Posts Tagged With: maulana

Terjemahan Surat Maulana Yaqoob Sb. (DB)


Kepada sekalian saudara-saudara pekerja Agama,
Di Nizamuddin saya telah menggunakan masa lebih dari 15 tahun bersama Maulana
Yusuf (Rah.) dan setelah itu hampir 30 tahun bersama Maulana Inamul Hasan
(Rah.). Selama masa yang panjang 50 tahun tersebut, Allah telah merahmati saya
dengan pertemanan yang penuh barokah dengan kedua ‘orang tua’ itu, dan saya
telah berkesempatan, berulang kali, baik dalam khuruj maupun di Nizamuddin,
menikmati masa bersama beliau-beliau. Allah swt. telah memberi kesempatan
kepada saya mengambil bagian dalam usaha agama yang mulia ini di bawah
bimbingan dan pengawasan kedua ‘orang tua’ itu. Berdasarkan keikutsertaan saya
yang terus-menerus ini, saya dapat menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa
usaha ini sekarang telah diselewengkan dari jalur dimana usaha ini telah dibangun
oleh para ‘orang tua’ pendahulu itu.
Meskipun, kedua ‘orang tua’ itu secara bulat suara diakui sebagai Amir di masa
mereka masing-masing, namun mereka sendiri tidak pernah menuntut keamiran
tersebut, dan tidak pernah berbicara dengan nada ‘penguasa’. Mereka tidak pernah
memaksakan pandangan atau pendapat pribadi mereka. Mereka selalu mentaati
musyawarah. Hari ini, keadaan sudah benar-benar terbalik. Terdapat pemaksaan
keamiran yang diproklamirkan diri sendiri, dan barangsiapa yang tidak menerimanya,
akan dipaksa menerimanya dengan berbagai macam cara. Akibatnya, timbul
kekacauan yang sedemikian rupa di dalam Nizamuddin sehingga berujung
pertengkaran, caci maki, bahkan sampai penganiayaan yang brutal.
Nizamuddin, yang dahulunya pusat untuk fikir Ummat, pusat islah diri dan persiapan
akhirat, dimana setiap orang dapat menggapai sifat-sifat tersebut, suasana tempat
mulia ini telah berubah menjadi suasana menggunjing, kecurigaan, dan fitnah.
Perencanaan terus-menerus dibuat untuk menjatuhkan dan menjelekkan siapa pun
yang berupaya menjalankan usaha ini cara yang benar (Manhaj). Suatu gagasan
sedang dipropagandakan kepada ummat bahwa keselamatan (dunia & akhirat)
hanya dengan tunduk kepada Ameer (yang memproklamirkan dirinya sendiri) (tidak
mengapa selepas itu amal anda seperti apa). Jika anda tidak mau tunduk patuh, atau
memiliki pendapat yang berbeda, kamu tidak akan selamat dunia/akhirat.
Suasana memperbaiki diri, persiapan untuk akhirat, dan pencapaian Fikr/risau
Ummat telah menghilang dari Nizamuddin. Sebagai gantinya, suasana diktator,
penguasa tunggal, dan keinginan manfaat duniawi telah diwujudkan.
Atas maksud baru ini sistim bai’at massal sudah ditetapkan. Padahal, Syura yang
dibentuk selama hayatnya Hadratji Maulana In’amul Hassan (Rah.) secara bulat suara
telah memutuskan dan menghentikan ba’at ini, bukti tertulis tersedia dengan
tandatangan seluruh Syura itu yang dibentuk semasa hayat Hadratji (Rah.).
Inovasi-inovasi yang tidak ada selama masa kedua ‘orang tua’ dahulu, yang saat
sedang disebarluaskan tanpa musyawarah adalah:
Pertama: ‘Da’wah-Taklim-istiqbal’, ini adalah istilah baru yang diada-adakan, yang
tidak ada di zaman ‘orang tua’ da’wah kita sebelumnya. Sekalipun sekarang
namanya dirubah menjadi ‘Tamer-e-masjid’ namun konsepnya sama, dan akibatnya
kepentingan usaha harian dari pintu ke pintu dan jaulah umumi sudah menipis.
Kedua: Membatasi usaha atas ‘khawas’ dan berbagai ‘taqbat’ (kelompok khusus)
dari Ummat ini, yang merupakan amalan yang lazim pada masa ‘orang tua’ kita. Para
Khawas dan orang dari berbagai kelompok khusus itu, biasanya, lambat laun akan
bergabung dalam amal maqomi di Masjid mereka masing-masing. Dalam upaya
membatasi kerja atas kelompok khusus dan mengarahkan kerja kepada ide ‘tamere-
masjid, telah disimpulkan penafsiran yang keliru terhadap Al-Quran, Hadith dan
kehidupan para Sahabat.
Ketiga: Muntakhab Ahadith. Maulana Yusuf (Rah.) tidak pernah memberi indikasi,
langsung maupun tidak langsung, untuk taklim ijtimaiyat dengan kitab ini. Terdapat
upaya menyusup taklim ijtimaiyat dengan kitab Muntakhab Ahadith dengan sekaligus
menggantikan dan menghilangkan taklim ijtimaiyat dengan kitab Fadhilah Amal dan
Fadhilah Sedekah.
Keempat: Lima amal masturat. Para ahbab dibuat bingung secara terus-menurus
dengan ide-ide seperti ini.
Barangsiapa yang tidak menyebarluaskan hal-hal tersebut, dan dimana saja hal-hal
itu tidak di ikuti, semuanya dianggap melawan perintah Nizamuddin. Padahal, semua
hal-hal baru ini mulai oleh hanya satu orang, Molvi Muhammad Saad Sb.
Sekalian perkumpulan di Nizamuddin dikhususkan demi menyebarluaskan ide-ide
ini. Nizamuddin telah diambil alih oleh sekelompok orang baru yang tidak
mendapatkan kehormatan bertemu dan berkumpul bersama para ‘orang tua da’wah’
dan mereka ini hanya hari-hari sibuk mengacaukan kepahaman para ahbab da’wah.
Mereka berkata, “Jangan mendengar para penanggung jawab propinsi / halaqah
anda, karena orang itu tidak menyebarluaskan tertib baru yang ngetren dari
Nizamuddin. Hatta jamaah-jamaah yang dikeluarkan diberi arahan untuk
menyebarluaskan tertib baru ini.
Sebab inilah bayan hidayah di Nizamuddin dan Ijtima-Ijtima, hanya diberi tugas
kepada mereka-mereka yang akan menyampaikan ide-ide baru ini. Ini telah
berakibat pecah hati di setiap tempat dan berkembang keadaan dengan dua
kepahaman. Orang baru dalam usaha agama ini berpikir bahwa orang lama dan para
penanggungjawab di daerahnya tidak mengikuti tertib Nizamuddin. Orang lama
mengalami dilemma bagaimana caranya menjalankan tertib-tertib baru ini yang
dimusyawarahkanpun tidak, tambah pula menyimpang dari asas-asas kerja
sehingga sudah terseleweng dari pola kerja yang benar (manhaj). Dimana-mana
terjadi perpecahan, kekacauan dan kebingungan. Fikir Akhirat, kerisauan agama dan
Ummat, perbaikan diri dan aspek tarbiyah yang menjadi ruh usaha ini dihilangkan.
Kini, Molvi Saad Sb., dikelilingi sekelompok orang yang tidak pernah ber-syu’bah
dengan para ‘orang tua’ da’wah. Demi kepentingan pribadi mereka sendiri semata,
kelompok ini membenarkan dan mengiyakan setiap ide baru yang muncul dari Molvi
Saad Sb sehingga beliau terus berada dalam kesalahpahaman terhadap usaha ini,
yang tidak pernah menjadi kepahaman para ‘orang tua’ da’wah baik sekarang
maupun dahulu. Ketika Molvi Saad Sb menjelaskan ide-ide barunya ini, beliau
berkata bahwa beliau sedang menjelaskanya berdasarkan Al-Quran, Hadits dan
Sirah dan ingin menegakkan usaha ini diatas Al-Quran, Hadith dan Sirah. Apakah ini
berarti bahwa segala upaya dan usaha ‘orang tua’ kita dalam da’wah sebelumnya
bukan dari Al-Quran, Hadith dan Sirah?
Kini, bayan-bayan bermuatan menyalahkan orang, mengkritik, merendahkan, nada
penguasa, kesimpulan-kesimpulan dan penjelasan-penjelasan baru, yang
berlawanan dengan pola ‘orang tua’ da’wah kita. Setiap hari ada saja ide baru yang
dimunculkan. Para Ulama dan Mashaikh terkejut dan cemas, apa yang sedang
terjadi? Jika usaha ini mengikuti arah seperti ini terus, maka tidak lama lagi para
Ulama akan menentang usaha ini dan mereka-mereka yang memiliki kerisauan tinggi
tentang keadaan Ummat akan terasingkan dan menjauh dari usaha ini.
Pada Bulan Nopember 2015, di tengah kehadiran sekalian ahbab lama dari seluruh
dunia, Syuro yang dibentuk pada zaman Hadratji (Rah.) telah dilengkapi demi
menjaga ijtimaiyat dan manhaj usaha ini. Saya sendiri hadir disaat itu, namun saya
terheran-heran kenapa Molvi Saad Sb menolak penyempurnaan syuro ini tanpa
alasan yang jelas.
Tidak ada satupun institusi Islam, baik bersifat pendidikan atau terkait bagaimanapun
dengan komunitas muslim, atau suatu upaya berjamaah untuk kemaslahatan
Ummat Islam yang dapat berfungsi atau bisa dijalankan tanpa pengawasan,
tuntunan dan bimbingan dari majelis syuro. Merupakan situasi teramat kritis dan
berbahaya menyerahkan usaha besar kepada satu orang untuk menjalankan usaha
mulia ini menurut pemikirannya sendiri. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang
terlepas dari kekurangan yang sejak awal ada pada kita semua ditambah mudharat
godaan hawa nafsu. Barangkali sebab itulah Maulana Ilyas (Rah.) berkata “Di masa
akan datang, usaha ini akan dijalankan dibawa pengawasan Syuro” (rujukan “surat-surat
terakhir Maulana Ilyas (rah.) yang disusun oleh Maulana Abul Hasan Ali Nadwi
(Rah.)).
Saya menulis surat ini karena tanggung jawab dan takut saya kepada hisab dari Allah
swt. Semoga Allah swt, mengampuni kita dan memberi kita Taufiq untuk
mengerjakan usaha agama ini sesuai pola kerja dari ‘orang tua’ kita dan
menyelamatkan kita dari inovasi-inovasi dalam usaha ini. Amin.
Wassalam
Hamba Muhammad Yaqub, Agustus 23, 2016.

Iklan
Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Bayan Subuh Musyawarah Indonesia -Maulana Ismail


Setelah membaca AlQuran dan Hadits-Hadits Nabi Muhammad saw, diantaranya Nabi telah sabdakan: Jika amir-amir kalian adalah orang yang terbaik, demikian pula orang-orang kaya kalian adalah orang dermawan, dan masalah-masalah kalian dimusyawarahkan, maka hidup di atas bumi lebih baik daripada hidup di bawah bumi. Tapi apabila amir-amir kalian adalah orang yang bodoh, begitupula orang-orang kaya adalah orang yang paling bakhil, dan perkara-perkara diserahkan keputusannya kepada wanita, maka di bawah bumi lebih bagus daripada di atasnya. Selanjutnya beliau katakan bahwasanya asas daripada kerja kita ini adalah yakin kepada Allah, juga doa, dan pengorbanan, serta bermusyawarah.

Maka dakwah akan membawa hasil jika ke-4 perkara ini ada pada kita, yaitu yakin kepada Allah, doa, pengorbanan ditambahkan, serta bermusyawarah, maka hasilnya akan nampak di depan mata kita nantinya, tapi sekiranya kurang satu saja, maka hasilpun tidak ada. Kita berdakwah-dan berdakwah sementara yakin kita tidak kepada Allah SWT. Atau kita berdakwah tapi lemah dalam berdoa, atau kita berdakwah tapi tidak mau menambah pengorbanan juga hasil yang kita inginkan tidak akan tercapai. Begitu juga dakwah dan berdakwah tapi tidak mau bermusyawarah, pakai pemikiran sendiri-sendiri, maka hasil tidak kita dapatkan dalam dakwah. Memang yang menurunkan hidayah adalah Allah tapi asbab turunnya hidayah adalah dakwah ada apabila empat perkara ini kita perhatikan. Kita berdakwah tapi semakin yakin kepada Allah SWT bukan kepada kebendaan, kita berdakwah tambahkan doa panjang-panjang, tambahkan pengorbanan, disamping itu kita selalu bermusyawarah, maka hasil pun akan kita lihat di depan mata kita.

Bila kita kerjakan dakwah dengan keempat perkara tadi dan hasilnya pun nampak. Maka tetap kita kembalikan bahwa ini adalah hidayah dari Allah SWT, bukan daripada hasil kerja kita. Tapi kalau hasilnya belum nampak di depan kita, jangan kita berputus asa, tetap kelemahan kita kembalikan kepada diri kita sebagaimana Nabi kita Muahammad saw telah berkorban dan berkorban, ternyata orang-orang Thaif menolak kehadiran Nabi bahkan melempar dengan batu, Beliau tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi Beliau menyalahkan diri sendiri dalam doanya: “Ya Allah aku adukan akan kelemahanku, tidak pandainya aku dalam berbicara, dan aku belum lagi dimuliakan di tengah-tengah manusia.” Kesalahan dinisbahkan kepada diri sendiri bukan kepada orang lain ataupun mengeluh kepada Allah hingga berputus asa, tidak. Dai tidak boleh berputus asa, dan Allah berfirman tidaklah berputus asa kecuali orang yang kafir atau orang yang sesat.

Maka dai selalu menisbahkan kesuksesan kepada Allah SWT, walau pun ia selalu berkorban dan berkorban, tetap meyakini semua hasil semata-mata karunia dari Allah, maka saat-saat fathul Mekkah, saat Nabi memasuki kota Mekkah dengan para sahabat, keadaan beliau tidak menyombongkan diri bahkan beliau menunduk hampir mengenai punuk onta dan beliau berkata, Segala puji bagi Allah saja, yang telah menepati janjiNya, dan Dia yang telah mengalahkan musuh-musuh dengan sendiri saja. Nabi selalu menisbahkan kemenangan kepada Allah SWT, bukan kepada diri beliau sendiri. Kemenangan pada perang Badar, perang Ahzab, juga fathu Mekkah, semata-mata adalah karunia daripada Allah.

Ini kerja telah diterima oleh Allah SWT, dikerjakan oleh ambia dan para sahabat, terjaga hadirin. Yang membuat ini kerja adalah Allah dan yang menjaga ini kerja juga adalah Allah. Kerja ini tidak bisa ditantang atau dibahayakan, yang berbahaya adalah para dai itu sendiri. Dainya diterima oleh Allah atau tidak? Hasil kerja sudah berkembang dan dia merasa ini hasil kerja saya, maka sebentar lagi dia akan disingkirkan oleh Allah SWT. Jadi yang berbahaya bukan kerja, diri dia sendiri yang berbahaya kalau dia merasa ini kerja karena hasil kerja saya, maka sebentar lagi akan disingkirkan oleh Allah. Sebaliknya dia ikhlas, dia tidak ingin dipuji, tapi orang lain yang memuji, kalau tidak ada dia bagaimana, maka Allah akan ambil dia dengan cepat, Allah matikan atau Allah wafatkan. Supaya jangan sampai dia berbahaya dengan pujian-pujian yang begitu banyak, ataupun Allah tidak mau disaingi dengan pujian, maka cepat-cepat dia dimatikan oleh Allah SWT.

Dalam malfudzat Maulana Ilyas, bila dai buat kerja dengan usul yang benar, maka Allah SWT akan segerakan hidayah kepada dia, hidayah atau kebaikan-kebaikan yang akan datang, karena kerja dakwah yang dikerjakan dengan ushul yang benar, maka kebaikan-kebaikan itu akan disegerakan oleh Allah. Sebaliknya jika dai buat kerja tanpa ushul, atau ushul kerja diabaikan, maka kejelekan-kejelekan yang tadinya akan datang pada masa yang lama, akan disegerakan oleh Allah SWT. Hendaklah ushul-ushul dakwah diperhatikan oleh para dai, sehingga akan mempercepat turunnya kebaikan. Kalau ushul diabaikan akan dipercepat datangnya keburukan, di antara keburukan adalah adanya PERPECAHAN di antara umat, begitu juga kesatuan hati akan hilang, hingga di antara dai pun berpecah belah sendiri, karena mereka telah meninggalkan ushul-ushul dakwah.

Dai yang buat kerja dengan penuh yakin kepada Allah, dan dia mendoa dan menambah pengorbanan, tapi tidak mau bermusyawarah. Kerja dengan pemikiran sendiri, maka bukan kebaikan-kebaikan yang datang, tapi kerusakan-kerusakan yang akan datang dalam dakwah ini. Penting sekali kita letakan diri kita dalam musyawarah, buat ini kerja dengan bermusyawarah. Ada beberapa keuntungan bila musyawarah senantiasa kita kerjakan, pertama dengan bermusyawarah kita akan tahu potensi-potensi umat, dan potensi-potensi itu bisa kita gunakan untuk agama. Kedua, perpecahan akan dihilangkan oleh Allah SWT, perpecahan antar ulama akan dihilangkan oleh Allah, perpecahan antara orang Arab dan orang Ajam (non Arab) akan dihilangkan oleh Allah. Tidak nampak lagi perbedaan bangsa, bahasa karena adanya musyawarah.

Bersambung….

Categories: Bayan | Tag: , | Tinggalkan komentar

Penjelasan Syura Indonesia -Ustadz Muslihuddin di Pertemuan Solo


Di Jakarta terjadi perbedaan pendapat antar para masyaikh di Nizamuddin, jadi bukan perbedaan pendapat antara Nizamuddin dan Reiwind, tapi antara para masyaikh dengan yang mulia Maulana Saad DB. Sehingga kami dengar sebagian masyaikh meninggalkan Nizammuddin. Kumpul semua syura di Kebon Jeruk untuk membahas masalah itu. Saya usulkan, kita jangan mempercayai dulu berita-berita ini dari orang, surat-surat, dari WhatsApp. Tapi kita langsung tabayun kepada yang bersangkutan. Langsung kita jumpa satu per satu masyaikh. Apa masalahnya, tanya langsung kepada beliau. Jumpa Maulana Saad, jumpa maulana Ibrahim, jumpa maulana Yaqub, jumpa maulana Ahmad Lat, para masyaikh langsung.

Lalu disetujui, katika itu bersamaan akan ada ijtimak akan adanya di Tongi, maka kami semua berangkat ke Tongi pada Januari 2017. Kita minta waktu untuk jumpa langsung Maulana Saad. Pertanyaannya redaksinya kami musyawarahkan terlebih dahulu sebelum jumpa beliau, mutakalimnya pak Cecep, diterjemahkan bahasa Arab oleh Ustadz Lutfi, supaya kami bisa pahami semua yang disampaikan, Lalu kami jumpa beliau. Pak Cecep mengatakan atas nama Indonesia kami menyayangi, mencintai maulana Saad,  juga mencintai semua para masyaikh di Nizamuddin, di Reiwind, dan di Kakrail. Juga permohonan kami, pertama kami ingin para masyaikh untuk kembali lagi ke Nizamuddin, dan kami memohon kepada maulana Saad agar semua tertib-tertib yang akan disampaikan bermusyawarah dahulu kepada para masyaikh. Beliau menyambut dengan baik, saya juga ingin para masyaikh kembali ke Nizamuddin, tapi kata Beliau ingin para masyaikh kembali ke Nizamuddin tanpa syarat. Maulana mengatakan mereka akan kembali dengan syaratnya saya harus mengakui syura alami, itu kesimpulan ketika kami menghadap Beliau. Kemudian ada peristiwa lagi, waktu itu setelah maghrib malamnya ada musyawarah besar, musyawarah program. Semua masyaikh dari India, Banglades, dan Pakistan hadir, kecuali Bay Wahab karena ada uzur, sakit. Semau syura Indonesia juga hadir, saya, ustadz lutfi, pak Cecep, Pak Syuaib, Kiyai Mukhlisun, juga beberapa orang lama hadir disitu. Maulana Saad memberikan targhib, dan saya hafal perkataannya itu dan memang bagus sekali, “Saudara-saudara sekalian usaha dakwah ini akan maju karena ada pertolongan Allah Ghaibiyyah, dijelaskan panjang lebar. Bukan didukung oleh orang kaya, pengusaha. Nusratullah itu akan muncul karena Ijtimaiyyat, tiga unsur ijtimaiyyat yaitu kesatuan hati, kesatuan pikir, dan yang ketiga kesatuan …. Dan ijtimaiyyat ini akan muncul dengan adanya Musyawarah. Musyawarah itu akan makbul dengan adanya ketaatan. Sampai situ maulana berhenti. Satu orang berbahasa Arab berdiri, mengatakan ketaatan adalah ketaatan kepada Amir, Amir kita saat ini adalah Maulana Saad. Dan hadraji kita adalah maulana saad, setuju…? Sebagian orang mengatakan setuju, kebanyakan diam. Lalu berdiri orang berbahasa Inggris. Maksud ketaatan Beliau adalah ketaatan kepada Amir, Amir alam kita saat ini adalah maulana Saad. Setuju…? Apa yang dikatakan oleh maulana Saad, “Ana khadimukum”. Maksudnya membenarkan apa yang dikatakan oleh kedua orang itu, saya Amir kalian, ini iklan kepada seluruh dunia dan beliau mendeklarasikan kalau beliau adalah Amir. Menurut keterangan dari Maulana Husein dari Benglore putra dari Maulana Qasim Quraisyi yang kemarin datang ke Jakarta. Beliau pertama kali mengangkat diri menjadi Amir pada Ijtimak Bophal tahun 2015, itu yang membuat geger di India. Dan yang secara alam (dunia) itu dideklarasikan di Ijtimak Tongi, saya mendengarkan langsung, ustadz Lutfi dan lainnya.

Nah setelah itu kembali ke Jakarta, musyawarah lagi. Untuk jumpa kepada masyaikh yang lain. Kami hubungi maulana Faruk, lalu meminta kami datang ke Pakistan karena ada jord qudama di Pakistan. Maka sepakat semua ke Pakistan, kami minta waktu untuk bertemu, semua masyaikh kumpul. Syaikh Abdul Wahhab, Maulana Ibrahim, Maulana Yaqub, Maulana Ahmad Lat, Maulana Sanaullah, dll kumpul dalam satu ruangan. Mutakalimnya pak Cecep diterjemahkan oleh saya dalam bahasa Inggris. Waktu itu kami sampaikan seperti yang disampaikan ke Maulana saad, tapi ada tambahannya, Kenapa para Masyaikh meninggalkan Nizamuddin? Bukankah lebih baik kalau para masyaikh kembali ke Nizamuddin dan menyelesaikan masalah yang terjadi disana, jadi umat tidak terbelah-belah seperti ini. Jawabannya apa, kami sudah berusaha sejak 21 tahun yang lalu untuk bagaimana menyatu tapi tidak bisa. Bahkan kemudian dari penjelasan-penjelasan itu. Kami-kami ini adalah guru-guru dari Maulana Saad, kami telah menyarankan untuk segala sesuatu dimusyawarahkan, tapi tidak pernah didengar, tidak pernah ikut. Apalagi setelah deklarasi menjadi Amir, siapa saja di Nizamuddin yang tidak mendukung keamiran Beliau dan tidak menyetujui apa-apa yang menjadi pemikiran Beliau, diintimidasi. Ini saya dengar langsung, bukan katanya ini. Ini disampaikan Syaikh Faruq dan Dr Sanaullah, itu diulang-ulang. Kami yang tidak sepaham dengan beliau dan tidak mengakui keamiran beliau, kami dipukuli sampai berdarah-darah dan kami diancam untuk dibunuh, itu yang mengatakan Dr. Sanaullah, maka untuk menyelamatkan jiwa kami sementara kami pindah dulu, itu alasannya. Kemudian alasan yang lain adanya reaksi keras dari ulama-ulama di seluruh India sebagaimana yang dijelaskan ustadz Lutfi, tapi saya ulang lagi, yang saya dengar langsung, saya dokumennya ada, bukti-bukti ada, dari Deoband, dari Saharanpur, dari Lucknow, bahkan dari negeri-negeri lain South Africa, ada dokumennya. Dan apa-apa masalah-masalah yang mereka tentang itu, tafsiran-tafsiran Hadits Quran itu diuraikan secara mendetail bertentangan dengan pendapat jumhur ulama. Yang dulunya mufti-mufti ini, zaman Maulana Ilyas, zaman Maulana Yusuf, zaman Maulana In’amul Hasan adalah pendukung-pendukung kuat dakwah, sehingga dakwah tersebar ke seluruh India, diterima karena dukungan para ulama. Mereka belum terlibat langsung dalam amal dakwah, ulama umum, ulama madrasah. Mufti-mufti, seperti mufti Ubaidullah di New Delhi, Mulvi Ali Thanwi, dll. Pemikiran-pemikiran Beliau yang disampaikan dalam bayan-bayan sudah bertentangan dengan jumhur ulama India saat ini. Awalnya mufti-mufti ini masih menahan, namun karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari umat Islam, terpaksa dikeluarkan fatwa. Tapi sebelum dikeluarkan fatwa, para mufti ini datang ke Nizamuddin. Untuk tabayun kepada Maulana Saad, tapi ternyata maulana diam, tapi tidak merubah fatwa-fatwanya. Karena bertahun-tahun tidak ada perubahan maka para ulama mengeluarkan fatwa, bahwa tafsiran AlQuran dan Hadits oleh Maulana Saad telah keluar dari Ahli Sunnah wal Jamaah, ini sangat berbahaya kepada dakwah. Dengan alasan-alasan ini para masyaikh keluar dari Nizamuddin. Kalau mereka tetap di Nizamuddin nanti mereka akan dicap setuju dengan apa yang difatwakan oleh Beliau. Untuk menyelamatkan usaha dakwah kami terpaksa keluar dari Nizamuddin sampai keadaan kondusif lagi, kami akan kembali ke Nizamuddin.

Dan kami tidak membuat markaz lagi. Markaz di India satu. Lalu kami bermusyawarah bagaimana menyikapi keadaan ini setelah jumpa dengan para masyaikh. Kami bermusyawarah di salah satu ruangan yang disediakan untuk Indonesia di Reiwind. Ditanya satu persatu, sebagai usulan, lalu Beliau, Yang Mulia, Pak Cecep memutuskan berdasarkan pengamatan langsung dan pertanyaan-pertanyaan kami, untuk menyatukan kerja di Indonesia, kerja di Indonesia tidak ada berubahan, apa-apa yang diperselisihkan oleh para masyaikh, tidak dihentikan dan tidak ditarghibkan. Adapun masalah-masalah yang terjadi di Indonesia merujuk kepada Syura Alam. Ini keputusan dari pak Cecep dan kita semua setuju. Saya usulkan kesepakatan ini kita tulis dan kita tandatangani, maka ditulis. Yang disuruh nulis, saya. Maka dibaca oleh pak Cecep, atas nama syura Indonesia, Beliau tanda tangan sendiri. Kemudian setelah itu kembali ke Indonesia, beliau mengusulkan untuk mengundang Syura Alami di Musyawarah Indonesia bulan April agar mereka membimbing kita, itu usulan pak Cecep. Kami setuju, itu bagus. Maka disampaikan dan mereka setuju untuk hadir. Ringkasnya, kemudian kita adakan musyawarah Indonesia dan syura alam hadir dari India, dan Pakistan, kemudian pak Cecep hadir ke Malaysia, kami usulkan untuk tidak kesana. Namun pak Cecep tetap ke Malaysia dengan tujuan untuk menyampaikan sikap Indonesia di sana. Apa yang dibicarakan di Malaysia kita tidak tahu, tapi kesimpulannya Maulana Saad akan mengirimkan juga utusannya untuk musyawarah Indonesia. Ini jadi runyam disini. Ringkasnya kemudian hadir kedua pihak, satu dari Syura Alam, satu dari Maulana Saad. Waktu itu kami musyawarah, kami, syura Indonesia dan Syura Alam. Bagaimana cara menghandle keadaan ini, pasti akan perang dimimbar ini. Maka syura alam mengatakan, bahwa yang diundang kan kami, jadi yang menghandle kami semua. Kami atas undangan kalian. Iya juga ya. Mereka itu tamu yang tidak diundang, ya diterima dengan baik, tapi jangan ikut campur di mimbar, pasti akan bertentangan. Silakan diputus. Kami (syura alami) dapat pesan dari Bay Wahhab yang putus musyawarah bukan syura alami, yang menjadi faisalat program itu adalah syura Indonesia. Maka ditawarkan, siapa yang akan menjadi faisalat? Tidak ada yang mau. Pak Cecep tidak mau, saya tidak mau, yang lain juga tidak mau. Kata Belaiau, kalian tidak mau jadi faisalat itu bagus, tapi harus taat katanya. Maka setelah musyawarah  antara syura alami diputuskan yang menjadi faisalat musyawarah program adalah Muslihuddin. Wah jadi masalah buat saya ini. Saya bilang saya mau tanya dulu senior saya pak Cecep, saya bilang. Pak gimana pak? Gak mungkin kalau masih ada bapak saya jadi faisalat, kata pak Cecep, gak papa terima aja. Jadi karena Beliau mengatakan seperti itu, saya terima dengan berat hati. Karena saya menyadari ini saya dihimpit dua gunung ini. Itulah yang terjadi di Cikampek saya dianggap kudeta, mengambil alih faisalat Indonesia. Ya saya terima, saya diam saja. Tapi saya jelaskan, setelah itu mengkristal perbedaan, sehingga mereka mengadakan pertemuan di Medan. Itu juga kami mengatakan sebaiknya bapak jangan pergi ke Medan. Bikin masalah. Gak, saya pergi kesana untuk menjelaskan agar tidak terjadi perpecahan, tapi tetep berangkat juga, tapi yang aneh kemudian bahkan Beliau turut mengundang untuk hadir di Nizamudin tanggal 24 juni 2017. Dan terang-terang mengatakan bahwa Pak Cecep bahwa saya sekarang mendukung Maulana Saad, jadi pak Cecep sekarang sudah meninggalkan kami (Syura Indonesia yang lain) ya kan. Yang tadi sepakat merujuk syura alam sekarang, di Medan mengatakan saya sekarang mendukung Maulana Saad. Itulah, menjadi masalah berkepanjangan, lalu ada pertemuan di Semarang, yang lebih membelah lagi keadaan-keadaan itu. Saya secara pribadi tidak ada masalah dengan pak Cecep. Bahkan waktu itu, beberapa hari sebelum lebaran saya datang ke kamarnya, saya bicara dari hati ke hati, pak, di antara seluruh syura Indonesia yang lebih lama adalah Bapak dan Saya, Saya dan Bapak adalah yang paling bertanggung jawab. Kalau sampai dakwah di Indonesia terpecah belah, bagaimana nanti kita menghadap Allah. Pak Cecep termenung.. Saya setuju, tapi bagaimana? Saya katakan, pak coba kita kumpulkan seluruh syura, kita duduk dengan hati yang jernih, kita pikirkan bagaimana menyatukan Indonesia, kapan? Saya telepon seluruh syura, disepakati tanggal 1 Juli, bertepatan dengan pergantian petugas khidmat markaz daerah Bengkulu, Lampung, dan Palembang dengan Makasar, Sulawesi. Semua sepakat tanggal 1. Setelah beberapa hari kemudian saya dapat berita undangan disebar ke seluruh Indonesia, terutama temen-temen yang menunjukan dukungan ke Maulana Saad. Saya tanya, pak! Kenapa ngundang banyak-banyak? Iyalah, katanya. Saya dengar Pak Syuaib akan bawa pasukan 100 orang katanya. Darimana itu pak? Tanggal 1 itu kan pergantian petugas khidmat. Jadi kalo Pak Syuaib bawa satu, dua orang khidmat, bukan bawa pasukan untuk nyerbu Kebon Jeruk. Oh gitu. Tapi undangan kan sudah gak bisa di cancel. Itulah yang terjadi tanggal 1, oleh karena itu suasana genting kami laporkan kepada para masyaikh. Ini terjadi masalah begini ni. Tanggal 1 ada pertemua, para penanggung jawab diundang dari pihak pak Cecep ya kan. Langsung bay Wahab sendiri yang tulis surat, kalian jangan adakan pertemuan tanggal 1. Itu langsung dari beliau, mungkin beliau ada firasat yang tinggi akan terjadi masalah. Nah kesimpulannya tanggal 1 syura-syura yang lain tidak boleh hadir. Kalau saya kan hari-hari ada di Kebon Jeruk, ya saya ada disitu. Tapi saya gak ikut pertemuan. Nah, karena tidak hadir, maka syura alami mengirim 3 orang utusan menyampaikan pesan Bay Wahab. Diutus Haji Maimun, Farid Sungkar, dan Haji Burhan. Namun Haji Burhan berhalangan digantikan oleh Abu Bakar Bogor. Waktu itu berkumpallah pak Cecep dengan semua penanggung jawab daerah di satu ruangan. 3 orang tadi jam 9 menyampaikan pesan dari masyaikh, ditanya, mana syura-syura. Disampaikanlah oleh Haji Maimun sebagai mutakalim bahwasanya melihat situasi dan kondisi syaikh Abdul Wahab menyatakan untuk tidak membuat pertemuan tanggal 1, ini suratnya. Dibacakan dan diserahkan. Setelah itu karena orangnya banyak, diumumkan jam 9 pertemuan di lantai 2. Apa yang diputuskan disana, diantaranya bahwa Kebon Jeruk ini adalah khusus untuk kegiatan kita yang merujuk kepada Maulana Saad. Jadi syura alami silakan cari tempat lain. Itu ada keputusannya tertelis, ditandatangani oleh pak Cecep. Dan lain-lain ada, tapi intinya itu. Oleh karena itu, makanya temen-temen memilih sementara untuk tidak datang ke Kebon jeruk. Karena banyak masalah yang harus dihandle maka dipilih tempat di Masjid Al Muttaqin Ancol. Saya sendiri tetap bertahan di Kebon Jeruk.

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , , , | 5 Komentar

Nizamuddin Dahulu Kala


” … OLD NIZAMUDDIN … OLD DELHI … ” , نظام الدّین , दिल्ली

Pada abad ke 19 di kawasan sekeliling Nizamuddin yang mana terdapat Masjid Banglawali asal muasalnya adalah hutan kecil di pinggiran kota New Delhi, pada awal penjajahan Inggris / British di India, daerah ini dimiliki oleh seorang kerabat Raja Moghul yang dikenal dengan panggilan ‘Nawab’, Nawab artinya Raja untuk Raja Islam, di zaman itu, ‘Raja’ adalah panggilan bagi kerabat bangsawan raja-raja Hindu. Nawab ketika itu sering dituduh yang aneh-aneh oleh Mahkamah Kolonial Inggris/British dengan taruhan nyawa dan hartanya atas perbuatan yang tak pernah dia lakukan dan tentu saja tak pernah terbukti. Waktu itu adalah masa yang sulit bagi tokoh-tokoh atau pembesar-pembesar Islam. Orang Hindu menggunakan fitnah dan hasutan pada kerajaan Inggris/British terhadap orang Islam. Tapi Allah SWT gerakkan rencanaNya dengan penuh kebijaksanaan. Pada waktu yang bersamaan , terdapat seorang alim ulama yang warak dan zuhud, dari keturunan Sayyidina Abu Bakar ra bernama Mualana Ismail yang menetap di Saharanpur. Nama beliau cukup terkenal dan sedang masyhur sebagai alim dan wali di Jazirah India. Yang menyebabkan, banyak orang meminta hajat yang bermacam macam seolah-olah beliau adalah ahli nujum atau seorang dukun. Keadaan ini telah menganggu jiwa dan hati beliau. Maka beliau pun mengasingkan diri hidup di sebuah hutan di Delhi.

Pada suatu hari, Nawab pergi berburu bersama anak buahnya di sekitar hutan miliknya. Dalam perburuan beliau itu, beliau terkejut ketika menjumpai sebuah bangsal buruk dan seorang berjanggut dan bersurban dalam hutannya. Dengan sikap besar diri sebagai pemilik tanah, Nawab memanggil si janggut itu padanya. Dengan sikap merendah diri, si Janggut meminta maaf kerana mendiami tanah si Nawab dan lantas meminta izin untuk tinggal di situ. Akhirnya si Janggut itu pun dibolehkan mendiami tempat tersebut dengan syarat si Janggut itu bersedia menjadi ‘Gulam’ atau budak suruhan menjaga hutan itu. Syarat ini di terima . Tanpa disadari oleh Si Nawab bahwa Si Janggut itu adalah si alim Maulana Ismail .

Di waktu yang tidak lama kemudian, Nawab akan di adili di Mahkamah Pengadilan Kolonial atas dakwaan berkomplot untuk mengulingkan kerajaan Inggris/British dari tanah India. Jika terbukti bersalah , beliau akan di hukum mati dan hartanya akan dirampas.  Nawab berada dalam kerisauan dan kegelisaan.

Beliau dinasihati oleh rekan kerabat dan sanak saudaranya agar mencari seseorang yang mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah dan doa yang makbul. Mereka percaya hanya itu satu2nya cara untuk selamat dari tuduhan. Dan hanya Allah swt saja tempat mengadu permasalahannya. Maka beliau pun bertanya pada orang-orang di banyak tempat dimana bisa menemui orang yang mempunyai kelebihan dibidang agama. Kebanyakkan orang menyebut nama `Mualana Ismail` dari Saharanpur. Nawab pun mencari di Saharanpur tapi malangnya orang yang dicari telah lama menghilang. Tanpa berputus asa, Nawab berusaha keras untuk mencari Maulana Ismail. Alangkah terperanjatnya waktu ia diberitahu anak buahnya bahwa orang yang dicari-cari adalah si ‘Gulam’ di hutannya. Dengan tergesa-gesa ia menuju kehutannya, lalu menjatuhkan dirinya di bawah kaki Maulana Ismail, si Gulam itu.

” … Sekarang ini, saya adalah ‘Gulam’ dan anda adalah ‘ Tuan ‘ saya …” , kata kata yang tersembul keluar dari mulut Nawab . Lantas dibangkitkan diri Nawab itu oleh Maulana Ismail dan dengan penuh simpati mendengar keluh kesah Nawab itu. Maulana mengusulkan cara bagaimana untuk selesaikan masalah tersebut . Nawab diminta untuk berwudhuk lantas di ajaknya Nawab untuk sholat hajat bersama samanya , kemudian ia minta Nawab mengaminkan doa Mualana Ismail . Beliau mengatakan kepada Nawab supaya berupaya menggunakan sendiri kekuatan sholat dan doa . Mengharap dan meminta hanya pada Allah swt.

Nawab pun pada akhirnya diadili di Mahkamah , dan ternyata beliau tidak terbukti bersalah . setelah sidang selesai Nawab bergesa2 mencari Maulana Ismail untuk memberi khabar baik ini , ” … Maulana , Allah telah kabulkan permintaan kita. Sekarang nyawa saya telah selamat.tapi harta saya dirampas …” , Maulana Ismail kemudiannya mengusulkan supaya banding atas putusan pengadilan itu , dan Nawab melakukan seperti yang diusulkan maulana . Seperti sebelumnya Nawab sholat hajat bersama Maulana Ismail tetapi kali ini Nawab sendiri berdoa dan Maulana mengaminkan . Akhirnya keputusan Mahkamah berpihak kepada Nawab . Nyawa dan harta di kembalikan pada nya dan Kerajaan Inggris / British memberi jaminan pelindungan pada Nawab dan keluarganya , malah memberi peringatan yang sangat keras terhadap siapa saja terutama orang Hindu yang berani buat fitnah lagi akan di hukum.

Nawab berkata , “… Maulana sab, dulu nyawa dan harta saya telah hampir hilang, kini semuanya telah saya miliki kembali . Maka saya sudah buat keputusan untuk mewakafkan nyawa dan harta saya untuk Maulana …” , Maka sejak hari itu Nawab berkhimat dan berguru dengan Maulana Ismail hingga akhir hayatnya . Dan kini pusara beliau dan Maulana Ismail masih terjaga di Nizamuddin , India .
Dan dari anak Maulana Ismail telah lahir manusia yang bernama Maulana Ilyas rah , seorang hamba Allah yang di pilih oleh Allah swt untuk menghidupkan kembali kerja kerja dakwah Rasulullah dan para sahabatnya .

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’uun


Berita dari Nizamuddin

Berita dari Nizamuddin

IMG-20140318-WA001

Shalat Janazah Maulana Zubairul Hasan

Telah berpulang ke Rahmatullah Ulama yang kita cinta Maulana Zubairul Hasan Bin Maulana In’amul  Hasan Selasa 18 Maret 2014 jam 11.00 siang waktu India (New Delhi). Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Maghfirah Nya kepada Beliau. Ditinggikan derajatnya.

Berikut pesan Maulana Saad ketika bayan hidayah kepada Jamaah yang akan berangkat khuruj fii sabilillah ketika itu di Nizamuddin:

“Saya katakan kepada jamaah yang akan keluar tetap berangkat sekarang, dalam setiap waktu dan keadaan. Allah telah memanggil beliau kepada rahmat Nya (maulana menangis tak mampu lanjutkan ucapan beliau…”

Categories: Tokoh Dakwah | Tag: , , | 1 Komentar