Syech Maulana Subakir pulang ke Persia.

6. Syech Maulana Sulthon Hasanuddin makamnya di Banten Lama.

7. Syech Maulana ‘Aliyuddin, adik Sulthan Hasanuddin makamnya di gunung Santri Cilegon.

8. Maaf kitabnya terkoyak karena terlalu kuno, tulisan nama kurang jelas, ada keterangan beliau pulang ke Tigriets – Irak.

 

Periode yang ke 2

Selang 9 tahun Hijriyah datang lagi satu rombongan periode yang ke 2

Amir rombongan Syech Maulana Rochmat yang di kenal dengan julukan Raden Rochmatatau Sunan Ampel karena bertempat di Desa Ampel Dento Surabaya.

Adapun anggotanya yang sebanyak 8 orang itu kebanyakan anggota yang lama disebabkan anggota yang lama sudah berkurang karena wafat, yakni Syech Maulana Ibrohim As Samarqondi yaitu ayah Sunan Ampel Syech Maulana Ibrohim Jamadil Qubro sedangkan Syech Subaqir pulang ke Persia awal tahun ke 8.

Periode yang ke 3

Amir adalah putra tunggal dari Syech Maulana Ishaq wafat di Aceh pada saat mendirikan sebuah Masjid di Banda Aceh. Adapun menurut Kitab Tarihul Auliya’, Syech Maulana Ainulyaqin adalah pengamal fiqih Al Hanafiyah yang sangat istiqomah seperti ayahnya.

Ma’mur atau anggota dari rombongan yang ke 3 ini adalah:

1. Syech Maulana Rohmatulloh yaitu Sunan Ampel, fiqihnya Hanafiyah.

2. Syech Maulana Maghdum Ibrohim atau Sunan Bonang fiqihnya As Syafi’iyah.

3. Syech Maulana Qosim Syarifuddin atau Sunan Drajat Al Hanafiyah.

4. Syech Maulana Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus Al Malikiyah.

5. Syech Maulana Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati Al Hanafiyah.

6. Syech Maulana Fatahillah Al Hanafiyah.

7. Syech Maulana Muhammad Sa’id atau Sunan Kali Jaga pengganti Syech Siti Jennar yang kena HUKUM KISHOS karena melanggar tertib Da’wah pada saat itu.

8. Syech Maulana Ainur Rohmat atau Sunan Sendang 9 km di sebelah barat dari Makam Sunan Drajat di desa Sendang satu kecamatan dengan Sunan Drajat.

Periode yang ke 4

Amir rombongannya adalah Syech Maulana Sulthan Fatahillah yang di kenal sebagai Raden Patah cucu dari Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit sendiri

Ma’murnya kebanyakan orang lama yaitu:

1. Sunan Giri.
2. Sunan Bonang.
3. Sunan Drajat.
4. Sunan Sendang.
5. Sunan Gunung Jati
6. Sunan Muriya yang ber-usia 19th.
7. Syech Maulana Taufiqur Rohman yang nama Tiong Hwoa-nya K. Cheng Hoo As Syafi’iyah.
8. Sunan Kudus.

Periode yang ke 5

Amir rombongan adalah Syech Maulana Umar Syahid atau Sunan Muriya As Syafi’iyah putra Sunan Kali Jaga yang pada saat itu ber-usia 25th.

Ma’mur rombongan ke 5 adalah :
1. Sunan Giri.
2. Sunan Bonang.
3. Sunan Sendang.
4. Sunan Tembayat.
5. Sunan Geseng.
5. Sunan Kudus.
7. Phai Lie Bang .
8. Syech Maulana Taufiqur Rohman nama Tiong Hwoa-nya K. Cheng Hoo.

Perlu diketahui dalam kitab Tarihul Aulya’ bahwa ke lima Rombongan ini mulai dari priode yang pertama sampai yang ke lima semuanya diberi BAYAN HIDAYAH di Masjid Nabawi Madinatul Munawwaroh al Arobiyyah Saudiyyah, sedangkan rombongan yang seterusnya sudah tidak di Bayan Hidayah di Masjid Nabawi lagi.

Di Kerajaan Demak sudah di dirikan Masjid yang menjadi Markaz beliau dan sudah sering di datangkan melalui Negeri Ghujarod (India sekarang). Karena tekanan dari misionaris dari Nederland, Portugis, dan Inggris yang menjajah Asia sehingga sangat banyak Ulama yang dibantai oleh mereka. Untuk menyiasati kejahatan orang-orang kristian pada saat itu, para Da’i kita untuk keluar di Jalan Allah yang sekarang di sebut Khuruj Fii Sabilillah tidak di batasi sebanyak 9 (sembilan) orang lagi dalam satu rombongan, namun program dan tertib Da’wah tetap di jalankan dengan Istiqomah. Seperti nishob, rute perjalanan, program Silaturrohim wilayah yang menjadi tujuan, Musyawarah, Ta’lim, tetap di jalankan seperti bisanya seolah olah tak pernah terjadi suatu apapun, dan tetap TAWAJJUH kepada ALLAH dan tidak terkesan dengan keadaan di luar lingkungan, tetap ta’at pada keputusan musyawaroh. Target utamanya adalah Da’wah, jadi siapapun manusianya diajak ta’at kepada Allah SWT dan ber-Amal Sholeh. Diajak untuk bersama-sama mengamalkan agama, menghidupkan amal-amal agama dan juga amal-amal masjid sebagaimana Masjid Madinah Al-Munawaroh. ternyata tertib dakwah mereka sama dengan tertib dakwah yang dilakukan oleh JT (Jamaah Tabligh), Pergerakan dakwah yg semakin berkembang saat ini.

Sumber kitab TARIKHUL AULIA’ karangan Syeikh Maulana Murodi bin Abdulloh bin Husain bin Ibrohim Al-Asy’ari

2. USAHA DAKWAH WALISONGO DALAM KITAB-KITAB

Ternyata tidak hanya Kitab Tarikhul Auliya Syaikh Maulana Murodi bin Husain bin Ibrohim al Asy’ari saja yang menceritakan tentang perjalanan usaha dakwah para walisongo di nusantara ini. Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah telah menuliskan laporan perjalanannya keliling dunia dalam Kitab Kanzul Ulum.

Di Gresik (daerah Leran) ditemukan batu bertahun 1082 Masehi berhuruf Arab yang menceritakan bahwa telah meninggal seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimunyang beragama Islam. Lalu disekitar tahun 1350 saat memuncaknya kebesaran Majapahit, di pelabuhan Tuban dan Gresik banyak kedatangan para pedagang Islam dari India dan dari Kerajaan Samudra (Aceh Utara) yang juga awalnya merupakan bagian dari Majapahit, disamping para pedagang Majapahit yang berdagang ke Kerajaan Samudra. Juga menurut cerita, ada seorang putri Islam berjuluk Putri Cempa dan Putri Cina yang menjadi isteri salah satu raja Majapahit.

Sangat toleransinya Majapahit terhadap Islam terlihat dari banyaknya makam Islam di desa Tralaya, dalam kota kerajaan, dengan angka tertua di batu nisan adalah tahun 1369 (saat Hayam Wuruk memerintah). Yang menarik, walau kuburan Islam tetap bentuk batu nisannya seperti kurawal yang mengingatkan kalamakara, berangka tahun huruf Kawi, yang berarti bahwa di abad XIV Islam walau agama baru bagi Majapahit tetapi sebagai unsur kebudayaan telah diterima masyarakat. Diketahui pula bahwa para pendatang dari barat maupun orang-orang Tionghoa ternyata sebagian besar beragama Islam, yang terus berkembang dan mencapai puncaknya di abad XVI saat Kerajaan Demak.

Mereka yang dianggap sebagai penda’wah yang sangat giat menyebarkan agama Islam diberi julukan Wali-Ullah dan di Jawa dikenal sebagai Wali Sanga (9), yang merupakan dewan Dakwah/Mubaligh. Kelebihan mereka dibanding kepercayaan/agama penduduk lama adalah tentang kekuatan bathin yang lebih, ilmu yang tinggi dan tenaga ghaib. Sehingga mereka selalu dihubungkan dengan tasawwuf serta sangat kurang dalam pengajaran fiqh ataupun qalam. Mereka tidak hanya berkuasa dalam agama, tapi juga dalam hal pemerintahan dan politik.

Menurut Kitab Kanzul Ulum Ibnu Batutah, Wali Sanga berganti susunan orangnya sebanyak 5 (lima) kali yaitu :

Dewan I tahun 1404 M :

1. Syeh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, ahli mengatur negara, dakwah di Jawa Timur, wafat di Gresik tahun 1419.

2. Maulana Ishaq, asal Samarkand – Rusia, ahli pengobatan, dakwah di Jawa lalu pindah dan wafat di Pasai (Singapura).

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, asal Mesir, dakwah keliling, makam di Troloyo – Triwulan Mojokerto.

4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, asal Maghrib – Maroko, dakwah keliling, makamnya di Jatinom Klaten tahun 1465.

5. Maulana Malik Isro’il, asal Turki, ahli mengatur negara, dimakamkan di Gunung Santri antara Serang Merak di tahun 1435.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar, asal Persia / Iran, ahli pengobatan, dimakamkan di Gunung Santri tahun 1435.

7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina, dakwah keliling, dimakamkan tahun 1462 di samping masjid Banten Lama

8. Maulana Aliyuddin, asal Palestina, dakwah keliling, dimakamkan tahun 1462 di samping masjid Banten Lama

9. Syeh Subakir, asal Persia, ahli menumbali tanah angker yang dihuni jin jahat, beberapa waktu di Jawa lalu kembali dan wafat di Persia tahun 1462.

Dewan II tahun 1436 M :

1. Raden Rahmad Ali Rahmatullah berasal dari Cempa – Muangthai Selatan, datang tahun 1421 dan dikenal sebagai Sunan Ampel (Surabaya) menggantikan Malik Ibrahim yang wafat.

2. Sayyid Ja’far Shodiq, asal Palestina, datang tahun 1436 dan tinggal di Kudus sehingga dikenal sebagai Sunan Kudus, menggantikan malik Isro’il.

3. Syarif Hidayatullah, asal Palestina, datang tahun 1436 menggantikan Ali Akbar yang wafat.

Dewan III tahun 1463 M :

1. Raden Paku / Syeh Maulana A’inul Yaqin pengganti ayahnya yang pulang ke Pasai, kelahiran Blambangan, putra dari Syeh Maulana Ishak, berjuluk Sunan Giri dan makamnya di Gresik.

2. Raden Said atau Sunan Kalijaga, putra adipati Tuban bernama Wilatikta, yang menggantikan Syeh Subakir yang kembali ke Persia.

3. Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Hasanuddin yang wafat.

4. Raden Qosim atau Sunan Drajad kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Aliyyuddin yang wafat.

Dewan IV tahun 1466 M :

1. Raden Patah putra raja Brawijaya Majapahit (tahun 1462 sebagai adipati Bintoro, tahun 1465 membangun masjid Demak dan menjadi raja tahun 1468) murid Sunan Ampel, menggantikan Ahmad Jumadil Kubro yang wafat.

2. Fathullah Khan, putra Sunan Gunung jati, menggantikan Al Maghrobi yang wafat.

Dewan V :

1. Raden Umar Said atau Sunan Muria, putra Sunan Kalijaga, yang menggantikan wali yang telah wafat.

2. Syeh Siti Jenar adalah wali serba kontroversial, dari mulai asal muasal yang muncul dengan berbagai versi, ajarannya yang dianggap menyimpang dari agama Islam tapi sampai saat ini masih dibahas di berbagai lapisan masyarakat, masih ada pengikutnya, sampai dengan kematiannya yang masih dipertanyakan caranya termasuk dimana ia wafat dan dimakamkan.

3. Sunan Tembayat atau adipati Pandanarang yang menggantikan Syeh Siti Jenar

3. SEMBOYAN WALISONGO

Para Walisoongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah :

1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpa pasukan tentara : Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan. Jangan yakin dengan banyaknya jumlah kita, yakin dengan pertolongan Allah swt.

2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap : Kita bergerak jumpa umat dari orang ke orang. jumpa ke rumah-rumah mereka. Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa asbab/ sebab yang nampak.

3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki : Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan. Niat untuk dakwah keseluruh alam, Allah swt yg berangkatkan kita bukan asbab-asbab dunia seperti harta dsb…

4. Senjoto Kalimosodo : Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih….(Kalimosodo : Kalimat Shahadat)

5. Digdoyo Tanpo Aji : Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik, perasaan dan mentalnya namun mereka seakan-akan seperti orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata. Kita dakwah, Allah swt akan Bantu (jika kalian Bantu Agama Allah, maka pasti Allah akan tolong kalian dan Allah akan menangkan kalian)

6. Perang Tanpo tanding : Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat atau bertengkar. dakwah dengan hikmah, kata-kata yg sopan, ahlaq yg mulia dan doa menangis-menangis pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah….bukan dengan kekerasan…. Nabi saw bersabda yg maknanya kurang lebih : ‘Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dgn hikmah) kepada mereka”

7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan : Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya.

8. Mulyo Tanpo Punggowo : Kemuliaan hanya dalam Iman dan Amalan agama bukan dengan banyaknya pengikut. Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi karena menjadi Da’i yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan hidup, maka Allah swt muliakan mereka.

9. Sugih Tanpo Bondo : Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia. Jangan yakin pada harta….kebahagiaan dalam agama, dakwah jangan bergantung dgn harta

10. Kuncara Tanpo Woro-woro : Menyebar, terkenal tanpa gembar-gembor, propaganda, iklan-iklan dsb

artinya bergerak terus jumpa umat, kerja untuk umat, kerja untuk Agama dengan ikhlas karena mengharap Ridho Allah swt, tidak perlu disiar-siarkan atau di umum-umumkan. Allah sajalah yang menilai perjuangan kita.

4. PESAN WALISONGO SUNAN KALIJOGO

1. Yen kali ilang kedunge : jika sungai sudah mulai kering… jika sumber air sudah mulai kering.. maksudnya jika para alim ulama sumber ilmu sudah mulai wafat satu persatu…maka ini alamat bahwa dunia mau di-Qiamatkan Allah SWT. Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati2 manusia yang gelap tanpa cahaya hidayah..

2. Yen pasar ilang kumandange : Jika pasar sudah mulai diam.. maksudnya jika perdagangan sudah tidak dengan tawar-menawar karena banyaknya mall dan pasar swalayan yang berdiri. kata orang2 tua kita dahulunya semua pasar memakai sistem tawar menawar sehingga suaranya begitu keras terdengar dari kejauhan seperti suara lebah yang mendengung.. ini kalo aku boleh beri istilah adalah adanya kehangatan dalam social relationship dalam masyarakat.. tapi sekarang sudah hilang…biarpun kita sering ke plasa atau ke supermarket ratusan kali kita tidak kenal para pelayan dan cashier di tempat itu..

3. Yen wong wadon ilang wirange : Jika wanita sudah tidak punya rasa malu Belum menutup auratnya, dsb

4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi : Bermujahadah, susah payah berkelana dalam perjalanan ruhani guna memperbaiki diri atau perjalanan fisabilillah menjelajahi desa-desa/ negara-negara, menghitung pintu (bersilaturahim) jangan pulang2 sebelum selesai program 4 (empat) bulan, cari petunjuk, hidayah dan kepahaman agama dari Dzat yang Maha Kuasa..

Semoga bermanfaat
Wallahu’alam

Prof. DR. KH Imam Buchori Musliem, LC telah memberikan artikel tentang usaha dakwah para walisongo di nusantara yang diambil dari sumber kitab TARIKHUL AULIA’ yaitu dari kakek buyutnya sendiri Syeikh Maulana Murodi bin Abdulloh bin Husain bin Ibrohim Al-Asy’ari, sekitar 421 tahun yang lalu.

Baca lebih lanjut

Categories: Kisah Dakwah | Tags: , , , | 2 Komentar

Khutbah Jumat Mufti Lutfi Yusuf Al Banjari – Janji Allah Di Akhir Zaman


Khutbah Jumat Mufti Lutfi Yusuf Al Banjari tentang kebenaran Al Quran dan janji Allah di akhir zaman yang pasti terjadi : Selamat menyimak semoga bermanfaat!

Categories: Bayan | Tags: , , , | 1 Komentar

Masjid Markaz Dakwah Di Berbagai Negara


Berikut adalah gambar masjid di beberapa negara :

Markaz Dakwah Dunia. Masjid Banglawali. 168 W. Nizamuddin. New Delhi. INDIA

Markaz Dakwah Dunia. Masjid Banglawali. 168 W. Nizamuddin. New Delhi. INDIA

Baca lebih lanjut

Categories: Jemaah Tabligh | Tags: , , | 2 Komentar

Maulana Ilyas yang Berketurunan Bani TAMIM adalah “LELAKI DARI TIMUR” Pemegang Panji-Panji AL MAHDI ?


Dari situs http://megachannelz.blogspot.com/2014/03/maulana-ilyas-yang-berketurunan-bani.html?spref=fb

Dari Abdullah bin Al-Haris ra katanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Akan ada orang-orang yang keluar dari sebelah Timur, lalu mereka mempersiapkan segala urusan untuk Al-Mahdi, yakni pemerintahannya.” (HR. Ibnu Majah & At-Tabrani)

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa salam telah mengambil tangan Ali dan bersabda : “Akan keluar dari sulbi pemuda ini (Ali) yang memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Putera dari Bani Tamim (dari keturunan Abu Bakar), dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi” (HR. Tabrani dalam Al Ausat Dari kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti)


Di antara sifat-sifat yang melekat pada Pemuda Bani Tamim adalah :
Baca lebih lanjut

Categories: Tokoh Dakwah | Tags: , , , | 7 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.