Kisah Dakwah

Penjelasan Syura Indonesia -Ustadz Muslihuddin di Pertemuan Solo


Di Jakarta terjadi perbedaan pendapat antar para masyaikh di Nizamuddin, jadi bukan perbedaan pendapat antara Nizamuddin dan Reiwind, tapi antara para masyaikh dengan yang mulia Maulana Saad DB. Sehingga kami dengar sebagian masyaikh meninggalkan Nizammuddin. Kumpul semua syura di Kebon Jeruk untuk membahas masalah itu. Saya usulkan, kita jangan mempercayai dulu berita-berita ini dari orang, surat-surat, dari WhatsApp. Tapi kita langsung tabayun kepada yang bersangkutan. Langsung kita jumpa satu per satu masyaikh. Apa masalahnya, tanya langsung kepada beliau. Jumpa Maulana Saad, jumpa maulana Ibrahim, jumpa maulana Yaqub, jumpa maulana Ahmad Lat, para masyaikh langsung.

Lalu disetujui, katika itu bersamaan akan ada ijtimak akan adanya di Tongi, maka kami semua berangkat ke Tongi pada Januari 2017. Kita minta waktu untuk jumpa langsung Maulana Saad. Pertanyaannya redaksinya kami musyawarahkan terlebih dahulu sebelum jumpa beliau, mutakalimnya pak Cecep, diterjemahkan bahasa Arab oleh Ustadz Lutfi, supaya kami bisa pahami semua yang disampaikan, Lalu kami jumpa beliau. Pak Cecep mengatakan atas nama Indonesia kami menyayangi, mencintai maulana Saad,  juga mencintai semua para masyaikh di Nizamuddin, di Reiwind, dan di Kakrail. Juga permohonan kami, pertama kami ingin para masyaikh untuk kembali lagi ke Nizamuddin, dan kami memohon kepada maulana Saad agar semua tertib-tertib yang akan disampaikan bermusyawarah dahulu kepada para masyaikh. Beliau menyambut dengan baik, saya juga ingin para masyaikh kembali ke Nizamuddin, tapi kata Beliau ingin para masyaikh kembali ke Nizamuddin tanpa syarat. Maulana mengatakan mereka akan kembali dengan syaratnya saya harus mengakui syura alami, itu kesimpulan ketika kami menghadap Beliau. Kemudian ada peristiwa lagi, waktu itu setelah maghrib malamnya ada musyawarah besar, musyawarah program. Semua masyaikh dari India, Banglades, dan Pakistan hadir, kecuali Bay Wahab karena ada uzur, sakit. Semau syura Indonesia juga hadir, saya, ustadz lutfi, pak Cecep, Pak Syuaib, Kiyai Mukhlisun, juga beberapa orang lama hadir disitu. Maulana Saad memberikan targhib, dan saya hafal perkataannya itu dan memang bagus sekali, “Saudara-saudara sekalian usaha dakwah ini akan maju karena ada pertolongan Allah Ghaibiyyah, dijelaskan panjang lebar. Bukan didukung oleh orang kaya, pengusaha. Nusratullah itu akan muncul karena Ijtimaiyyat, tiga unsur ijtimaiyyat yaitu kesatuan hati, kesatuan pikir, dan yang ketiga kesatuan …. Dan ijtimaiyyat ini akan muncul dengan adanya Musyawarah. Musyawarah itu akan makbul dengan adanya ketaatan. Sampai situ maulana berhenti. Satu orang berbahasa Arab berdiri, mengatakan ketaatan adalah ketaatan kepada Amir, Amir kita saat ini adalah Maulana Saad. Dan hadraji kita adalah maulana saad, setuju…? Sebagian orang mengatakan setuju, kebanyakan diam. Lalu berdiri orang berbahasa Inggris. Maksud ketaatan Beliau adalah ketaatan kepada Amir, Amir alam kita saat ini adalah maulana Saad. Setuju…? Apa yang dikatakan oleh maulana Saad, “Ana khadimukum”. Maksudnya membenarkan apa yang dikatakan oleh kedua orang itu, saya Amir kalian, ini iklan kepada seluruh dunia dan beliau mendeklarasikan kalau beliau adalah Amir. Menurut keterangan dari Maulana Husein dari Benglore putra dari Maulana Qasim Quraisyi yang kemarin datang ke Jakarta. Beliau pertama kali mengangkat diri menjadi Amir pada Ijtimak Bophal tahun 2015, itu yang membuat geger di India. Dan yang secara alam (dunia) itu dideklarasikan di Ijtimak Tongi, saya mendengarkan langsung, ustadz Lutfi dan lainnya.

Nah setelah itu kembali ke Jakarta, musyawarah lagi. Untuk jumpa kepada masyaikh yang lain. Kami hubungi maulana Faruk, lalu meminta kami datang ke Pakistan karena ada jord qudama di Pakistan. Maka sepakat semua ke Pakistan, kami minta waktu untuk bertemu, semua masyaikh kumpul. Syaikh Abdul Wahhab, Maulana Ibrahim, Maulana Yaqub, Maulana Ahmad Lat, Maulana Sanaullah, dll kumpul dalam satu ruangan. Mutakalimnya pak Cecep diterjemahkan oleh saya dalam bahasa Inggris. Waktu itu kami sampaikan seperti yang disampaikan ke Maulana saad, tapi ada tambahannya, Kenapa para Masyaikh meninggalkan Nizamuddin? Bukankah lebih baik kalau para masyaikh kembali ke Nizamuddin dan menyelesaikan masalah yang terjadi disana, jadi umat tidak terbelah-belah seperti ini. Jawabannya apa, kami sudah berusaha sejak 21 tahun yang lalu untuk bagaimana menyatu tapi tidak bisa. Bahkan kemudian dari penjelasan-penjelasan itu. Kami-kami ini adalah guru-guru dari Maulana Saad, kami telah menyarankan untuk segala sesuatu dimusyawarahkan, tapi tidak pernah didengar, tidak pernah ikut. Apalagi setelah deklarasi menjadi Amir, siapa saja di Nizamuddin yang tidak mendukung keamiran Beliau dan tidak menyetujui apa-apa yang menjadi pemikiran Beliau, diintimidasi. Ini saya dengar langsung, bukan katanya ini. Ini disampaikan Syaikh Faruq dan Dr Sanaullah, itu diulang-ulang. Kami yang tidak sepaham dengan beliau dan tidak mengakui keamiran beliau, kami dipukuli sampai berdarah-darah dan kami diancam untuk dibunuh, itu yang mengatakan Dr. Sanaullah, maka untuk menyelamatkan jiwa kami sementara kami pindah dulu, itu alasannya. Kemudian alasan yang lain adanya reaksi keras dari ulama-ulama di seluruh India sebagaimana yang dijelaskan ustadz Lutfi, tapi saya ulang lagi, yang saya dengar langsung, saya dokumennya ada, bukti-bukti ada, dari Deoband, dari Saharanpur, dari Lucknow, bahkan dari negeri-negeri lain South Africa, ada dokumennya. Dan apa-apa masalah-masalah yang mereka tentang itu, tafsiran-tafsiran Hadits Quran itu diuraikan secara mendetail bertentangan dengan pendapat jumhur ulama. Yang dulunya mufti-mufti ini, zaman Maulana Ilyas, zaman Maulana Yusuf, zaman Maulana In’amul Hasan adalah pendukung-pendukung kuat dakwah, sehingga dakwah tersebar ke seluruh India, diterima karena dukungan para ulama. Mereka belum terlibat langsung dalam amal dakwah, ulama umum, ulama madrasah. Mufti-mufti, seperti mufti Ubaidullah di New Delhi, Mulvi Ali Thanwi, dll. Pemikiran-pemikiran Beliau yang disampaikan dalam bayan-bayan sudah bertentangan dengan jumhur ulama India saat ini. Awalnya mufti-mufti ini masih menahan, namun karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari umat Islam, terpaksa dikeluarkan fatwa. Tapi sebelum dikeluarkan fatwa, para mufti ini datang ke Nizamuddin. Untuk tabayun kepada Maulana Saad, tapi ternyata maulana diam, tapi tidak merubah fatwa-fatwanya. Karena bertahun-tahun tidak ada perubahan maka para ulama mengeluarkan fatwa, bahwa tafsiran AlQuran dan Hadits oleh Maulana Saad telah keluar dari Ahli Sunnah wal Jamaah, ini sangat berbahaya kepada dakwah. Dengan alasan-alasan ini para masyaikh keluar dari Nizamuddin. Kalau mereka tetap di Nizamuddin nanti mereka akan dicap setuju dengan apa yang difatwakan oleh Beliau. Untuk menyelamatkan usaha dakwah kami terpaksa keluar dari Nizamuddin sampai keadaan kondusif lagi, kami akan kembali ke Nizamuddin.

Dan kami tidak membuat markaz lagi. Markaz di India satu. Lalu kami bermusyawarah bagaimana menyikapi keadaan ini setelah jumpa dengan para masyaikh. Kami bermusyawarah di salah satu ruangan yang disediakan untuk Indonesia di Reiwind. Ditanya satu persatu, sebagai usulan, lalu Beliau, Yang Mulia, Pak Cecep memutuskan berdasarkan pengamatan langsung dan pertanyaan-pertanyaan kami, untuk menyatukan kerja di Indonesia, kerja di Indonesia tidak ada berubahan, apa-apa yang diperselisihkan oleh para masyaikh, tidak dihentikan dan tidak ditarghibkan. Adapun masalah-masalah yang terjadi di Indonesia merujuk kepada Syura Alam. Ini keputusan dari pak Cecep dan kita semua setuju. Saya usulkan kesepakatan ini kita tulis dan kita tandatangani, maka ditulis. Yang disuruh nulis, saya. Maka dibaca oleh pak Cecep, atas nama syura Indonesia, Beliau tanda tangan sendiri. Kemudian setelah itu kembali ke Indonesia, beliau mengusulkan untuk mengundang Syura Alami di Musyawarah Indonesia bulan April agar mereka membimbing kita, itu usulan pak Cecep. Kami setuju, itu bagus. Maka disampaikan dan mereka setuju untuk hadir. Ringkasnya, kemudian kita adakan musyawarah Indonesia dan syura alam hadir dari India, dan Pakistan, kemudian pak Cecep hadir ke Malaysia, kami usulkan untuk tidak kesana. Namun pak Cecep tetap ke Malaysia dengan tujuan untuk menyampaikan sikap Indonesia di sana. Apa yang dibicarakan di Malaysia kita tidak tahu, tapi kesimpulannya Maulana Saad akan mengirimkan juga utusannya untuk musyawarah Indonesia. Ini jadi runyam disini. Ringkasnya kemudian hadir kedua pihak, satu dari Syura Alam, satu dari Maulana Saad. Waktu itu kami musyawarah, kami, syura Indonesia dan Syura Alam. Bagaimana cara menghandle keadaan ini, pasti akan perang dimimbar ini. Maka syura alam mengatakan, bahwa yang diundang kan kami, jadi yang menghandle kami semua. Kami atas undangan kalian. Iya juga ya. Mereka itu tamu yang tidak diundang, ya diterima dengan baik, tapi jangan ikut campur di mimbar, pasti akan bertentangan. Silakan diputus. Kami (syura alami) dapat pesan dari Bay Wahhab yang putus musyawarah bukan syura alami, yang menjadi faisalat program itu adalah syura Indonesia. Maka ditawarkan, siapa yang akan menjadi faisalat? Tidak ada yang mau. Pak Cecep tidak mau, saya tidak mau, yang lain juga tidak mau. Kata Belaiau, kalian tidak mau jadi faisalat itu bagus, tapi harus taat katanya. Maka setelah musyawarah  antara syura alami diputuskan yang menjadi faisalat musyawarah program adalah Muslihuddin. Wah jadi masalah buat saya ini. Saya bilang saya mau tanya dulu senior saya pak Cecep, saya bilang. Pak gimana pak? Gak mungkin kalau masih ada bapak saya jadi faisalat, kata pak Cecep, gak papa terima aja. Jadi karena Beliau mengatakan seperti itu, saya terima dengan berat hati. Karena saya menyadari ini saya dihimpit dua gunung ini. Itulah yang terjadi di Cikampek saya dianggap kudeta, mengambil alih faisalat Indonesia. Ya saya terima, saya diam saja. Tapi saya jelaskan, setelah itu mengkristal perbedaan, sehingga mereka mengadakan pertemuan di Medan. Itu juga kami mengatakan sebaiknya bapak jangan pergi ke Medan. Bikin masalah. Gak, saya pergi kesana untuk menjelaskan agar tidak terjadi perpecahan, tapi tetep berangkat juga, tapi yang aneh kemudian bahkan Beliau turut mengundang untuk hadir di Nizamudin tanggal 24 juni 2017. Dan terang-terang mengatakan bahwa Pak Cecep bahwa saya sekarang mendukung Maulana Saad, jadi pak Cecep sekarang sudah meninggalkan kami (Syura Indonesia yang lain) ya kan. Yang tadi sepakat merujuk syura alam sekarang, di Medan mengatakan saya sekarang mendukung Maulana Saad. Itulah, menjadi masalah berkepanjangan, lalu ada pertemuan di Semarang, yang lebih membelah lagi keadaan-keadaan itu. Saya secara pribadi tidak ada masalah dengan pak Cecep. Bahkan waktu itu, beberapa hari sebelum lebaran saya datang ke kamarnya, saya bicara dari hati ke hati, pak, di antara seluruh syura Indonesia yang lebih lama adalah Bapak dan Saya, Saya dan Bapak adalah yang paling bertanggung jawab. Kalau sampai dakwah di Indonesia terpecah belah, bagaimana nanti kita menghadap Allah. Pak Cecep termenung.. Saya setuju, tapi bagaimana? Saya katakan, pak coba kita kumpulkan seluruh syura, kita duduk dengan hati yang jernih, kita pikirkan bagaimana menyatukan Indonesia, kapan? Saya telepon seluruh syura, disepakati tanggal 1 Juli, bertepatan dengan pergantian petugas khidmat markaz daerah Bengkulu, Lampung, dan Palembang dengan Makasar, Sulawesi. Semua sepakat tanggal 1. Setelah beberapa hari kemudian saya dapat berita undangan disebar ke seluruh Indonesia, terutama temen-temen yang menunjukan dukungan ke Maulana Saad. Saya tanya, pak! Kenapa ngundang banyak-banyak? Iyalah, katanya. Saya dengar Pak Syuaib akan bawa pasukan 100 orang katanya. Darimana itu pak? Tanggal 1 itu kan pergantian petugas khidmat. Jadi kalo Pak Syuaib bawa satu, dua orang khidmat, bukan bawa pasukan untuk nyerbu Kebon Jeruk. Oh gitu. Tapi undangan kan sudah gak bisa di cancel. Itulah yang terjadi tanggal 1, oleh karena itu suasana genting kami laporkan kepada para masyaikh. Ini terjadi masalah begini ni. Tanggal 1 ada pertemua, para penanggung jawab diundang dari pihak pak Cecep ya kan. Langsung bay Wahab sendiri yang tulis surat, kalian jangan adakan pertemuan tanggal 1. Itu langsung dari beliau, mungkin beliau ada firasat yang tinggi akan terjadi masalah. Nah kesimpulannya tanggal 1 syura-syura yang lain tidak boleh hadir. Kalau saya kan hari-hari ada di Kebon Jeruk, ya saya ada disitu. Tapi saya gak ikut pertemuan. Nah, karena tidak hadir, maka syura alami mengirim 3 orang utusan menyampaikan pesan Bay Wahab. Diutus Haji Maimun, Farid Sungkar, dan Haji Burhan. Namun Haji Burhan berhalangan digantikan oleh Abu Bakar Bogor. Waktu itu berkumpallah pak Cecep dengan semua penanggung jawab daerah di satu ruangan. 3 orang tadi jam 9 menyampaikan pesan dari masyaikh, ditanya, mana syura-syura. Disampaikanlah oleh Haji Maimun sebagai mutakalim bahwasanya melihat situasi dan kondisi syaikh Abdul Wahab menyatakan untuk tidak membuat pertemuan tanggal 1, ini suratnya. Dibacakan dan diserahkan. Setelah itu karena orangnya banyak, diumumkan jam 9 pertemuan di lantai 2. Apa yang diputuskan disana, diantaranya bahwa Kebon Jeruk ini adalah khusus untuk kegiatan kita yang merujuk kepada Maulana Saad. Jadi syura alami silakan cari tempat lain. Itu ada keputusannya tertelis, ditandatangani oleh pak Cecep. Dan lain-lain ada, tapi intinya itu. Oleh karena itu, makanya temen-temen memilih sementara untuk tidak datang ke Kebon jeruk. Karena banyak masalah yang harus dihandle maka dipilih tempat di Masjid Al Muttaqin Ancol. Saya sendiri tetap bertahan di Kebon Jeruk.

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , , , | 1 Komentar

Nizamuddin Dahulu Kala


” … OLD NIZAMUDDIN … OLD DELHI … ” , نظام الدّین , दिल्ली

Pada abad ke 19 di kawasan sekeliling Nizamuddin yang mana terdapat Masjid Banglawali asal muasalnya adalah hutan kecil di pinggiran kota New Delhi, pada awal penjajahan Inggris / British di India, daerah ini dimiliki oleh seorang kerabat Raja Moghul yang dikenal dengan panggilan ‘Nawab’, Nawab artinya Raja untuk Raja Islam, di zaman itu, ‘Raja’ adalah panggilan bagi kerabat bangsawan raja-raja Hindu. Nawab ketika itu sering dituduh yang aneh-aneh oleh Mahkamah Kolonial Inggris/British dengan taruhan nyawa dan hartanya atas perbuatan yang tak pernah dia lakukan dan tentu saja tak pernah terbukti. Waktu itu adalah masa yang sulit bagi tokoh-tokoh atau pembesar-pembesar Islam. Orang Hindu menggunakan fitnah dan hasutan pada kerajaan Inggris/British terhadap orang Islam. Tapi Allah SWT gerakkan rencanaNya dengan penuh kebijaksanaan. Pada waktu yang bersamaan , terdapat seorang alim ulama yang warak dan zuhud, dari keturunan Sayyidina Abu Bakar ra bernama Mualana Ismail yang menetap di Saharanpur. Nama beliau cukup terkenal dan sedang masyhur sebagai alim dan wali di Jazirah India. Yang menyebabkan, banyak orang meminta hajat yang bermacam macam seolah-olah beliau adalah ahli nujum atau seorang dukun. Keadaan ini telah menganggu jiwa dan hati beliau. Maka beliau pun mengasingkan diri hidup di sebuah hutan di Delhi.

Pada suatu hari, Nawab pergi berburu bersama anak buahnya di sekitar hutan miliknya. Dalam perburuan beliau itu, beliau terkejut ketika menjumpai sebuah bangsal buruk dan seorang berjanggut dan bersurban dalam hutannya. Dengan sikap besar diri sebagai pemilik tanah, Nawab memanggil si janggut itu padanya. Dengan sikap merendah diri, si Janggut meminta maaf kerana mendiami tanah si Nawab dan lantas meminta izin untuk tinggal di situ. Akhirnya si Janggut itu pun dibolehkan mendiami tempat tersebut dengan syarat si Janggut itu bersedia menjadi ‘Gulam’ atau budak suruhan menjaga hutan itu. Syarat ini di terima . Tanpa disadari oleh Si Nawab bahwa Si Janggut itu adalah si alim Maulana Ismail .

Di waktu yang tidak lama kemudian, Nawab akan di adili di Mahkamah Pengadilan Kolonial atas dakwaan berkomplot untuk mengulingkan kerajaan Inggris/British dari tanah India. Jika terbukti bersalah , beliau akan di hukum mati dan hartanya akan dirampas.  Nawab berada dalam kerisauan dan kegelisaan.

Beliau dinasihati oleh rekan kerabat dan sanak saudaranya agar mencari seseorang yang mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah dan doa yang makbul. Mereka percaya hanya itu satu2nya cara untuk selamat dari tuduhan. Dan hanya Allah swt saja tempat mengadu permasalahannya. Maka beliau pun bertanya pada orang-orang di banyak tempat dimana bisa menemui orang yang mempunyai kelebihan dibidang agama. Kebanyakkan orang menyebut nama `Mualana Ismail` dari Saharanpur. Nawab pun mencari di Saharanpur tapi malangnya orang yang dicari telah lama menghilang. Tanpa berputus asa, Nawab berusaha keras untuk mencari Maulana Ismail. Alangkah terperanjatnya waktu ia diberitahu anak buahnya bahwa orang yang dicari-cari adalah si ‘Gulam’ di hutannya. Dengan tergesa-gesa ia menuju kehutannya, lalu menjatuhkan dirinya di bawah kaki Maulana Ismail, si Gulam itu.

” … Sekarang ini, saya adalah ‘Gulam’ dan anda adalah ‘ Tuan ‘ saya …” , kata kata yang tersembul keluar dari mulut Nawab . Lantas dibangkitkan diri Nawab itu oleh Maulana Ismail dan dengan penuh simpati mendengar keluh kesah Nawab itu. Maulana mengusulkan cara bagaimana untuk selesaikan masalah tersebut . Nawab diminta untuk berwudhuk lantas di ajaknya Nawab untuk sholat hajat bersama samanya , kemudian ia minta Nawab mengaminkan doa Mualana Ismail . Beliau mengatakan kepada Nawab supaya berupaya menggunakan sendiri kekuatan sholat dan doa . Mengharap dan meminta hanya pada Allah swt.

Nawab pun pada akhirnya diadili di Mahkamah , dan ternyata beliau tidak terbukti bersalah . setelah sidang selesai Nawab bergesa2 mencari Maulana Ismail untuk memberi khabar baik ini , ” … Maulana , Allah telah kabulkan permintaan kita. Sekarang nyawa saya telah selamat.tapi harta saya dirampas …” , Maulana Ismail kemudiannya mengusulkan supaya banding atas putusan pengadilan itu , dan Nawab melakukan seperti yang diusulkan maulana . Seperti sebelumnya Nawab sholat hajat bersama Maulana Ismail tetapi kali ini Nawab sendiri berdoa dan Maulana mengaminkan . Akhirnya keputusan Mahkamah berpihak kepada Nawab . Nyawa dan harta di kembalikan pada nya dan Kerajaan Inggris / British memberi jaminan pelindungan pada Nawab dan keluarganya , malah memberi peringatan yang sangat keras terhadap siapa saja terutama orang Hindu yang berani buat fitnah lagi akan di hukum.

Nawab berkata , “… Maulana sab, dulu nyawa dan harta saya telah hampir hilang, kini semuanya telah saya miliki kembali . Maka saya sudah buat keputusan untuk mewakafkan nyawa dan harta saya untuk Maulana …” , Maka sejak hari itu Nawab berkhimat dan berguru dengan Maulana Ismail hingga akhir hayatnya . Dan kini pusara beliau dan Maulana Ismail masih terjaga di Nizamuddin , India .
Dan dari anak Maulana Ismail telah lahir manusia yang bernama Maulana Ilyas rah , seorang hamba Allah yang di pilih oleh Allah swt untuk menghidupkan kembali kerja kerja dakwah Rasulullah dan para sahabatnya .

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

WALISONGO ADALAH JAMAAH YANG BERTABLIGH


WALISONGO ADALAH JAMAAH YANG BERTABLIGH

1. TERTIB DAKWAH WALISONGO

Para Wali Songo yang datang ke Tanah Jawa bukan sendiri-sendiri dan tanpa program, beliau meninggalkan keluarga dan kampung halamannya untuk mendakwahkan agama dengan harta dan diri mereka untuk ta’at perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal ini bukan sekedar kebetulan, beliau berkumpul dengan sahabat-sahabat yang lain. Para Da’i dan Wali Allah yang masuk ke Tanah Jawa ini tidak hanya satu rombongan saja seperti anggapan kebanyakan orang. Sesungguhnya semua ada 5 periode atau 5 rombongan. Dalam 1 rombongan semuanya berjumlah 9 (sembilan) orang dan setiap satu rombongan semuanya memiliki keistimewaan atau keahlian sendiri-sendiri yang sangat munasib (kompeten) ada Ahli Tata Negara, Ahli Ilmu Dinniyah atau Agama, Ilmu Teknik, Ahli Seni, dll.

Periode yang ke 1

Amir (pimpinan) rombongan adalah Syech Maulana Malik Ibrohim makamnya di Gresik.
Ma’murnya (anggota) :

1. Syech Maulana Ibrohim As Samarqondi makamnya di Gresik Harjo Tuban

2. Syech Maulana Ishak makamnya di Aceh
3. Syech Maulana Ibrohim Jamadil Qubro makamnya di Pamijahan Jabar

4. Syech Maula Achmad Jamadil Qubro makamnya di Trowulan Mojokerto.

5. Syech Maulana Subakir pulang ke Persia.

6. Syech Maulana Sulthon Hasanuddin makamnya di Banten Lama.

7. Syech Maulana ‘Aliyuddin, adik Sulthan Hasanuddin makamnya di gunung Santri Cilegon.

8. Maaf kitabnya terkoyak karena terlalu kuno, tulisan nama kurang jelas, ada keterangan beliau pulang ke Tigriets – Irak.

 

Periode yang ke 2

Selang 9 tahun Hijriyah datang lagi satu rombongan periode yang ke 2

Amir rombongan Syech Maulana Rochmat yang di kenal dengan julukan Raden Rochmatatau Sunan Ampel karena bertempat di Desa Ampel Dento Surabaya.

Adapun anggotanya yang sebanyak 8 orang itu kebanyakan anggota yang lama disebabkan anggota yang lama sudah berkurang karena wafat, yakni Syech Maulana Ibrohim As Samarqondi yaitu ayah Sunan Ampel Syech Maulana Ibrohim Jamadil Qubro sedangkan Syech Subaqir pulang ke Persia awal tahun ke 8.

Periode yang ke 3

Amir adalah putra tunggal dari Syech Maulana Ishaq wafat di Aceh pada saat mendirikan sebuah Masjid di Banda Aceh. Adapun menurut Kitab Tarihul Auliya’, Syech Maulana Ainulyaqin adalah pengamal fiqih Al Hanafiyah yang sangat istiqomah seperti ayahnya.

Ma’mur atau anggota dari rombongan yang ke 3 ini adalah:

1. Syech Maulana Rohmatulloh yaitu Sunan Ampel, fiqihnya Hanafiyah.

2. Syech Maulana Maghdum Ibrohim atau Sunan Bonang fiqihnya As Syafi’iyah.

3. Syech Maulana Qosim Syarifuddin atau Sunan Drajat Al Hanafiyah.

4. Syech Maulana Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus Al Malikiyah.

5. Syech Maulana Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati Al Hanafiyah.

6. Syech Maulana Fatahillah Al Hanafiyah.

7. Syech Maulana Muhammad Sa’id atau Sunan Kali Jaga pengganti Syech Siti Jennar yang kena HUKUM KISHOS karena melanggar tertib Da’wah pada saat itu.

8. Syech Maulana Ainur Rohmat atau Sunan Sendang 9 km di sebelah barat dari Makam Sunan Drajat di desa Sendang satu kecamatan dengan Sunan Drajat.

Periode yang ke 4

Amir rombongannya adalah Syech Maulana Sulthan Fatahillah yang di kenal sebagai Raden Patah cucu dari Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit sendiri

Ma’murnya kebanyakan orang lama yaitu:

1. Sunan Giri.
2. Sunan Bonang.
3. Sunan Drajat.
4. Sunan Sendang.
5. Sunan Gunung Jati
6. Sunan Muriya yang ber-usia 19th.
7. Syech Maulana Taufiqur Rohman yang nama Tiong Hwoa-nya K. Cheng Hoo As Syafi’iyah.
8. Sunan Kudus.

Periode yang ke 5

Amir rombongan adalah Syech Maulana Umar Syahid atau Sunan Muriya As Syafi’iyah putra Sunan Kali Jaga yang pada saat itu ber-usia 25th.

Ma’mur rombongan ke 5 adalah :
1. Sunan Giri.
2. Sunan Bonang.
3. Sunan Sendang.
4. Sunan Tembayat.
5. Sunan Geseng.
5. Sunan Kudus.
7. Phai Lie Bang .
8. Syech Maulana Taufiqur Rohman nama Tiong Hwoa-nya K. Cheng Hoo.

Perlu diketahui dalam kitab Tarihul Aulya’ bahwa ke lima Rombongan ini mulai dari priode yang pertama sampai yang ke lima semuanya diberi BAYAN HIDAYAH di Masjid Nabawi Madinatul Munawwaroh al Arobiyyah Saudiyyah, sedangkan rombongan yang seterusnya sudah tidak di Bayan Hidayah di Masjid Nabawi lagi.

Di Kerajaan Demak sudah di dirikan Masjid yang menjadi Markaz beliau dan sudah sering di datangkan melalui Negeri Ghujarod (India sekarang). Karena tekanan dari misionaris dari Nederland, Portugis, dan Inggris yang menjajah Asia sehingga sangat banyak Ulama yang dibantai oleh mereka. Untuk menyiasati kejahatan orang-orang kristian pada saat itu, para Da’i kita untuk keluar di Jalan Allah yang sekarang di sebut Khuruj Fii Sabilillah tidak di batasi sebanyak 9 (sembilan) orang lagi dalam satu rombongan, namun program dan tertib Da’wah tetap di jalankan dengan Istiqomah. Seperti nishob, rute perjalanan, program Silaturrohim wilayah yang menjadi tujuan, Musyawarah, Ta’lim, tetap di jalankan seperti bisanya seolah olah tak pernah terjadi suatu apapun, dan tetap TAWAJJUH kepada ALLAH dan tidak terkesan dengan keadaan di luar lingkungan, tetap ta’at pada keputusan musyawaroh. Target utamanya adalah Da’wah, jadi siapapun manusianya diajak ta’at kepada Allah SWT dan ber-Amal Sholeh. Diajak untuk bersama-sama mengamalkan agama, menghidupkan amal-amal agama dan juga amal-amal masjid sebagaimana Masjid Madinah Al-Munawaroh. ternyata tertib dakwah mereka sama dengan tertib dakwah yang dilakukan oleh JT (Jamaah Tabligh), Pergerakan dakwah yg semakin berkembang saat ini.

