Posts Tagged With: malfuudzat

Malfuudzat 9


Beliau berkata, “Maksud ilmu yang pertama dan utama ialah agar seseorang itu ishlah kekurangan dan kelemahan dirinya, memahami apakah kewajibannya, dan berusaha memperbaiki kehidupannya. Apabila ilmu digunakan untuk menyalahkan orang lain dan mencari aib orang, maka ilmu tersebut akan menjadi sebab takabbur dan kesombongan ilmu akan membinasakan pemilik ilmu itu. Pepatah urdu mengatakan, “Buat kerja sendiri, jangan cari kerja orang lain.”

Iklan
Categories: Tertib Dakwah | Tag: , | Tinggalkan komentar

Malfuudzat 7


Beliau berkata, “Terdapat kelemahan dan kelainan di kebanyakan madrasah. Walaupun santrinya diajar dengan ilmu pengetahuan tetapi tidak ditekankan maksud asal belajar (khidmat kepada agama dan dakwah ila Allah). Akibat dari kelalaian ini setelah tamat belajar , matlamat mereka ialah mencari kedunian atau menjadi pekerja atau mengambil ujian di pengajian umum untuk memburu duit. Maka seluruh masa, belanja, usaha, dan tenaga yang telah dicurahkan untuk belajar ilmu agama tidak berhasil. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya bekerja dengan orang-orang yang memusuhi agama.

Oleh karena itu kita harus fikir untuk membimbing mereka supaya bersedia untuk berkhidmat kepada agama dan mengamalkan perintah agama dan menunaikan hak-hak ilmu agama setelah tamat belajar. Suatu kerugian jika kita menanam benih kemudian tidak bisa mengambil hasilnya. Jika kita sanggup dalam menanam tetapi hasilnya diambil oleh musuh Islam maka ini adalah kerugian yang lebih besar lagi.

Categories: Tokoh Dakwah | Tag: , | Tinggalkan komentar

Malfuudzat 6


Beliau berkata, “Apabila seorang hamba ingin berbuat kebaikan, maka syaitan akan menghalanginya dengan berbagai cara dan menyempitkan jalannya serta menimbulkan rintangan. Jika cara ini tidak berhasil maka syaitan akan menggunakan cara merusak niat dan keikhlasan dengan menyuntikan racun Riya’ dan sum’ah dan mencabangkan niatnya agar timbul niat lain. Syaitan selalu berhasil dengan muslihat ini.

Maka ahli agama hendaklah berhati-hati atas tipu daya ini dan senantiasa memeriksa niat kita. Niat hanya karena Allah jangan dicampur dengan niat lain yang menyebabkan amal tersebut tidak diterima.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzat 5


Beliau berkata, “Ada ahli agama dan ulama yang salah memahami ISTIGHNA (tidak berhajat kepada yang lain selain keredhaan Allah). Mereka menyangka bahwa maksud istighna adalah tidak bertemu dan bergaul dengan orang-orang kaya dan hartawan. Padahal maksud istighna adalah kita pergi jumpai mereka dengan perasaan tidak berhajat kepada harta dan pangkat tapi semata-mata untuk ishlah diri mereka. Bertemu dengan maksud agama dan menyampaikan perkara agama, tidak menyalahi maksud istighna bahkan ini sangat penting. Yang perlu dijaga sewaktu kita bertemu dengan mereka adalah hati kita jangan terkesan serta tidak berhajat kepada dunia dan pangkat mereka.

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | Tinggalkan komentar

Malfuudzat 4


Beliau berkata, “Derajat WAJIB adalah lebih tinggi daripada SUNNAH. Perlu difahami bahwa sunnah itu untuk menyempurnakan hal wajib yang ada kekurangan. Sunnah adalah penghias dan wajib adalah tujuan. Banyak orang salah faham. Mereka melalaikan yang wajib dan sibuk dengan amalan sunnah. Tuan-tuan telah mengetahui bahwa dakwah ilal khair, amar makruf dan nahi mungkar adalah FARDHU dan kewajiban agama. Berapa banyak orang yang melakukannya? Sedangkan dzikir-dzikir sunnah dan banyak lagi amalan agama yang derajatnya sunnah, sangat banyak orang yang mengerjakannya.”

Categories: Tertib Dakwah | Tag: | 1 Komentar