Bayan Maulana Saad tentang Wabah Corona (Sri Petaling Tidak TAAT)

*MENINGGALKAN MASJID SEHINGGA BERAKHIRNYA AZAB IALAH TANDA YAKIN YANG RUSAK.*

*UCAPAN TERKINI DAN TERPENTING HADRAJI MAULANA SAAD BERKENAAN WABAH COVID19 / CORONA VIRUS.*

– Ummat tidak meyakini bahwa hubungan setiap masalah adalah berhubungan dengan masjid.

– Kerusakan yakin pada Ummat di zaman ini dan jauhnya umat dari janji-janji Allah telah menyampaikan ummat pada keyakinan bahwa ‘masjid ditinggalkan sehingga masalah selesai’.
( lihatlah bagaimana terbaliknya pemikiran manusia) sedangkan hadits Nabi SAW memerintahkan supaya *Jangan tinggalkan masjid sehingga masalah selesai*. Dalam hadits diperintahkan supaya berpuasa dan beriktikaf di masjid. ( *Hadraji ulang sebanyak 3x* )

Ya allah selagi engkau tidak angkat azab ini, kami tidak akan meninggalkan masjid sekali-kali. Di dalam Alquran banyak disebut.

Selagi Azab tidak diangkat . Datang ke masjid, tambahkan khusyu’ dan khudhu’. Dengan ini azab akan berakhir. Apabila akidah telah rusak dan yakin telah keluar dari hati dan manusia mula memahami bahwa gambaran-gambaran makhluk inilah zat Allah maka manusia akan terkesan dengan keadaan diluar masjid, Dan ummat akan terkesan dengan cara orang yang tidak beriman. Ummat mula merasakan berjumpa dengan orang Islam adalah puncak penyakit bagi mereka . Ini adalah hanya disebabkan oleh yakin dan akidah yang rusak . Saya amat tidak memahami bahwa bila mana si pesakit berjumpa dengan orang lain maka penyakit akan berjangkit, Tetapi bilamana pesakit berjumpa dengan dokter, kenapa dokter tidak jatuh sakit? Dokter yang melarang untuk berjumpa dengan orang lain dan dokter itu sendiri tidak sakit bila didatangi oleh pesakit . Bila seorang mendatangi orang yang sakit berapa ribu malaikat akan berdoa kepada pesakit? 70 ribu malaikat. Bersama Satu orang 70 ribu malaikat mendoakan kesehatan.

Berobat adalah sunnah. Tetapi merusakkan amal semata-mata untuk berobat maka tidak sama sekali. Karena ianya akan menyebabkan penyakit akan bertambah. Saya pernah beritahu bahwa sekali Rasulullah SAW didatangi kelaparan dan tiada makanan di rumah, Rasulullah SAW boleh sahaja berdoa dan makanan diturunkan dari langit. Tetapi tidak, bahkan Rasulullah SAW telah berulang kali ke masjid dan pulang ke rumah dan bertanya kepada Sayyidatina Aisyah, “Adakah makanan sudah ada?” jawab Sayyidatina Aisyah “belum”. Rasulullah kembali ke masjid dan berdoa, kemudian pulang lagi dan bertanya lagi ” Adakah makanan sudah ada?” dijawab Sayyidatina Aisyah “belum “. Maka Rasulullah terus berulang kali ke masjid.

Tuan-tuan beritahu saya, bila penyakit datang adakah kita berulang-ulang kali ke masjid dan shalat 2 rakaat dan pulang bertanya adakah penyakit telah hilang? Saya amat heran bila mendengar bahwa apabila penyakit datang ummat telah meninggalkan masjid, sedangkan sunnah ialah berpegang kepada masjid selagi masalah tidak selesai. Cuba kita fikirkan adakah pemikiran kita bersamaan dengan pemikiran Rasulullah SAW (tidak jelas).

Menghadapi keadaan dengan mewujudkan keadaan adalah cara orang-orang yang tidak beriman dan menghadapi keadaan dengan amal adalah cara Nabi-Nabi. Pada hari ini orang-orang Islam menghadapi keadaan dan suasana dengan mengadakan keadaan yang lain dan dengan menggunakan asbab Allah tidak membawakan keadaan supaya manusia menyelesaikannya dengan mengadakan keadaan yang lain. Bahkan Allah bawakan keadaan semasa karena kekurangan amal, dan keadaan yang berlaku karena kekurangan amal tidak mungkin dapat diselesaikan melalui asbab. Oleh itu seperti yang saya katakan tadi bahwa Rasulullah SAW tidak menjadikan asbab sebagai penyelesaian masalah kepada Para sahabat, bahkan Rasulullah SAW sendiri 3 kali pergi ke masjid dan berdoa kepada Allah, dan pada kali ketiga barulah Rasulullah pulang dan bertanya, dan kata Sayyidatina Aisyah r.ha” Utsman telah bawakan makanan ke rumah tuan”.

Ini semua kisah untuk beritahu kita bahwa untuk kita selesaikan segala masalah hendaklah kita berusaha seperti Rasulullah dan sahabat telah lakukan.

Oleh itulah Rasulullah SAW telah jadikan sahabat sebagai ‘masjid wala’ (orang-orang masjid) sebanyak mana cara tarbiyah yang baru diwujudkan yang bertentangan dengan sunnah maka cara tarbiyah tersebut tidak meninggalkan kesan disebabkan bertentangan dengan sunnah. Hubungan tarbiyah adalah dengan masjid, inilah hubungan tarbiyah yang mustaqil (tetap).
Satu orang musyrik pencuri telah dibawa kepada Rasulullah SAW lalu baginda perintahkan diikat di masjid.

Categories: Bayan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: