Sejarah Singkat Dakwah Di Indonesia

Awalnya zaman Nabi Muhammad saw pusat dakwah adalah di Makkah. Lalu Baginda ingin menjadikan Thaif sebagai pusat dakwah namun ditolak oleh penduduk kota Thaif. Lalu baginda mengirim sekitar 70 orang sahabat ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh Raja Kristen yang terkenal Adil dan bijaksana. Kaum muslimin yang hijrah diterima dengan baik, namun tidak ada kerjasama dalam amal dakwah, sehingga akhirnya baginda Hijrah ke Yasrib atau Madinah Munawwarah dan menjadi Markaz dakwah. Setelah itu Markaz dakwah berpindah-pindah, di Kufah, Damaskus, Baghdad, Cordova, dan Istambul Turki sampai runtuhnya Dinasti Turki Utsmany tahun 1926. Setelah itu dilakjutkan dakwah ini oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Al Kandahlawy di Masjid Banglawali Basti Nizamuddin, New Delhi India.

Rombongan pertama masuk ke Indonesia tahun 1952. Di zaman Syaikh Maulana Muhammad Yusuf Al Kandahlawy. Adapun keamiran dan markaz dakwah adalah sebagai berikut:

  1. Syaikh Muhsin bin Mahri, keturunan Arab tinggal Krukut dan Markaznya di Masjid Al Mubarok, Kampung Arab di Krukut.
  2.  Haji Zarisan Khan, Keturunan Pakistan dan markaznya di Masjid Al Huda, Jalan Industri.
  3.  H. Ahmad Zulfakar Keturunan Indonesia di Masjid Jami’ Kebon Jeruk Jalan Hayam Wuruk No 83 mulai tahun 1974 mulai jadi Markaz.
  4. Sistem Syura mulai November 1996 di Ijtimak Raiwind. Syura sebanyak 13 orang syura Indonesia. 6 orang sudah meninggal (Dr. Andi Noor Al Jufri, Pak Samsudin, Syaikh Uzairon Thaifur, H. Ahmad Zulfakar, K.H. Abdul Halim, H. Hasan Basri) mohon maaf jika salah sebut.
  5. Tahun 2017 pecah menjadi 2.
    1. Amir H. Cecep Firdaus, salah satu syura Indonesia yang mengikuti seorang Masyaikh Maulana Muhammad Saad yang mengangkat dirinya sebagai Amir dakwah sedunia yang biasa disebut Hadraji. Namun tidak diangkat dan dilantik oleh para Masyaikh. Markaznya di Masjid Jami’ Kebon Jeruk.
    2. Sistem Syura Indonesia yang tinggal 7 dikurang Pak H. Cecep Firdaus. 6 Syura Indonesia adalah Andi Aminuddin Noor, Muhammad Muslihuddin Jafar, H. Suaib Gani, K.H. Akhmad Mukhlisun, Mufti Lutfie Yusuf, dan Pak Jamil Solo. Markaznya di Masjid Al Muttaqien, Ancol.
Iklan
Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: