Penjelasan Syaikh Fadhil (Penanggung Jawab Makkah) di Islamic Center Jakarta

Pada Ahad Pagi hari terakhir Ijtimak 7 Kawasan di Jakarta, Syaikh Fadhil memberikan penjelasan mengenai ikhtilaf yang terjadi kepada ahbab Jakarta. Bayan dalam bahasa Arab dan diterjamahkan oleh Mufti Lufti Al Banjary. Audio bisa di cari di Youtube di https://www.youtube.com/watch?v=3IyCRBMmZgI&t=8266s.

Kita bersyukur karena Allah pilih kita untuk buat ini kerja. Syaikh Ilyas banyak menangis. Tangisan beliau Allah hargai. Di Multazam dia berdoa dengan 3 doa dan Allah kabulkan:

  1. Ya Allah terimalah (jagalah) ini kerja.
  2. Ya Allah terimalah (jagalah) orang yang buat ini kerja dengan ushul yang benar.
  3. Ya Allah Siapa pun yang merubah ini kerja, hancurkan dia sehancur-hancurnya.

Beliau juga datang ke Mufti Kifayatullah, dengan membawa pedang besar. Lalu beliau minta kepada Mufti untuk menilai kerja yang akan Beliau kerjakan. Maka setelah mengkaji, Mufti katakan bahwa ini semua bersumber dari Al Quran, Sunnah, dan kehidupan para shahabat RA. Namun adakah orang yang mau melakukan kerja besar ini. Lalu Syaikh Ilyas katakan kalau kerja ini benar, maka saya akan buat dengan berhusnudzan kepada Allah, agar Allah pilih umat ini untuk buat ini kerja.

Syaikh Ibrahim katakan kepada Syaikh Ghassan bagaimana mungkin ada orang yang akan merubah ushul dibandingkan dengan pengorbanan, tangisan, risau dan fikir Maulana Ilyas.

Orang lama juga datang ke Madinah dari Reiwind menyampaikan ushul-ushul dakwah dan datang juga orang lama dari Nizamuddin menyampaikan ushul-ushul dakwah yang berbeda. Lalu ahbab Makkah minta kepada Syaikh Fadhil untuk bertanya kepada Maulana Zubair atau Maulana Saad. Lalu Syaikh datang kepada Maulana Zubair, dan bertanya apakah saya boleh bertanya kepada Syaikh Saad, maka Maulana Zubair katakan bahwa Maulana Saad tidak akan mau mendengarkan. Ketika Maulana In’amul Hassan akan wafat beliau membentuk jamaah syura yaitu: Mufti Zainal Abidin, Bhay Wahhab, Maulana Zubairul Hassan, Maulana Izhar, Bhai Afzal, Maulana Umar Palanpury, H. Abdul Muqit, 8 orang. Lalu Syaikh Khalid Siddiqy datang kepada Maulana In’amul Hasan untuk ditambah 2 untuk menjaga hati orang Mewat atas kedekatan mereka dengan Syaikh Ilyas yaitu Meiji Mihrab dan Maulana Saad.

Setelah wafatnya Maulana In’amul Hassan, 10 orang ini bermusyawarah dan saya sendiri ada di sana waktu mereka bermusyawarah selama 3 hari tiga malam memikirkan bagaimana untuk melanjutkan ini kerja dan memutuskan bahwa di Nizamuddin dibuat 3 orang Faisalah yang bergantian tiap hari yaitu:

  1. Maulana Izhar,
  2. Maulana Zubairul Hassan, dan
  3. Maulana Saad

Kemudian Maulana In’amul Hassan sebelum Beliau berangkat akan melakukan safar ke 8 negara termasuk ke Indonesia dan Dr Noor sudah siap menyambut kedatangan Hadraji ke Indonesia. Tahun 1996 di Australia diusulkan Faisalah ditambah 2 yaitu: Maulana Umar Palanpury dan Meiji Mihrab. Jadi 5 orang yang menjadi Faisalah bergantian tiap hari di Nizamuddin.

2014, Maulana Zubair sakit dan saya ada di sana, di rumah sakit di ruang ICU akan ada jur Qudama di Reiwind dan akan diutus Maulana Ibrahim untuk hadir ke Ijtimak, diruang tersebut Maulana Ibrahim berkata kepada Maulana Zubair, bahwa Bhai Wahhab sudah sakit dan Engkau juga sudah sakit (Maulana Zubair) bagaimana kalau anggota Syura ditambah. Saya ada disana dan saya ikut mendengar percakapan ini. Lalu Maulana Zubair katakana saya setuju, tapi sebaiknya kamu (Maulana Ibrahim) datang ke Bhai Wahhab dan minta izin kepada Beliau. Maulana Zubair Rah A sangat menghormati Bhai Wahhab, kalau di Ijtimak Tongi Ada Bhai Wahhab dan Maulana Zubair datang, maka Maulana Zubair akan meminta saya untuk menemani bertemu dengan Bhai Wahhab, Maulana Zubair katakan bahwa Allah telah berikan banyak ilham kepada Bhai Wahhab yang tidak diberikan kepada orang lain. Lalu Maulana Ibrahim meminta Maulana Zubair untuk menulis surat kepada Bhai Wahhab, tapi Maulana Zubair tidak mau, cukup katakan saya ke Bhai Wahhab dan kalau Beliau setuju saya juga setuju. Maka disampaikan di Jur Qudama, Bhai Wahhab setuju tapi waktu penambahannya bukan di jur Qudama, karena banyak yang belum hadir, tapi nanti di Ijtimak Reiwind 2015 ketika semua penanggung jawab dan Masyaikh berkumpul, kita akan putuskan penambahan syura alami untuk mengggantikan syura yang telah meninggal dunia. Setelah pulang 2014 Maulana Zubair meninggal dunia, pada saat meninggal dunia saya ada disana dan tanggan saya ikut menguburkan Maulana Zubair. Malam harinya saya bertemu dengan Maulana Saad, berdua di ruang Maulana Saad, saya bilang kepada Maulana Saad, kemarin antum ayah dari 3 putra (Yusuf, Said, dan Elia) tapi sekarang Engkau ayah dari 6 ditambah 3 (Zuhair, Suhail, dan Khubaib) anak Maulana Zubair. Maulana Saad menangis dan menangis di depan saya dan berjanji kalau Dia akan menjadi ayah dari semua anak Maulana Zubair, dan mulai besok Maulana Zuhair akan doa setelah pembacaan Yasin di Nizamuddin.

Di Nizamuddin saya juga bertemu dengan Maulana Ibrahim, dan Maulana Ibrahim bilang kalau dia akan keluar dari Nizamuddin, Nizamuddin sudah berubah. Saad tentukan syura di Nizamuddin, namun maulana Saad tidak perlu. Maulana Saad tidak mau dengar. Masyaikh datang Bersama-sama namun juga tidak mau, lalu masyaikh menulis surat, namun juga ditolak. Waktu bayan subuh, Maulana Saad bilang: Telah datang kepada saya orang ulama-ulama bahkan Profesor, mereka tidak mengerti usaha dakwah. Waktu itu saya masih di Nizamuddin datang Maulana Yaqub, lalu Maulana Saad berkata kepada Maulana Yaqub, ini juga orang yang tidak mengerti Dakwah. Maulana Yaqub menjawab: Maulana Saad, saya ini guru kamu dan guru bapak kamu juga, Wahai Saad kamu telah merubah tertib dakwah dari Syaikh Ilyas dan Syaikh Yusuf. Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

Setelah ada dua Maulana Saad dan Maulana Zubair, kalau ada pertemuan 2 tahunan di Nizamuddin, diputuskan di musyawarah kalau setelah bayan nasihat dan musafahah adalah Maulana Zubair. Namun Maulana Saad ikut duduk dan dipersilakan oleh Maulana Zubair untuk ikut musafahah. Namun setelah Maulana Zubair meninggal, musafahah kepada Maulana Saad. Ketika orang-orang meletakkan kursi untuk Maulana Zuhair (Anak dari Maulana Zubair), maka Maulana Saad menolaknya. Lalu Maulana Saad turun ke bawah, sehingga sebagian jamaah musafahah di atas dan sebagian lagi musafahah di bawah. Begitu pula setelah meninggalnya Maulana Zubair, pertemuan besar di India yaitu pertemuan Bophal, ketika orang-orang meletakkan dua kursi untuk Maulana Saad dan Maulana Zuhair, maka Maulana Saad menolak dan bilang kalau ini khilafussunnah (tidak sesuai dengan sunnah). Sehingga Maulana Saad pun meninggalkan panggung tidak mau musyafahah. Ketika Maulanan Saad pergi, Maulana Zuhair pun tidak mau kalau dia sendiri yang melakukan musafahah. Namun petugas memaksanya untuk tetap untuk melakukan musafahah karena jamaah akan segera diberangkatkan. Setelah peristiwa ini, muncul cerita yang menyatakan kalau mantan khadimnya maulana Zubair (Syaikh Miri) dan Maulana Zuhair telah mendorong jatuh Maulana Saad dan mengusirnya dari panggung. Sehingga muncullah kemarahan pendukung Maulana Saad dari Mewat kepada Maulana Zuhair dan Khadimnya Maulana Zubair. Inilah fitnah pertama kepada Maulana Zuhair putra Maulana Zubair Rah. A.

Mendengar berita tersebut, maka orang Mewat datang ke Nizamuddin setikar 300 – 400 orang untuk menemui Maulana Zuhair dan Syaikh Miri, keluar kamu. Pintunya digedor-gedor dari bakda Dzuhur hingga Ashar, setelah Ashar mereka pergi dari Nizamuddin.

Kemudian ada musyawarah Uttar Pradesh (UP) musyawarah 3 bulanan, setelah bayan nasihat ada musafahah, disiapkan 2 kursi. Lalu Maulana Saad bicara di microphone saya tidak mau musafahah di sini. Yang mau musafahah sama saya silakan turun ke bawah. Lalu Mulvi Syarif (Konco Maulanan Saad) waktu maulana Zuhair duduk di kursi, dia katakan bahwa musafahah dengan Maulana Zuhair tidak sesuai dengan musyawarah. Namun pecinta Maulana Zubair tetap melakukan musafahah. Namun tiga orang  termasuk Mufti Sehzad, Bhai Mustaq (pembawa fitnah di rumah abdi), Maulana Jamsheed, tiga orang ini menghalangi proses musafahah oleh tiga orang ini. Akhirnya terjadi keributan, Maulana Zuhair turun dan pulang ke rumah. Kemudian ada fitnah lagi, Maulana Saad katakan bahwa masjid Nizamuddin ini sudah ada sejak lama, sejak sebelum Maulana Ilyas, di sana ada seorang tua, Syaikh Mumtaz, termasuk najir dari wakaf masjid banglawali. 10 orang datang ke Nizamuddin untuk bertemu dengan Maulana Saad.

Syaikh Mumtaz mengirimkan 9 orang, waktu musyawarah pagi jam 9. Maulana Saad kamu datang mau apa, kamu buat fitnah saja, antum semua orang Jahannam. 9 orang ini berkata, Wahai Maulanan Saad, kami ini pendukung Maulana Ilyas, pendukung kamu, tapi kami tidak ingin Nizamuddin dikuasi oleh orang luar Nizamuddin. Maulana Saad kamu itu bukan Amir, Siapa yang mengangkat kamu jadi Amir? Maulana Saad berkata saya adalah Amir untuk Ibrahim, Amir dari Ahmad Lat, Amir dari Yaqub, Saya Amir untuk semua umat.

Pada ijtimak Reiwind 2015, Syaikh Abdul Wahhab dengan para syura lainnya bermusyawarah. Pintu musyawarah ditutup, dari luar saya dengan Syaikh Ghassan. Seorang berkata: 1. Kerja dengan nehej 3 hadraji, 2. Amir ikut syura, dan 3. Hendaklah kalian berdoa, agar Allah berikan jalan terbaik.

5 orang konco dari Nizamuddin juga hadir, Syaikh Abdul Wahhab memegang microphone bicara akan mengganti syura yang sudah wafat yang tinggal 2 orang. Kalian tulis di kertas sebagai usulan. Maulana Saad menentang rencana ini, saya tidak setuju, kalau mau musyawarah di Nizamuddin bukan disini. Para masyaikh berbicara satu-satu untuk mendukung penambahan syura, Maulana Saad semakin marah dan hamper mengambil sesuatu untuk dilempar ke Profesor Sanaullah. Lalu Syaikh Abdul Wahab berkata, cukup-cukup, kita cukupkan majlis ini, kita doa, istigfar Panjang-panjang untuk masalah ini.

Dua orang utusan dikirim ke Maulana Saad, namun beliau tetap tidak mau. Saya adalah Amir. Lalu Syaikh Abdul Wahab, mengiklankan penambahan syura baru. Semua tanda tangan kecuali Maulana Saad dan utusan dari Banglades. Sebelum pulang Maulana Saad masuk ke kamar Syaikh Abdul Wahab, setelah keluar beliau katakana bahwa Syaikh Abdul Wahab membatalkan keputusannya (Ini adalah kedustaan Maulana Saad). Dari Reiwind ditulis surat ke seluruh dunia tentang penambahan syura ini.

Di Ramadhan,

(berlanjut ke penjelasan berikutnya)

 

 

Categories: Bayan | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: