Peta Timurnya Mekkah dan Madinah


screen-7

Peta Dunia, Negara-Negara yang berada di Timur Mekkah dan Madinah

Banyak Hadits Nabi tentang akhir zaman yang menyatakan pemimpin Islam akhir zaman berasal dari TIMUR, adapula yang menyebut Khurasan. Setelah melihat Peta Dunia saya dapati beberapa negara yang berada sejajar sebelah kanan dari Mekkah dan Madinah, yaitu:

  1. Qatar
  2. Uni Emirat Arab
  3. Pakistan
  4. India
  5. Banglades
  6. Myanmar

Hal ini saya lihat ketika diajak ikut rekrutmen pengajian NII di tahun 1996 di daerah Kali Malang, si Pemateri mengatakan bahwa kebangkitan Islam dari Timur adalah dari Negara Indonesia. Lalu ketika selesai materi saya bertanya, tolong lihat Peta Dunia dan lihat negara mana yang terletak di Timur dari Mekkah dan Madinah. Ternyata tidak ada Indonesia.

Negara-negara yang termauk Khurasan adalah:

  1. Iran
  2. Afghanistan
  3. Pakistan
  4. India Utara
  5. Uzbekistan
  6. Turkmenistan, dan
  7. Tajikistan

Kalau digabungkan, maka ada irisan dua negara, yaitu: Pakistan dan India. Wallahu ‘alam.

 

 

Categories: Religion | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Jamaah Masturah dari Afrika Selatan


Sabtu, 12 November 2016, pagi-pagi ketika sudah siap-siap berangkat kerja, tiba-tiba datang tamu, dua orang shalih. Saiful -Ahbab Depok Pancoran Mas- dengan seorang Ahbab dari Afrika Selatan. Namanya Haji Ayub. Kebetulan sama berhaji tahun ini 1437H. Beliau adalah Amir jamaah masturah yang berjumlah 3 pasang. Salah seorang anggota rombongannya meninggal dunia ketika khuruj di Depok, Indonesia. Di bawah ini adalah saduran dari post yang ada di grup di Facebook.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ustadz Abu Bakar jamaah masturoh dari Afrika Selatan berbaju hijau syahid di tangerang selatan meninggal saat khususi. Sebelumnya sempat gerak di halaqoh Cilodong, Pancoran Mas, dan Cilodong depok

———-
Pesan dr Almarhum waktu pagi selesai sarapan sekitar jam 07.45 waktu Pancoran dan sekitarnya:

15181671_10208828228918367_1846361354388117160_n

Ustadz Abu Bakar. Almarhum berbaju hijau, nomor dua dari kiri.

“Kerja Dakwah ini Mulia.
Ini Kerjanya Allah Ta’ala.
Para Nabi Allaihimus Salam diberikan Kerja ini.
Dan Sekarang Umat Nabi saw teruskan Kerja yg Mulia ini, karena Allah Tidak Ciptakan Nabi lagi sampai hari kiamat nanti.
Mereka datang jauh dari Capetown, South Africa untuk teruskan kerja yg Mulia ini.
Bersedia kah kalian ambil Kerja yg Mulia ini Saudara…?
Nanti kita berkumpul semua di Mekkah, karena kerja Dakwah akan dikembalikan ke Mekkah.
Kita bisa bertemu di Mekkah nanti…”

Ternyata, Dia duluan yg sudah Allah Subhanahu wa ta’ala panggil…

Selamat Jalan Mujahid, Sahabatku.. Saudaraku..

Insya Allah..Allah Ridho dengan Kalian…

Aamiin ya Allah… :’)
(kargozari dr ahbab Jakarta via WA)

Categories: Laporan Dakwah | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Malfuudzaat 75


Beberapa hari setelah Hakimul Ummah, Maulana Ashraf Ali Thanwi rah.a. wafat, seorang yang ada hubungan bai’at dengan beliau telah datang dan saya yang berdosa ini telah memperkenalkannya kepada Maulana Ilyas. Beliau berkata, “Mereka yang ada hubungan dan kecintaan yang akrab dengan halqah Syaikh Thanwi perlu diberi takziah. Saya ingin disampaikan takziah kesemua yang ada hubungan dengan Syaikh. Secara khusus untuk menguatkan hubungan dengan Syaikh, medapat keberkahan, meninggikan derajatnya, dan untuk menggembirakan ruh beliau ialah dengan cara istiqamah dengan segala ajaran dan petunjuk yang hak yang telah disampaikan oleh Syaikh serta menyebarkan ajaran beliau. Semakin banyak orang yang mengikuti nasihat Hadzrat Syaikh, maka semakin besar pahalanya dan semakin tinggi derajatnya.”

“Barangsiapa mengajak kepada kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Kemudian beliau berkata, “Inilah cara yang paling tinggi untuk menyampaikan pahala kepada arwah Beliau.”

Categories: Tertib Dakwah | Tags: | Tinggalkan komentar

Rasulullah Melarang Berjihad Orang yang Menyakiti Tetangganya


Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Al Ausath dari Abdullah bin Umar r.huma, katanya: Rasulullah saw berangkat dalam satu peperangan dan beliau bersabda, “Orang-orang yang telah menyakiti tetangganya tidak boleh menyertai kita pada hari ini.”

Maka seorang lelaki dari mereka berkata, “Aku telah buang air kecil di ujung tembok tetangaku.”

Rasulullah saw bersabda, “Karena itu, janganlah kamu menyertai kami pada hari ini.”

Categories: Adab-Adab, Muzakarah Dakwah | Tags: , | Tinggalkan komentar

Hak Tetangga


Dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu’awiyah bin Haidah ra, katanya: Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah! Apakah hak tetanggaku?”

Rasulullah saw bersabda,

  1. Jika ia sakit, hendaklah kamu menjenguknya,
  2. Jika ia wafat, hendaknya kamu mengantar jenazahnya ke kubur,
  3. Jika ia meminjam, hendaknya kamu memberi pinjaman kepadanya,
  4. Jika ia melakukan keburukan, hendaknya kamu menutupi keburukannya,
  5. Jika ia ditimpa musibah, hendaknya kamu berbelasungkawa kepadanya,
  6. Jangan meninggikan bangunanmu lebih tinggi dari bangunannya, lalu menyebabkan angin terhalang memasuki rumahnya, dan
  7. Jangan menyakitinya dengan bau masakanmu melainkan kamu memberikan sedikit dari masakanmu itu.” (Al Kanz)
Categories: Adab-Adab, Muzakarah Dakwah | Tags: , | Tinggalkan komentar

Kisah Muawiyah dengan Saad Berkenaan dengan Ali ra.


Dikeluarkan oleh Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi dari Amir bin Saad bin Abi Waqas dari bapaknya, bapaknya berkata: Muawiyah bin Abu Sufyan memerintahkan Saad dengan berkata, “Apakah yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab (gelar yang diberikan Rasulullah untuk Ali)?”

Saad berkata, “AKu akan menyebutkan tiga hal yang disabdakan oleh Rasulullah, yang jika satu darinya aku miliki, maka lebih aku sukai daripada unta merah:

  1. Pertama, dalam perang Tabuk Rasulullah menghendaki Ali tinggal di Madinah, maka Ali berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Apakah engkau meninggalkanku bersama dengan kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah pun bersabda, ‘Apakah kamu ridha sekiranya kamu memperoleh kedudukan di sampingku sebagaimana Nabi Harun di sisi Musa as, sedangkan tiada Nabi selepasku.”
  2. Aku juga mendengar Rasulullah pada hari perang Khaibar, ‘Aku akan memberikan Panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Panggilah Ali supaya datang menemuiku.’ Kemudian Ali datang dan ia sedang sakit mata, lalu beliau meludahi kedua mata Ali kemudian menyerahkan panji itu kepadanya. Allah telah memberikan kemenangan kepada umat Islam.
  3. Ketika ayat ini diwahyukan kepada Rasulullah, Rasulullah pun memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein kemudian bersabda, ‘Wahai Allah mereka ini adalah ahli keluargaku.’

3_61

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Umar Menentang Orang yang Mencerca Ali ra.


Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Urwah ra, bahwa seorang lelaki telah mencerca dan menghina Ali dihadapan Umar bin Khattab. Maka Umar pun berkata, “Apakah kamu tahu pemilik kubur ini, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dan apakah kamu mengetahui mengenai Ali bin Abdul Muthalib? Janganlah kamu berkata-kata mengenai Ali kecuali dengan kebaikan karena sesungguhnya jika kamu menyakitinya, maka kamu telah menyakiti penghuni kubur ini (Rasulullah) dalam kuburnya.” Al Muntakhab.

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Sabda Rasulullah, “Barangsiapa Menyakiti Ali, maka Ia Telah Menyakiti Aku.”


Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dari Amru bin Shah Al Aslami ra, seorang sahabat yang menyertai perjanjian Hudaibiyah, katanya: Aku bersama dengan Ali dalam pasukan yang dikirim oleh Rasulullah ke Yaman. Ali telah berlaku kasar kepadaku yang membuat aku menentangnya. Ketika aku sampai di Madinah, aku pun mengadukan perlakuannya itu kepada siapa saja yang aku temui di Madinah.

Pada suatu hari, aku menemui Rasulullah yang sedang duduk di dalam masjid. Ketika Rasulullah melihat kedatanganku, aku melihat ke arah beliau dan beliau pun melihat ke arah ku hingga aku duduk dihadapannya. Lalu Rasulullah bersabda kepadaku, “Demi Allah! Sesungguhnya engkau telah menyakitiku wahai Amru.”

Aku pun berkata, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun. Aku berlindung kepada Allah dan agama Islam dari menyakiti hati Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang menyakiti Ali, maka sesungguhnya ia telah menyakiti aku.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Amru bin Shas sebagaimana dalam Al Bidayah. Kata Haitsami, hadits ini telah diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dengan ringkas dan Bazar lebih ringkas lagi.

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , | Tinggalkan komentar

Abu Bakar Memuliakan Ali Bin Abu Thalib


Dikeluarkan oleh Ibnu Arabi dari Anas ra katanya: “Suatu ketika Rasulullah sedang duduk di dalam masjid dengan dikelilingi oleh para sahabatnya. Kemudian Ali muncul lalu memberi salam kepada mereka sambil berdiri mencari tempat kosong untuk tempat duduknya. Rasulullah pun melihat ke arah sahabat sambil mencari adakah tempat kosong yang cukup untuk tempat duduk Ali. Ketika itu Abu Bakar sedang duduk di sisi kanan Rasulullah, lalu Abu Bakar pun bergeser dari tempat duduknya sambil berkata kepada Ali, ‘Duduklah di simi wahai Abu Hasan.’ Maka Ali pun duduk di antara Rasulullah dan Abu Bakar.”

Kami pun melihat raut kegembiraan pada wajah Rasulullah , kemudian beliau berpaling ke arah Abu Bakar dan berkata, “Wahai Abu Bakar. Sesungguhnya orang yang mengetahui kelebihan orang-orang yang mempunyai kelebihan, adalah orang yang mempunyai kelebihan.” (Al Bidayah)

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Merasa Selalu Diawasi Allah SWT


11892274_1657813604455902_8283236819352024380_n

Guru Biasa Juga Belajar Dengan Murid

Terkisah dari Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah. Di satu pagi, seorang santri menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. “Wahai Tuan Guru, semalam aku mengkhatamkan Alquran dalam sholat malamku.”

Sang Guru tersenyum. “Bagus Nak. Nanti tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Alquran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.”
Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. “Tuan Guru,” katanya, “Semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Alquran itu.”

“Engkau sungguh telah berbuat baik,” ujar sang guru sembari menepuk pundaknya. “Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para sahabat Nabi yang telah mendengar Alquran itu langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.”

Pagi-pagi buta, sang murid kembali menghadap dan mengadu. “Duh Guru,” keluhnya, “Semalam bahkan hanya sepertiga Alquran yang dapat aku lafalkan.”

“Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru mengelus kepala si santri. “Nanti malam bacalah Alquran dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Orang yang kepadanya Alquran diturunkan.”
Seusai shalat Shubuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?” “Aku hanya mampu membaca satu juz, Guru,” kata si santri sambil mendesah, “Itu pun dengan susah payah.”

“Masya Allah,” kata sang guru sambil memeluk sang santri dengan bangga. “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Alquran. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang engkau baca.”
Keesokan harinya, ternyata santri itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguknya. “Ada apa denganmu?” tanya Sang Guru.

Sang santri berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Tuan Guru,” ujarnya, “Semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Walaupun, Cuma al-Fatihah aku tak sanggup menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah” tapi jauh di dalam hatiku aku tahu, aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

“Nak…,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat di hari ini.

Categories: Bicara Iman Yakin | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.