Sumber kitab TARIKHUL AULIA’ karangan Syeikh Maulana Murodi bin Abdulloh bin Husain bin Ibrohim Al-Asy’ari

2. USAHA DAKWAH WALISONGO DALAM KITAB-KITAB

Ternyata tidak hanya Kitab Tarikhul Auliya Syaikh Maulana Murodi bin Husain bin Ibrohim al Asy’ari saja yang menceritakan tentang perjalanan usaha dakwah para walisongo di nusantara ini. Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah telah menuliskan laporan perjalanannya keliling dunia dalam Kitab Kanzul Ulum.

Di Gresik (daerah Leran) ditemukan batu bertahun 1082 Masehi berhuruf Arab yang menceritakan bahwa telah meninggal seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimunyang beragama Islam. Lalu disekitar tahun 1350 saat memuncaknya kebesaran Majapahit, di pelabuhan Tuban dan Gresik banyak kedatangan para pedagang Islam dari India dan dari Kerajaan Samudra (Aceh Utara) yang juga awalnya merupakan bagian dari Majapahit, disamping para pedagang Majapahit yang berdagang ke Kerajaan Samudra. Juga menurut cerita, ada seorang putri Islam berjuluk Putri Cempa dan Putri Cina yang menjadi isteri salah satu raja Majapahit.

Sangat toleransinya Majapahit terhadap Islam terlihat dari banyaknya makam Islam di desa Tralaya, dalam kota kerajaan, dengan angka tertua di batu nisan adalah tahun 1369 (saat Hayam Wuruk memerintah). Yang menarik, walau kuburan Islam tetap bentuk batu nisannya seperti kurawal yang mengingatkan kalamakara, berangka tahun huruf Kawi, yang berarti bahwa di abad XIV Islam walau agama baru bagi Majapahit tetapi sebagai unsur kebudayaan telah diterima masyarakat. Diketahui pula bahwa para pendatang dari barat maupun orang-orang Tionghoa ternyata sebagian besar beragama Islam, yang terus berkembang dan mencapai puncaknya di abad XVI saat Kerajaan Demak.

Mereka yang dianggap sebagai penda’wah yang sangat giat menyebarkan agama Islam diberi julukan Wali-Ullah dan di Jawa dikenal sebagai Wali Sanga (9), yang merupakan dewan Dakwah/Mubaligh. Kelebihan mereka dibanding kepercayaan/agama penduduk lama adalah tentang kekuatan bathin yang lebih, ilmu yang tinggi dan tenaga ghaib. Sehingga mereka selalu dihubungkan dengan tasawwuf serta sangat kurang dalam pengajaran fiqh ataupun qalam. Mereka tidak hanya berkuasa dalam agama, tapi juga dalam hal pemerintahan dan politik.

Menurut Kitab Kanzul Ulum Ibnu Batutah, Wali Sanga berganti susunan orangnya sebanyak 5 (lima) kali yaitu :

Dewan I tahun 1404 M :

1. Syeh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, ahli mengatur negara, dakwah di Jawa Timur, wafat di Gresik tahun 1419.

2. Maulana Ishaq, asal Samarkand – Rusia, ahli pengobatan, dakwah di Jawa lalu pindah dan wafat di Pasai (Singapura).

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, asal Mesir, dakwah keliling, makam di Troloyo – Triwulan Mojokerto.

4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, asal Maghrib – Maroko, dakwah keliling, makamnya di Jatinom Klaten tahun 1465.

5. Maulana Malik Isro’il, asal Turki, ahli mengatur negara, dimakamkan di Gunung Santri antara Serang Merak di tahun 1435.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar, asal Persia / Iran, ahli pengobatan, dimakamkan di Gunung Santri tahun 1435.

7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina, dakwah keliling, dimakamkan tahun 1462 di samping masjid Banten Lama

8. Maulana Aliyuddin, asal Palestina, dakwah keliling, dimakamkan tahun 1462 di samping masjid Banten Lama

9. Syeh Subakir, asal Persia, ahli menumbali tanah angker yang dihuni jin jahat, beberapa waktu di Jawa lalu kembali dan wafat di Persia tahun 1462.

Dewan II tahun 1436 M :

1. Raden Rahmad Ali Rahmatullah berasal dari Cempa – Muangthai Selatan, datang tahun 1421 dan dikenal sebagai Sunan Ampel (Surabaya) menggantikan Malik Ibrahim yang wafat.

2. Sayyid Ja’far Shodiq, asal Palestina, datang tahun 1436 dan tinggal di Kudus sehingga dikenal sebagai Sunan Kudus, menggantikan malik Isro’il.

3. Syarif Hidayatullah, asal Palestina, datang tahun 1436 menggantikan Ali Akbar yang wafat.

Dewan III tahun 1463 M :

1. Raden Paku / Syeh Maulana A’inul Yaqin pengganti ayahnya yang pulang ke Pasai, kelahiran Blambangan, putra dari Syeh Maulana Ishak, berjuluk Sunan Giri dan makamnya di Gresik.

2. Raden Said atau Sunan Kalijaga, putra adipati Tuban bernama Wilatikta, yang menggantikan Syeh Subakir yang kembali ke Persia.

3. Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Hasanuddin yang wafat.

4. Raden Qosim atau Sunan Drajad kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Aliyyuddin yang wafat.

Dewan IV tahun 1466 M :

1. Raden Patah putra raja Brawijaya Majapahit (tahun 1462 sebagai adipati Bintoro, tahun 1465 membangun masjid Demak dan menjadi raja tahun 1468) murid Sunan Ampel, menggantikan Ahmad Jumadil Kubro yang wafat.

2. Fathullah Khan, putra Sunan Gunung jati, menggantikan Al Maghrobi yang wafat.

Dewan V :

1. Raden Umar Said atau Sunan Muria, putra Sunan Kalijaga, yang menggantikan wali yang telah wafat.

2. Syeh Siti Jenar adalah wali serba kontroversial, dari mulai asal muasal yang muncul dengan berbagai versi, ajarannya yang dianggap menyimpang dari agama Islam tapi sampai saat ini masih dibahas di berbagai lapisan masyarakat, masih ada pengikutnya, sampai dengan kematiannya yang masih dipertanyakan caranya termasuk dimana ia wafat dan dimakamkan.

3. Sunan Tembayat atau adipati Pandanarang yang menggantikan Syeh Siti Jenar

3. SEMBOYAN WALISONGO

Para Walisoongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah :

1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpa pasukan tentara : Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan. Jangan yakin dengan banyaknya jumlah kita, yakin dengan pertolongan Allah swt.

2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap : Kita bergerak jumpa umat dari orang ke orang. jumpa ke rumah-rumah mereka. Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa asbab/ sebab yang nampak.

3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki : Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan. Niat untuk dakwah keseluruh alam, Allah swt yg berangkatkan kita bukan asbab-asbab dunia seperti harta dsb…

4. Senjoto Kalimosodo : Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih….(Kalimosodo : Kalimat Shahadat)

5. Digdoyo Tanpo Aji : Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik, perasaan dan mentalnya namun mereka seakan-akan seperti orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata. Kita dakwah, Allah swt akan Bantu (jika kalian Bantu Agama Allah, maka pasti Allah akan tolong kalian dan Allah akan menangkan kalian)

6. Perang Tanpo tanding : Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat atau bertengkar. dakwah dengan hikmah, kata-kata yg sopan, ahlaq yg mulia dan doa menangis-menangis pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah….bukan dengan kekerasan…. Nabi saw bersabda yg maknanya kurang lebih : ‘Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dgn hikmah) kepada mereka”

7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan : Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya.

8. Mulyo Tanpo Punggowo : Kemuliaan hanya dalam Iman dan Amalan agama bukan dengan banyaknya pengikut. Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi karena menjadi Da’i yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan hidup, maka Allah swt muliakan mereka.

9. Sugih Tanpo Bondo : Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia. Jangan yakin pada harta….kebahagiaan dalam agama, dakwah jangan bergantung dgn harta

10. Kuncara Tanpo Woro-woro : Menyebar, terkenal tanpa gembar-gembor, propaganda, iklan-iklan dsb

artinya bergerak terus jumpa umat, kerja untuk umat, kerja untuk Agama dengan ikhlas karena mengharap Ridho Allah swt, tidak perlu disiar-siarkan atau di umum-umumkan. Allah sajalah yang menilai perjuangan kita.

4. PESAN WALISONGO SUNAN KALIJOGO

1. Yen kali ilang kedunge : jika sungai sudah mulai kering… jika sumber air sudah mulai kering.. maksudnya jika para alim ulama sumber ilmu sudah mulai wafat satu persatu…maka ini alamat bahwa dunia mau di-Qiamatkan Allah SWT. Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati2 manusia yang gelap tanpa cahaya hidayah..

2. Yen pasar ilang kumandange : Jika pasar sudah mulai diam.. maksudnya jika perdagangan sudah tidak dengan tawar-menawar karena banyaknya mall dan pasar swalayan yang berdiri. kata orang2 tua kita dahulunya semua pasar memakai sistem tawar menawar sehingga suaranya begitu keras terdengar dari kejauhan seperti suara lebah yang mendengung.. ini kalo aku boleh beri istilah adalah adanya kehangatan dalam social relationship dalam masyarakat.. tapi sekarang sudah hilang…biarpun kita sering ke plasa atau ke supermarket ratusan kali kita tidak kenal para pelayan dan cashier di tempat itu..

3. Yen wong wadon ilang wirange : Jika wanita sudah tidak punya rasa malu Belum menutup auratnya, dsb

4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi : Bermujahadah, susah payah berkelana dalam perjalanan ruhani guna memperbaiki diri atau perjalanan fisabilillah menjelajahi desa-desa/ negara-negara, menghitung pintu (bersilaturahim) jangan pulang2 sebelum selesai program 4 (empat) bulan, cari petunjuk, hidayah dan kepahaman agama dari Dzat yang Maha Kuasa..

Semoga bermanfaat
Wallahu’alam

Prof. DR. KH Imam Buchori Musliem, LC telah memberikan artikel tentang usaha dakwah para walisongo di nusantara yang diambil dari sumber kitab TARIKHUL AULIA’ yaitu dari kakek buyutnya sendiri Syeikh Maulana Murodi bin Abdulloh bin Husain bin Ibrohim Al-Asy’ari, sekitar 421 tahun yang lalu.

Baca lebih lanjut

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , | 3 Komentar

Nasihat Malik Bin Dinar Kepada Hamba Wanita Sombong.


Suatu ketika, Malik bin Dinar rah.a sedang berjalan di daerah Basrah. Ia melihat seorang hamba wanita dengan pakaian gemerlap berjalan dengan pembantunya dengan penuh angkuh dan gaya, berlagak bagaikan hamba wanita milik para raja. Melihat hal itu, Malik rah.a berteriak kepadanya, “Hai gadis kecil! Apakah tuanmu mau menjualmu?” Hamba wanita itu sangat terkejut atas pertanyaan Malik rah.a.

Ia berkata dengan tersinggung, “Orang tua, coba kau ulangi kata-katamu itu.”

Malik rah.a berkata, “Kukatakan, apakah tuanmu mau menjualmu?”

Gadis itu berkata, “Seandainya ia menjualku, dapatkah seorang miskin sepertimu membayar hargaku?”

Malik rah.a berkata, “Tentu, bahkan aku dapat membeli seorang hamba wanita yang lebih cantik darimu.”

Mendengar perkataan ini ia tertawa dan mengatakan pada pelayan-pelayannya untuk memegang Syaikh dan membawanya menyertai mereka.

Demikianlah Malik rah.a dibawa oleh mereka ke rumah mereka. Setibanya di rumah, hamba itu menceritakan kepada tuannya semua yang terjadi antara dirinya dengan Syaikh. Tuannya tertawa terbahak-bahak dan meminta agar laki-laki miskin itu dibawa kehadapannya. Begitu Malik rah.a muncul dihadapannya, orang kaya itu diserang oleh rasa kagum, tiba-tiba ia bertanya kepada Syaikh, Apa yang kamu inginkan?”

Syaikh menjawab, “Aku ingin membeli hamba wanitamu.”

Orang kaya itu berkata, “Dapatkah kamu membayar harganya?”

Syaikh berkata, “Menurut perkiraanku harganya senilai dua biji kurma.”

Mendengar ini, semua yang hadir tertawa. Orang kaya itu berkata, “Atas dasar apa kamu menentukan harga itu bagi wanita ini?”

Syaikh menjawab, “Jika hamba wanitamu tidak memakai wewangian, maka tubuhnya akan mengeluarkan bau yang menjijikan, jika ia tidak meminyaki atau menyisir rambutnya, ia akan Nampak kusut, rambutnya akan menjadi jelek dan bau busuk. Dalam waktu beberapa tahun lagi kemudaannya akan hilang dan semua daya tariknya akan luntur, ia mengalami menstruasi, mengeluarkan air seni, kotoran kecil maupun besar dan semua mengeluarkan kotoran dari tubuhnya. Ia suka murung ketika menderita kemalangan. Ia sangat mementingkan dirinya sendiri dan berpura-pura mencintaimu, walaupun sebenarnya yang ia cintai adalah kesenangan dan kenyamanan hidup yang dinikmatinya bersamamu. Dan yang paling tidak tetap adalah; ia tidak tulus dalam cintanya dan berkhianat, tidak setia kepada perkataannya sendiri dan palsu dalam pernyataan cintanya. Jika engkau menyuruhnya pergi atau engkau meninggal lebih dahulu , ia akan pergi kepada laki-laki lain dan disana ia juga menyatakan bahwa ia mencintainya dengan penuh gairah.

Akupun mempunyai seorang hamba wanita, yang jauh melampaui hambamu dalam hal kecantikannya, dan lebih mudah dimiliki. Ia telah diciptakan dari inti sari camphor dicampur dengan kasturi dan saffron. Ia dipakaikan pakaian dari nur yang indah dan memakai pakaian mutiara. Jika ia berbicara kepada seseorang yang telah meninggal, maka orang itu akan hidup kembali. Jika ia membuka pergelangan tangannya di dunia ini, matahari akan Nampak redup dibandingkan dengannya. Jika ia memasuki ruangan gelap, ia akan meneranginya dengan kehadirannya. Jika ia dating ke dunia ini dengan semua kecantikan dan perhiasannya, ia akan memenuhinya dengan keharuman dan sinar yang sangat terang. Ia telah dipelihara dan diasuh di dalam taman kesturi dan saffron. Ia bermain dan berayun-ayun di dahan yang terbuat dari rubi merah dan batu marjan. Tinggal di istana-istana, dikelilingi oleh semua tata karma penuh rahmat. Ia diberi minum dari air Tasniim (sebuah sungai di surga). Ia tidak pernah memungkiri janji, tidak pernah mengkhianati orang yang dicintainya atau mengubah kesetiannya.”

Demikianlah, setelah menceritakan beberapa sifat-sifat bidadari surga, Syaikh bertanya, “Sekarang katakana kepadaku, manakah diantara kedua gadis itu yang patut untuk diinginkan?”

Semua orang yang berkumpul di sana berkata, dengan satu suara, “Tentu saja gadis yang baru saja engkau gambarkan yang sebaiknya setiap orang mencoba untuk memilikinya.”

Syaikh berkata, “Gadis cantik ini dapat dimiliki hanya dengan harga yang setiap orang mampu membayarnya dan dalam setiap keadaan.”

Ketika ditanya berapa harganya, Malik rah.a berkata, “Seorang gadis dengan kebaikan dan keunggulan seperti itu dapat dimiliki sebagai balasan atas perbuatan-perbuatan baik walaupun kecil seperti: mengambil sedikit waktu pada malam hari untuk berdiri dalam ketaatan, mengerjakan setidak-tidaknya dua rakaat shalat Tahajjud dengan niat yang murni yaitu mencari ridha-Nya. Bila engkau duduk untuk makan, ingatlah juga orang-orang miskin (ajaklah mereka menikmati makananmu), jadikanlah keinginanmu tunduk kepada yang diingiankan Allah. Singkirkanlah dari jalanmu segala sesuatu yang dapat membahayakan orang-orang yang berlalu di sana, jalani kehidupan dengan sederhana. Merasa cukup dengan pemberian Allah, alihkan perhatianmu dari dunia ini, yang tidak lain adalah tempat penipuan dan pusatkan sepenuh hati ke tempat tinggal abadi; yaitu akhirat. Jika kamu bersungguh-sungguh dalam perbuatan-perbuatan baik ini, kamu tidak saja hidup terhormat di dunia, tetapi juga tidak akan mengalami kegelisahan di akhirat dan akan dibangkitkan dengan kedudukan yang terhormat dan tinggi, tinggal selama-lamanya di jannah di dalam lingkuangan yang diberkahi Allah SWT, Raja segala Raja.

Mendengar semua ini, orang kaya itu berkata kepada hamba wanitanya, “Apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Syaikh?”

Hamba wanita itu berkata, “Ia telah mengatakan kebenaran, mengingatkan kita kepada keyakinan yang benar dan memberikan nasehat yang baik kepada kita.”

Orang kaya itu berkata, “Kalau begitu, aku memerdekakanmu dan kuberikan kepadamu sejumlah harta sebagai hadiahku.” Ia juga memerdekakan semua hamba-hambanya dan menghadiahi mereka masing-masing sejumlah harta yang cukup banyak, dan menyedekahkan rumahnya dan semua yang ada di dalamnya di jalan Allah. Ia membuka pakaiannya yang mahal, dan membalut tubuhnya dengan kain kasar, kain tirai kasar yang disobeknya dari pintu rumahnya.

Hamba wanita itu berkata, “Tuanku, akupun akan mengikuti cara hidupmu, karena bagiku tidak ada lagi daya tarik di dalam kenikmatan kehidupan dunia ini.” Kemudian ia pun menyedekahkan semua pakaiannya, perhiasan-perhiasan dan barang-barang berharga dan juga perabot-perabot rumah tangganya. Ia memakai pakaian dari bahan kasar dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana bersama tuannya.

Malik rah.a meninggalkan mereka dan mendoakan keberkahan Allah atas kedua orang itu, majikan dan hamba wanitanya yang telah melepaskan kesenangan hidup mereka, meninggalkan kemewahan-kemewahan duniawi dan mengabdikan hidup untuk beribadah kepada Allah SWT, tekun dalam ketaatan hingga akhir hayat mereka. Semoga Allah SWT memberkahi mereka dengan ampunan dan memberkahi kita juga, bersama mereka. (Raudh).

 

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , | 9 Komentar

Perjalanan Syaikh Abu Hatam rah.a (kisah 2)


Kemudian ada orang yang memberitahu bahwa Tanafasi rah.a. adalah juga seorang ulama yang terkenal di di kawasan Qazwin (sekitar 81 kilometer dari Raye) dan hidup lebih mewah lagi. Maka Syaikh Abu Hatam rah.a. pergi ke sana untuk menemuinya. Setelah bertemu dengannya ia berkata, “Hamba ini seorang ajam (non Arab) ingin belajar kepada tuan soal agama dari awal, yaitu dari wudhu yang merupakan kunci shalat.”

Tanafasi rah.a. menjawab, “Dengan senang hati, saya bersedia.” Kemudian ia menyuruh seseorang membawakan air untuk wudhu dan memperagakan cara berwudhu dengan sempurna sambil berkata, “Beginilah cara berwudhu.”

Setelah Tanafasi selesai memperagakan cara berwudhu, Syaikh Abu Hatam berkata, “Izinkanlah saya mengambil wudhu di hadapan tuan, supaya pelajaran saya menjadi sempurna.” Maka Tanafasi beranjak dari tempat wudhu kemudian Syaikh Abu Hatam duduk di tempat itu dan mengambil wudhu. Ia membasuh tangannyaa sebanyak empat kali. Tanafasi menegur, “Ini adalah israf (berlebihan), sebaiknya tiga kali saja.” Maka Syaikh Abu Hatam berkata, “Subhanallah! Sedikit saja air yang saya gunakan menjadi kemubaziran. Bukankah semua perhiasan dan kemewahan yang tuan gunakan untuk hidup mewah itu adalah suatu kemubaziran?” Barulah Tanafasi menyadari bahwa maksud Syaikh Abu Hatam bukanlah untuk belajar tetapi hendak menegurnya.

Baca lebih lanjut

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , | 5 Komentar

Perjalanan Syaikh Abu Hatam rah.a (kisah 1)


Sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdullah Khawas rah.a –salah seorang muridnya-. Katanya, “Suatu ketika kami pergi ke daerah Raye bersama Syaikh Hatam rah.a. Kami berangkat bersama rombongan sejumlah 330 orang dengan niat untuk ibadah haji. Semua orang dalam jemaah itu adalah mutawakkiliin yang tidak membawa bekal apa-apa untuk perjalanan. Di kampung Raye kami melewati seorang pedagang. Ia menyambut kami untuk makan malam dan melayani kami selama satu malam. Keesokan harinya orang itu berkata kepada Syaikh, “Saya hendak pergi mengunjungi seorang ulama yang sedang sakit. Jika tuan menginingkan, mari kita pergi bersama.” Maka Syaikh Abu Hatam rah.a berkata, “Menengok orang sakit adalah berpahala, terlebih lagi menengok ulama adalah ibadah. Saya hendak ikut ke sana.” Ulama yang sakit itu adalah Qadhi di kawasan Raye yaitu Syaikh Muhammad bin Muqaatil rah.a.

Ketika sampai di dekat rumah itu, Syaikh Abu Hatam rah.a kelihatan gelisah melihat rumah ulama itu, lalu berkata, “Allahu Akbar! Rumah seorang alim begitu megah bagaikan satu mahligai!” Kami minta izin untuk masuk. Kami melihat interior rumah itu bagus, bersih, luas, dan mewah. Di beberapa tempat tergantung tirai-tirai. Melihat keadaan rumah itu Abu Hatam rah.a tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

Ketika kami menemui qadhi itu, kami melihat ia sedang istirahat, berbaring di tempat tidur yang sangat lembut. Salah seorang pembantunya sedang mengipasi bagian kepalanya. Pedagang itu memberi salam dan duduk di sebelah tempat tidurnya lalu menyapa, “Apa kabar?”

Baca lebih lanjut

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , | 9 Komentar

Surat Khalid Bin Walid ra Kepada Penduduk Parsi


Dari Abu Wail ra berkata, “Khalid bin Walid ra mengajak penduduk Parsi untuk masuk Islam dengan mengirim surat yang isinya :

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Dari Khalid bin Walid ra kepada Rustam dan Mehran serta para penguasa Parsi.

Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah. Selanjutnya…

Aku mengajak kalian untuk masuk Islam. Jika kalian menolak untuk masuk Islam, maka kalian harus membayar jizyah dengan kepatuhan dan kehinaan; dan jika kalian menolak membayar jizyah, maka aku akan membawa suatu pasukan dimana mereka lebih senang mati syahid di jalan Allah seperti mana penduduk Parsi menyenangi minuman keras.

Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah.

(HR. Thabrani. Al Haitsmi berkata dalam kitabnya jilid V halaman 310, isnad hadits ini hasan atau shahih).

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , | 2 Komentar

Rasulullah saw Melarang Para Sahabatnya Mengumpat


Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dan Thabrani dari Abu Hurairah ra, katanya: Kami berada bersama-sama dengan Rasulullahsaw tiba-tiba seorang lelaki bangun.

Mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah! Alangkah lemahnya lelaki itu.” Atau mereka berkata, “Alangkah lembeknya si fulan itu.”

Mendengar pernyataan itu, Rasulullah saw bersabda, “Kamu telah mengumpat saudaramu dan kamu telah memakan dagingnya.”

Dalam lafadz Thabrani dikatakan bahwa seorang lelaki berdiri dari majlis Rasulullah saw, lalu para sahabat yang hadir melihat kea rah lelaki itu yang dalam keadaan lemah sekali. Mereka pun berkata, “Alangkah lemahnya si fulan.”

Rasulullah saw pun bersabda, “Kalian telah mengumpatnya dan memakan daging saudara kalian.” (At Targhib wa At Tarhib)

Dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu’az Bin Jabal ra dengan makna riwayat lalu dengan sedikit tambahan: Mereka berkata, “Wahai Rasulullah saw, kami berkata yang benar dengan keadaannya.”

Rasulullah saw bersabda, “Sekiranya kamu telah mengatakan tentang yang tidak benar mengenainya, kamu telah melemparkan tuduhan terhadapnya.”

Dikeluarkan oleh Al Isbahani dengan isnad hasan dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa mereka telah berbicara mengenai seorang lelaki, “Ia tidak makan kecuali setelah diberi makanan oleh orang lain dan ia tidak akan bergerak ke suatu tempat kecuali setelah ia digerakkan.”

Maka Rasulullah saw bersabda, “Kamu telah mengumpatnya.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud ra katanya: Kami berada di samping Rasulullah saw ketika seorang lelaki tiba-tiba berdiri dan seorang lelaki lain mengata-ngatai lelaki itu. Maka Rasulullah saw bersabda kepada lelaki yang mengata-ngatai itu, “Bersihkan dirimu dan bertaubatlah.”

Tetapi lelaki itu berkata, “Untuk apa saya membersihkan diri saya.”

Jawab Rasulullah saw, “Sesungguhnya kamu telah memakan daging saudaramu.” (At Targhib wa At Tarhib).

Baca lebih lanjut

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , | 5 Komentar

Beda Raja dan Khalifah


Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Sufyan bin Abu Auja, katanya: Umar bin Khaththab ra berkata, “Demi Allah! Aku tidak tahu apakah aku ini seorang khalifah atau seorang raja? Jika aku seorang raja, maka urusan mengenai khalifah ini adalah sangat besar kepentingannya.”

Seseorang berkata, “Wahai Anirul Mu’minin! Sesungguhnya di antara keduanya (raja dan khalifah) terdapat satu perbedaan, karena khalifah tidak akan mengambil sesuatu melainkan dengan hak, ia tidak membelanjakannya kecuali dengan kebenaran. Segala pujian bagi Allah yang telah melakukan hal seperti itu. Sebaliknya, raja merampas hak orang banyak, mengambil sesuatu dari seseorang dan memberikannya kepada orang lain.”

Umar ra pun terdiam mendengar kata-kata lelaki itu.

Juga dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Salman bahwa Umar ra berkata kepadanya, “Apakah aku ini seorang raja atau seorang khalifah?”

Maka Salman pun berkata kepaadnya, “Jika engkau telah mengambil satu dirham, baik kurang atau lebih banyak dari bumi kaum muslimin lalu engkau membelanjakannya di jalan yang tidak sepatutnya, maka engkau adalah raja, bukan seorang khalifah.

Mendengar kata-kata Salman itu , berlinanganlah air mata Umar ra.

(Kanzul Ummal)

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , | 2 Komentar

Siapakah yang Bertanggung Jawab untuk Memikul Jabatan Khalifah?


Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Asim katanya, Abu Bakar ra telah mengumpulkan orang banyak ketika ia sedang sakit. Ia menyuruh orang membawanya ke mimbar. Itulah khutbah terakhir yang dilakukannya. Ia memuji Allah dan berkata, “Wahai kaum muslimin, janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia dan janganlah terfitnah olehnya karena terpikat oleh kecantikannya. Utamakanlah kehidupan akhirat dari kehidupan dunia dan senantiasalah mencintai kehidupan akhirat di dalam dirinya. Jika kalian mencintai salah satu di antara keduanya, maka kalian merasa benci kepada salah satu yang lain.”

“Berkaitan dengan persoalan khalifah, itu mengawali segala urusan kita yang pada zaman berikutnya tidak akan menjadi baik kecuali dengan perantaraan yang memperbaiki zaman yang awal. Jabatan khalifah tidak akan dipikul oleh seorang pun kecuali oleh yang cakap dan mampu mengendalikan dirinya sendiri dan orang yang lebih afdhal dari segi kekuatan. Ia adalah seorang yang tegas dalam situasi tegang dan orang yang lemah lembut dalam hal yang rumit. Ia adalah orang yang paling mengetahui pendapat orang-orang yang memberikan pendapat dan memberikan penghargaan sepenuhnya dan ia tidak menyibukkan dirinya dengan perbuatan yang tidak memberikan manfaat kepada dirinya. Ia tidak kesal atau berduka cita jika terlepas dari sesuatu yang di luar kemampuannya. Ia tidak merasa malu untuk belajar. Ia tidak bingung pada saat tegang dan cemas. Ia sangat memelihara harta rakyat dan tidak menyalahgunakan harta dengan perbautan khianat dan melampaui batas. Ia seorang yang taat dan berjaga-jaga dari kemurkaan Allah SWT. Ia adalah Umar bin Khaththab ra.”

Kemudian Abu Bakar ra turun dari mimbar.

(AL KANZ)

Categories: Kisah Dakwah | Tag: , | 1 Komentar