Posts Tagged With: Yaqoob

Terjemahan Surat Maulana Yaqoob Sb. (DB)


Kepada sekalian saudara-saudara pekerja Agama,
Di Nizamuddin saya telah menggunakan masa lebih dari 15 tahun bersama Maulana
Yusuf (Rah.) dan setelah itu hampir 30 tahun bersama Maulana Inamul Hasan
(Rah.). Selama masa yang panjang 50 tahun tersebut, Allah telah merahmati saya
dengan pertemanan yang penuh barokah dengan kedua ‘orang tua’ itu, dan saya
telah berkesempatan, berulang kali, baik dalam khuruj maupun di Nizamuddin,
menikmati masa bersama beliau-beliau. Allah swt. telah memberi kesempatan
kepada saya mengambil bagian dalam usaha agama yang mulia ini di bawah
bimbingan dan pengawasan kedua ‘orang tua’ itu. Berdasarkan keikutsertaan saya
yang terus-menerus ini, saya dapat menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa
usaha ini sekarang telah diselewengkan dari jalur dimana usaha ini telah dibangun
oleh para ‘orang tua’ pendahulu itu.
Meskipun, kedua ‘orang tua’ itu secara bulat suara diakui sebagai Amir di masa
mereka masing-masing, namun mereka sendiri tidak pernah menuntut keamiran
tersebut, dan tidak pernah berbicara dengan nada ‘penguasa’. Mereka tidak pernah
memaksakan pandangan atau pendapat pribadi mereka. Mereka selalu mentaati
musyawarah. Hari ini, keadaan sudah benar-benar terbalik. Terdapat pemaksaan
keamiran yang diproklamirkan diri sendiri, dan barangsiapa yang tidak menerimanya,
akan dipaksa menerimanya dengan berbagai macam cara. Akibatnya, timbul
kekacauan yang sedemikian rupa di dalam Nizamuddin sehingga berujung
pertengkaran, caci maki, bahkan sampai penganiayaan yang brutal.
Nizamuddin, yang dahulunya pusat untuk fikir Ummat, pusat islah diri dan persiapan
akhirat, dimana setiap orang dapat menggapai sifat-sifat tersebut, suasana tempat
mulia ini telah berubah menjadi suasana menggunjing, kecurigaan, dan fitnah.
Perencanaan terus-menerus dibuat untuk menjatuhkan dan menjelekkan siapa pun
yang berupaya menjalankan usaha ini cara yang benar (Manhaj). Suatu gagasan
sedang dipropagandakan kepada ummat bahwa keselamatan (dunia & akhirat)
hanya dengan tunduk kepada Ameer (yang memproklamirkan dirinya sendiri) (tidak
mengapa selepas itu amal anda seperti apa). Jika anda tidak mau tunduk patuh, atau
memiliki pendapat yang berbeda, kamu tidak akan selamat dunia/akhirat.
Suasana memperbaiki diri, persiapan untuk akhirat, dan pencapaian Fikr/risau
Ummat telah menghilang dari Nizamuddin. Sebagai gantinya, suasana diktator,
penguasa tunggal, dan keinginan manfaat duniawi telah diwujudkan.
Atas maksud baru ini sistim bai’at massal sudah ditetapkan. Padahal, Syura yang
dibentuk selama hayatnya Hadratji Maulana In’amul Hassan (Rah.) secara bulat suara
telah memutuskan dan menghentikan ba’at ini, bukti tertulis tersedia dengan
tandatangan seluruh Syura itu yang dibentuk semasa hayat Hadratji (Rah.).
Inovasi-inovasi yang tidak ada selama masa kedua ‘orang tua’ dahulu, yang saat
sedang disebarluaskan tanpa musyawarah adalah:
Pertama: ‘Da’wah-Taklim-istiqbal’, ini adalah istilah baru yang diada-adakan, yang
tidak ada di zaman ‘orang tua’ da’wah kita sebelumnya. Sekalipun sekarang
namanya dirubah menjadi ‘Tamer-e-masjid’ namun konsepnya sama, dan akibatnya
kepentingan usaha harian dari pintu ke pintu dan jaulah umumi sudah menipis.
Kedua: Membatasi usaha atas ‘khawas’ dan berbagai ‘taqbat’ (kelompok khusus)
dari Ummat ini, yang merupakan amalan yang lazim pada masa ‘orang tua’ kita. Para
Khawas dan orang dari berbagai kelompok khusus itu, biasanya, lambat laun akan
bergabung dalam amal maqomi di Masjid mereka masing-masing. Dalam upaya
membatasi kerja atas kelompok khusus dan mengarahkan kerja kepada ide ‘tamere-
masjid, telah disimpulkan penafsiran yang keliru terhadap Al-Quran, Hadith dan
kehidupan para Sahabat.
Ketiga: Muntakhab Ahadith. Maulana Yusuf (Rah.) tidak pernah memberi indikasi,
langsung maupun tidak langsung, untuk taklim ijtimaiyat dengan kitab ini. Terdapat
upaya menyusup taklim ijtimaiyat dengan kitab Muntakhab Ahadith dengan sekaligus
menggantikan dan menghilangkan taklim ijtimaiyat dengan kitab Fadhilah Amal dan
Fadhilah Sedekah.
Keempat: Lima amal masturat. Para ahbab dibuat bingung secara terus-menurus
dengan ide-ide seperti ini.
Barangsiapa yang tidak menyebarluaskan hal-hal tersebut, dan dimana saja hal-hal
itu tidak di ikuti, semuanya dianggap melawan perintah Nizamuddin. Padahal, semua
hal-hal baru ini mulai oleh hanya satu orang, Molvi Muhammad Saad Sb.
Sekalian perkumpulan di Nizamuddin dikhususkan demi menyebarluaskan ide-ide
ini. Nizamuddin telah diambil alih oleh sekelompok orang baru yang tidak
mendapatkan kehormatan bertemu dan berkumpul bersama para ‘orang tua da’wah’
dan mereka ini hanya hari-hari sibuk mengacaukan kepahaman para ahbab da’wah.
Mereka berkata, “Jangan mendengar para penanggung jawab propinsi / halaqah
anda, karena orang itu tidak menyebarluaskan tertib baru yang ngetren dari
Nizamuddin. Hatta jamaah-jamaah yang dikeluarkan diberi arahan untuk
menyebarluaskan tertib baru ini.
Sebab inilah bayan hidayah di Nizamuddin dan Ijtima-Ijtima, hanya diberi tugas
kepada mereka-mereka yang akan menyampaikan ide-ide baru ini. Ini telah
berakibat pecah hati di setiap tempat dan berkembang keadaan dengan dua
kepahaman. Orang baru dalam usaha agama ini berpikir bahwa orang lama dan para
penanggungjawab di daerahnya tidak mengikuti tertib Nizamuddin. Orang lama
mengalami dilemma bagaimana caranya menjalankan tertib-tertib baru ini yang
dimusyawarahkanpun tidak, tambah pula menyimpang dari asas-asas kerja
sehingga sudah terseleweng dari pola kerja yang benar (manhaj). Dimana-mana
terjadi perpecahan, kekacauan dan kebingungan. Fikir Akhirat, kerisauan agama dan
Ummat, perbaikan diri dan aspek tarbiyah yang menjadi ruh usaha ini dihilangkan.
Kini, Molvi Saad Sb., dikelilingi sekelompok orang yang tidak pernah ber-syu’bah
dengan para ‘orang tua’ da’wah. Demi kepentingan pribadi mereka sendiri semata,
kelompok ini membenarkan dan mengiyakan setiap ide baru yang muncul dari Molvi
Saad Sb sehingga beliau terus berada dalam kesalahpahaman terhadap usaha ini,
yang tidak pernah menjadi kepahaman para ‘orang tua’ da’wah baik sekarang
maupun dahulu. Ketika Molvi Saad Sb menjelaskan ide-ide barunya ini, beliau
berkata bahwa beliau sedang menjelaskanya berdasarkan Al-Quran, Hadits dan
Sirah dan ingin menegakkan usaha ini diatas Al-Quran, Hadith dan Sirah. Apakah ini
berarti bahwa segala upaya dan usaha ‘orang tua’ kita dalam da’wah sebelumnya
bukan dari Al-Quran, Hadith dan Sirah?
Kini, bayan-bayan bermuatan menyalahkan orang, mengkritik, merendahkan, nada
penguasa, kesimpulan-kesimpulan dan penjelasan-penjelasan baru, yang
berlawanan dengan pola ‘orang tua’ da’wah kita. Setiap hari ada saja ide baru yang
dimunculkan. Para Ulama dan Mashaikh terkejut dan cemas, apa yang sedang
terjadi? Jika usaha ini mengikuti arah seperti ini terus, maka tidak lama lagi para
Ulama akan menentang usaha ini dan mereka-mereka yang memiliki kerisauan tinggi
tentang keadaan Ummat akan terasingkan dan menjauh dari usaha ini.
Pada Bulan Nopember 2015, di tengah kehadiran sekalian ahbab lama dari seluruh
dunia, Syuro yang dibentuk pada zaman Hadratji (Rah.) telah dilengkapi demi
menjaga ijtimaiyat dan manhaj usaha ini. Saya sendiri hadir disaat itu, namun saya
terheran-heran kenapa Molvi Saad Sb menolak penyempurnaan syuro ini tanpa
alasan yang jelas.
Tidak ada satupun institusi Islam, baik bersifat pendidikan atau terkait bagaimanapun
dengan komunitas muslim, atau suatu upaya berjamaah untuk kemaslahatan
Ummat Islam yang dapat berfungsi atau bisa dijalankan tanpa pengawasan,
tuntunan dan bimbingan dari majelis syuro. Merupakan situasi teramat kritis dan
berbahaya menyerahkan usaha besar kepada satu orang untuk menjalankan usaha
mulia ini menurut pemikirannya sendiri. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang
terlepas dari kekurangan yang sejak awal ada pada kita semua ditambah mudharat
godaan hawa nafsu. Barangkali sebab itulah Maulana Ilyas (Rah.) berkata “Di masa
akan datang, usaha ini akan dijalankan dibawa pengawasan Syuro” (rujukan “surat-surat
terakhir Maulana Ilyas (rah.) yang disusun oleh Maulana Abul Hasan Ali Nadwi
(Rah.)).
Saya menulis surat ini karena tanggung jawab dan takut saya kepada hisab dari Allah
swt. Semoga Allah swt, mengampuni kita dan memberi kita Taufiq untuk
mengerjakan usaha agama ini sesuai pola kerja dari ‘orang tua’ kita dan
menyelamatkan kita dari inovasi-inovasi dalam usaha ini. Amin.
Wassalam
Hamba Muhammad Yaqub, Agustus 23, 2016.

Iklan
Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar