Posts Tagged With: Ismail

Bayan Subuh Musyawarah Indonesia -Maulana Ismail


Setelah membaca AlQuran dan Hadits-Hadits Nabi Muhammad saw, diantaranya Nabi telah sabdakan: Jika amir-amir kalian adalah orang yang terbaik, demikian pula orang-orang kaya kalian adalah orang dermawan, dan masalah-masalah kalian dimusyawarahkan, maka hidup di atas bumi lebih baik daripada hidup di bawah bumi. Tapi apabila amir-amir kalian adalah orang yang bodoh, begitupula orang-orang kaya adalah orang yang paling bakhil, dan perkara-perkara diserahkan keputusannya kepada wanita, maka di bawah bumi lebih bagus daripada di atasnya. Selanjutnya beliau katakan bahwasanya asas daripada kerja kita ini adalah yakin kepada Allah, juga doa, dan pengorbanan, serta bermusyawarah.

Maka dakwah akan membawa hasil jika ke-4 perkara ini ada pada kita, yaitu yakin kepada Allah, doa, pengorbanan ditambahkan, serta bermusyawarah, maka hasilnya akan nampak di depan mata kita nantinya, tapi sekiranya kurang satu saja, maka hasilpun tidak ada. Kita berdakwah-dan berdakwah sementara yakin kita tidak kepada Allah SWT. Atau kita berdakwah tapi lemah dalam berdoa, atau kita berdakwah tapi tidak mau menambah pengorbanan juga hasil yang kita inginkan tidak akan tercapai. Begitu juga dakwah dan berdakwah tapi tidak mau bermusyawarah, pakai pemikiran sendiri-sendiri, maka hasil tidak kita dapatkan dalam dakwah. Memang yang menurunkan hidayah adalah Allah tapi asbab turunnya hidayah adalah dakwah ada apabila empat perkara ini kita perhatikan. Kita berdakwah tapi semakin yakin kepada Allah SWT bukan kepada kebendaan, kita berdakwah tambahkan doa panjang-panjang, tambahkan pengorbanan, disamping itu kita selalu bermusyawarah, maka hasil pun akan kita lihat di depan mata kita.

Bila kita kerjakan dakwah dengan keempat perkara tadi dan hasilnya pun nampak. Maka tetap kita kembalikan bahwa ini adalah hidayah dari Allah SWT, bukan daripada hasil kerja kita. Tapi kalau hasilnya belum nampak di depan kita, jangan kita berputus asa, tetap kelemahan kita kembalikan kepada diri kita sebagaimana Nabi kita Muahammad saw telah berkorban dan berkorban, ternyata orang-orang Thaif menolak kehadiran Nabi bahkan melempar dengan batu, Beliau tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi Beliau menyalahkan diri sendiri dalam doanya: “Ya Allah aku adukan akan kelemahanku, tidak pandainya aku dalam berbicara, dan aku belum lagi dimuliakan di tengah-tengah manusia.” Kesalahan dinisbahkan kepada diri sendiri bukan kepada orang lain ataupun mengeluh kepada Allah hingga berputus asa, tidak. Dai tidak boleh berputus asa, dan Allah berfirman tidaklah berputus asa kecuali orang yang kafir atau orang yang sesat.

Maka dai selalu menisbahkan kesuksesan kepada Allah SWT, walau pun ia selalu berkorban dan berkorban, tetap meyakini semua hasil semata-mata karunia dari Allah, maka saat-saat fathul Mekkah, saat Nabi memasuki kota Mekkah dengan para sahabat, keadaan beliau tidak menyombongkan diri bahkan beliau menunduk hampir mengenai punuk onta dan beliau berkata, Segala puji bagi Allah saja, yang telah menepati janjiNya, dan Dia yang telah mengalahkan musuh-musuh dengan sendiri saja. Nabi selalu menisbahkan kemenangan kepada Allah SWT, bukan kepada diri beliau sendiri. Kemenangan pada perang Badar, perang Ahzab, juga fathu Mekkah, semata-mata adalah karunia daripada Allah.

Ini kerja telah diterima oleh Allah SWT, dikerjakan oleh ambia dan para sahabat, terjaga hadirin. Yang membuat ini kerja adalah Allah dan yang menjaga ini kerja juga adalah Allah. Kerja ini tidak bisa ditantang atau dibahayakan, yang berbahaya adalah para dai itu sendiri. Dainya diterima oleh Allah atau tidak? Hasil kerja sudah berkembang dan dia merasa ini hasil kerja saya, maka sebentar lagi dia akan disingkirkan oleh Allah SWT. Jadi yang berbahaya bukan kerja, diri dia sendiri yang berbahaya kalau dia merasa ini kerja karena hasil kerja saya, maka sebentar lagi akan disingkirkan oleh Allah. Sebaliknya dia ikhlas, dia tidak ingin dipuji, tapi orang lain yang memuji, kalau tidak ada dia bagaimana, maka Allah akan ambil dia dengan cepat, Allah matikan atau Allah wafatkan. Supaya jangan sampai dia berbahaya dengan pujian-pujian yang begitu banyak, ataupun Allah tidak mau disaingi dengan pujian, maka cepat-cepat dia dimatikan oleh Allah SWT.

Dalam malfudzat Maulana Ilyas, bila dai buat kerja dengan usul yang benar, maka Allah SWT akan segerakan hidayah kepada dia, hidayah atau kebaikan-kebaikan yang akan datang, karena kerja dakwah yang dikerjakan dengan ushul yang benar, maka kebaikan-kebaikan itu akan disegerakan oleh Allah. Sebaliknya jika dai buat kerja tanpa ushul, atau ushul kerja diabaikan, maka kejelekan-kejelekan yang tadinya akan datang pada masa yang lama, akan disegerakan oleh Allah SWT. Hendaklah ushul-ushul dakwah diperhatikan oleh para dai, sehingga akan mempercepat turunnya kebaikan. Kalau ushul diabaikan akan dipercepat datangnya keburukan, di antara keburukan adalah adanya PERPECAHAN di antara umat, begitu juga kesatuan hati akan hilang, hingga di antara dai pun berpecah belah sendiri, karena mereka telah meninggalkan ushul-ushul dakwah.

Dai yang buat kerja dengan penuh yakin kepada Allah, dan dia mendoa dan menambah pengorbanan, tapi tidak mau bermusyawarah. Kerja dengan pemikiran sendiri, maka bukan kebaikan-kebaikan yang datang, tapi kerusakan-kerusakan yang akan datang dalam dakwah ini. Penting sekali kita letakan diri kita dalam musyawarah, buat ini kerja dengan bermusyawarah. Ada beberapa keuntungan bila musyawarah senantiasa kita kerjakan, pertama dengan bermusyawarah kita akan tahu potensi-potensi umat, dan potensi-potensi itu bisa kita gunakan untuk agama. Kedua, perpecahan akan dihilangkan oleh Allah SWT, perpecahan antar ulama akan dihilangkan oleh Allah, perpecahan antara orang Arab dan orang Ajam (non Arab) akan dihilangkan oleh Allah. Tidak nampak lagi perbedaan bangsa, bahasa karena adanya musyawarah.

Bersambung….

Categories: Bayan | Tag: , | Tinggalkan komentar

Nizamuddin Dahulu Kala


” … OLD NIZAMUDDIN … OLD DELHI … ” , نظام الدّین , दिल्ली

Pada abad ke 19 di kawasan sekeliling Nizamuddin yang mana terdapat Masjid Banglawali asal muasalnya adalah hutan kecil di pinggiran kota New Delhi, pada awal penjajahan Inggris / British di India, daerah ini dimiliki oleh seorang kerabat Raja Moghul yang dikenal dengan panggilan ‘Nawab’, Nawab artinya Raja untuk Raja Islam, di zaman itu, ‘Raja’ adalah panggilan bagi kerabat bangsawan raja-raja Hindu. Nawab ketika itu sering dituduh yang aneh-aneh oleh Mahkamah Kolonial Inggris/British dengan taruhan nyawa dan hartanya atas perbuatan yang tak pernah dia lakukan dan tentu saja tak pernah terbukti. Waktu itu adalah masa yang sulit bagi tokoh-tokoh atau pembesar-pembesar Islam. Orang Hindu menggunakan fitnah dan hasutan pada kerajaan Inggris/British terhadap orang Islam. Tapi Allah SWT gerakkan rencanaNya dengan penuh kebijaksanaan. Pada waktu yang bersamaan , terdapat seorang alim ulama yang warak dan zuhud, dari keturunan Sayyidina Abu Bakar ra bernama Mualana Ismail yang menetap di Saharanpur. Nama beliau cukup terkenal dan sedang masyhur sebagai alim dan wali di Jazirah India. Yang menyebabkan, banyak orang meminta hajat yang bermacam macam seolah-olah beliau adalah ahli nujum atau seorang dukun. Keadaan ini telah menganggu jiwa dan hati beliau. Maka beliau pun mengasingkan diri hidup di sebuah hutan di Delhi.

Pada suatu hari, Nawab pergi berburu bersama anak buahnya di sekitar hutan miliknya. Dalam perburuan beliau itu, beliau terkejut ketika menjumpai sebuah bangsal buruk dan seorang berjanggut dan bersurban dalam hutannya. Dengan sikap besar diri sebagai pemilik tanah, Nawab memanggil si janggut itu padanya. Dengan sikap merendah diri, si Janggut meminta maaf kerana mendiami tanah si Nawab dan lantas meminta izin untuk tinggal di situ. Akhirnya si Janggut itu pun dibolehkan mendiami tempat tersebut dengan syarat si Janggut itu bersedia menjadi ‘Gulam’ atau budak suruhan menjaga hutan itu. Syarat ini di terima . Tanpa disadari oleh Si Nawab bahwa Si Janggut itu adalah si alim Maulana Ismail .

Di waktu yang tidak lama kemudian, Nawab akan di adili di Mahkamah Pengadilan Kolonial atas dakwaan berkomplot untuk mengulingkan kerajaan Inggris/British dari tanah India. Jika terbukti bersalah , beliau akan di hukum mati dan hartanya akan dirampas.  Nawab berada dalam kerisauan dan kegelisaan.

Beliau dinasihati oleh rekan kerabat dan sanak saudaranya agar mencari seseorang yang mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah dan doa yang makbul. Mereka percaya hanya itu satu2nya cara untuk selamat dari tuduhan. Dan hanya Allah swt saja tempat mengadu permasalahannya. Maka beliau pun bertanya pada orang-orang di banyak tempat dimana bisa menemui orang yang mempunyai kelebihan dibidang agama. Kebanyakkan orang menyebut nama `Mualana Ismail` dari Saharanpur. Nawab pun mencari di Saharanpur tapi malangnya orang yang dicari telah lama menghilang. Tanpa berputus asa, Nawab berusaha keras untuk mencari Maulana Ismail. Alangkah terperanjatnya waktu ia diberitahu anak buahnya bahwa orang yang dicari-cari adalah si ‘Gulam’ di hutannya. Dengan tergesa-gesa ia menuju kehutannya, lalu menjatuhkan dirinya di bawah kaki Maulana Ismail, si Gulam itu.

” … Sekarang ini, saya adalah ‘Gulam’ dan anda adalah ‘ Tuan ‘ saya …” , kata kata yang tersembul keluar dari mulut Nawab . Lantas dibangkitkan diri Nawab itu oleh Maulana Ismail dan dengan penuh simpati mendengar keluh kesah Nawab itu. Maulana mengusulkan cara bagaimana untuk selesaikan masalah tersebut . Nawab diminta untuk berwudhuk lantas di ajaknya Nawab untuk sholat hajat bersama samanya , kemudian ia minta Nawab mengaminkan doa Mualana Ismail . Beliau mengatakan kepada Nawab supaya berupaya menggunakan sendiri kekuatan sholat dan doa . Mengharap dan meminta hanya pada Allah swt.

Nawab pun pada akhirnya diadili di Mahkamah , dan ternyata beliau tidak terbukti bersalah . setelah sidang selesai Nawab bergesa2 mencari Maulana Ismail untuk memberi khabar baik ini , ” … Maulana , Allah telah kabulkan permintaan kita. Sekarang nyawa saya telah selamat.tapi harta saya dirampas …” , Maulana Ismail kemudiannya mengusulkan supaya banding atas putusan pengadilan itu , dan Nawab melakukan seperti yang diusulkan maulana . Seperti sebelumnya Nawab sholat hajat bersama Maulana Ismail tetapi kali ini Nawab sendiri berdoa dan Maulana mengaminkan . Akhirnya keputusan Mahkamah berpihak kepada Nawab . Nyawa dan harta di kembalikan pada nya dan Kerajaan Inggris / British memberi jaminan pelindungan pada Nawab dan keluarganya , malah memberi peringatan yang sangat keras terhadap siapa saja terutama orang Hindu yang berani buat fitnah lagi akan di hukum.

Nawab berkata , “… Maulana sab, dulu nyawa dan harta saya telah hampir hilang, kini semuanya telah saya miliki kembali . Maka saya sudah buat keputusan untuk mewakafkan nyawa dan harta saya untuk Maulana …” , Maka sejak hari itu Nawab berkhimat dan berguru dengan Maulana Ismail hingga akhir hayatnya . Dan kini pusara beliau dan Maulana Ismail masih terjaga di Nizamuddin , India .
Dan dari anak Maulana Ismail telah lahir manusia yang bernama Maulana Ilyas rah , seorang hamba Allah yang di pilih oleh Allah swt untuk menghidupkan kembali kerja kerja dakwah Rasulullah dan para sahabatnya .

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , | Tinggalkan komentar