PENGORBANAN HAJI ABDUL WAHAB SAAB (RAH.A) DAN PENDIRIAN MARKAZ RAIWIND (Diterjemahkan dari Bayan Bahasa Urdu oleh Maulana Tariq Jameel DB)

9 Juli 1953 merupakan Ijtima pertama yang diadakan di Raiwind dan Maulana Yusuh Rah.A juga hadir dalam ijtima tersebut. Pembangunan pertama pada tahun 1951, namun baru pada tahun 1953 ijtima diadakan. Hanya ada sedikit orang pada masa itu, sehingga satu pondok digunakan sebagai masjid, dan pondok lainnya digunakan sebagai lokasi ijtima. Sesudah ijtima usai, Maulana Yusuf Rah.A mengumpulkan orang-orang lama dan mulai memberikan targhib. Beliau berkata, “Ini adalah markaz, dan sebuah markaz akan hidup dengan pengorbanan. Markaz yang dibangun dengan kekayaan akan menjadi asbab korupsi di masa depan. Sementara markaz yang dibangun dengan pengorbanan harta dan diri akan menjadi asbab hidayah di masa depan. Kami ingin markaz ini agar hidup, jadi siapa di antara yang hadir ini bersedia untuk berbai’at hingga mati?”

Ini bukanlah tasykil 4 bulan atau 40 hari. Apa maksudnya ? Maksudnya adalah saya akan menghabiskan hidup saya untuk usaha ini. Hari ini kita memperlakukan kerja tabligh seperti pengemis dan kita memberikan apa yang tersisa dari harta kita. Seperti seseorang yang meminta satu rupee dan kita memberikannya pada mereka. Seperti kita ditasykil untuk keluar 40 hari dan 40 hari yang kita berikan adalah sisa dari kesibukan sehari-hari kita. Maulana Yusuf Rah.A berkata “…..bukan 4 bulan atau 40 hari, tapi ini adalah kerja untuk tujuan hidup umat dan kita mesti membawa umat kepada pemahaman ini. Saya membutuhkan orang-orang yang bersedia berbai’at pada saya meskipun mereka mungkin akan menghadapi kematian, mereka tetap tidak akan meninggalkan markaz ini.”

Selanjutnya Maulana Yusuf Rah.A berkata, “Kalian mungkin akan kelaparan dan tidak mendapatkan makanan, namun kami tidak bertanggungjawab untuk makanan kalian. Kalian mungkin akan kelaparan dan tidak mendapatkan minuman, namun kami tidak bertanggungjawab untuk minuman kalian. Kalian mungkin akan sakit dan tidak mendapatkan perawatan, namun kami tidak bertanggungjawab untuk perawatan kalian. Dalam semua kesulitan ini, kalian tidak diijinkan untuk pergi. Sekarang katakan pada saya, siapa yang bersedia untuk hal ini.”

Ini adalah sebuah tasykil yang hebat, berikutnya 18 orang memberikan nama mereka. Orang pertama yang berdiri adalah Haji Abdul Wahab Shab Rah.A. Bila seseorang berdiri, maka ia akan dipanggil ke depan. Ia akan diingatkan, kalian akan kelaparan dan kalian harus tahan, kalian akan kehausan dan kalian harus tahan, kalian akan sakit dan kalian harus tahan. Kalian tidak boleh lari meskipun kalian akan menghadapi kematian. Mereka akan ditanya lagi, “apakah kalian masih bersedia?”. Bila orang itu menjawab iya, maka ia akan dipisahkan dari majma’.

Haji Mushtaq Sahb Rah.A adalah orang lama lain yang hadir dalam bayan tersebut dan beliau berkata Mewaji Mehrab Rah.A mulai memberi saya targhib agar saya mencatatkan nama juga. Saat Maulana Yusuf Rah.A melihat ini, beliau menegur Mewaji Mehrab Rah.a dan berkata, “Jangan ada yang memberikan targhib, siapa yang berdiri hendaknya berdiri karena kemauannya sendiri. Jika ditarghib, besok saat menghadapi kesulitan, maka ia akan protes kepada yang memberi targhib, kamu sudah menjebak saya, meletakkan saya dalam kesulitan yang saya tidak bisa hadapi. Anda hendaknya berdiri karena kemauan anda sendiri.” Maulana Yusuf Rah.A mengambil bai’at dari 18 orang tersebut dan meminta janji mereka untuk tidak pergi meskipun harus mati. Semua 18 orang tersebut tetap tinggal di Raiwind hingga wafatnya.

Hafiz Sulaiman Rah.A adalah satu dari ke 18 orang tersebut dan beliau menceritakan bahwa tiga hari kelaparan itu sesuatu yang biasa. Beliau berkata, “Terkadang kami mengalami kelaparan yang luar biasa, lalu Allah Hantar makanan, kami bersyukur pada Allah, lalu tiba-tiba ada tamu datang, sehingga Mewaji Mehrab Rah.A (khadim Maulana Ilyas Rah.A) mengambil makanan tersebut lalu dihidangkan kepada para tamu. Kami membagi sebuah roti menjadi empat. Rotinya terbuat dari jagung atau barley dan sangat jarang kami mendapatkan roti gandum. Sangat jarang kami melihat kari. Biasanya kami memakan cabai yang dikeringkan dan garam yang dicampur dengan air untuk membuat kari lalu kami makan dengan roti. Sejauh mata memandang tidak ada orang. Tidak ada orang datang, tidak ada orang pergi, tidak ada yang bertanya bagaimana kondisi kami. Kami mengambil kayu bakar dari semak-semak dan membawanya di atas kepala kami dan saat kami turunkan, ada ular di dalamnya.” Hafiz Sulaiman Rah.A selanjutnya menceritakan bahwa suatu ketika selama delapan belas hari tidak ada makanan dan kami berdoa agar Allah Hantar makanan untuk kami. Delapan belas hari tidak ada makanan, lalu sekarang ada delapan belas masakan dalam meja kita hari ini. Sesudah delapan belas hari, saya dapat kabar bahwa anak perempuan saya sakit dan dalam kondisi sakaratul maut dan saya harus datang mengunjunginya. Saya datang ke anak perempuan saya dan saat sampai rumah anak perempuan saya dalam keadaan sakaratul maut. Sanak saudara saya datang dan mereka membawa kari dan roti. Beliau berkata ketika saya melihat itu, saya lupa akan sakitnya anak perempuan saya dan bersegera makan. Para tamu berkata bahwa saya ayah yang tidak berperasaan, tapi tidak banyak yang tahu bahwa saya sudah 18 hari tidak makan.

Suatu ketika Mewaji Mehrab Rah.A berkata kepada 18 awwalun Raiwind ini, “Nikmatilah hari-hari kelaparan ini, karena tidak akan lama. Sesudah itu tidak akan ada lagi kelaparan di markaz ini.” Ini adalah mezaaj dakwah. Sesudah pengorbanan, dunia akan takluk di hadapanmu.

Categories: Bayan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: