Daily Archives: 2 Agustus 2017

Bayan Subuh Musyawarah Indonesia -Maulana Ismail


Setelah membaca AlQuran dan Hadits-Hadits Nabi Muhammad saw, diantaranya Nabi telah sabdakan: Jika amir-amir kalian adalah orang yang terbaik, demikian pula orang-orang kaya kalian adalah orang dermawan, dan masalah-masalah kalian dimusyawarahkan, maka hidup di atas bumi lebih baik daripada hidup di bawah bumi. Tapi apabila amir-amir kalian adalah orang yang bodoh, begitupula orang-orang kaya adalah orang yang paling bakhil, dan perkara-perkara diserahkan keputusannya kepada wanita, maka di bawah bumi lebih bagus daripada di atasnya. Selanjutnya beliau katakan bahwasanya asas daripada kerja kita ini adalah yakin kepada Allah, juga doa, dan pengorbanan, serta bermusyawarah.

Maka dakwah akan membawa hasil jika ke-4 perkara ini ada pada kita, yaitu yakin kepada Allah, doa, pengorbanan ditambahkan, serta bermusyawarah, maka hasilnya akan nampak di depan mata kita nantinya, tapi sekiranya kurang satu saja, maka hasilpun tidak ada. Kita berdakwah-dan berdakwah sementara yakin kita tidak kepada Allah SWT. Atau kita berdakwah tapi lemah dalam berdoa, atau kita berdakwah tapi tidak mau menambah pengorbanan juga hasil yang kita inginkan tidak akan tercapai. Begitu juga dakwah dan berdakwah tapi tidak mau bermusyawarah, pakai pemikiran sendiri-sendiri, maka hasil tidak kita dapatkan dalam dakwah. Memang yang menurunkan hidayah adalah Allah tapi asbab turunnya hidayah adalah dakwah ada apabila empat perkara ini kita perhatikan. Kita berdakwah tapi semakin yakin kepada Allah SWT bukan kepada kebendaan, kita berdakwah tambahkan doa panjang-panjang, tambahkan pengorbanan, disamping itu kita selalu bermusyawarah, maka hasil pun akan kita lihat di depan mata kita.

Bila kita kerjakan dakwah dengan keempat perkara tadi dan hasilnya pun nampak. Maka tetap kita kembalikan bahwa ini adalah hidayah dari Allah SWT, bukan daripada hasil kerja kita. Tapi kalau hasilnya belum nampak di depan kita, jangan kita berputus asa, tetap kelemahan kita kembalikan kepada diri kita sebagaimana Nabi kita Muahammad saw telah berkorban dan berkorban, ternyata orang-orang Thaif menolak kehadiran Nabi bahkan melempar dengan batu, Beliau tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi Beliau menyalahkan diri sendiri dalam doanya: “Ya Allah aku adukan akan kelemahanku, tidak pandainya aku dalam berbicara, dan aku belum lagi dimuliakan di tengah-tengah manusia.” Kesalahan dinisbahkan kepada diri sendiri bukan kepada orang lain ataupun mengeluh kepada Allah hingga berputus asa, tidak. Dai tidak boleh berputus asa, dan Allah berfirman tidaklah berputus asa kecuali orang yang kafir atau orang yang sesat.

Maka dai selalu menisbahkan kesuksesan kepada Allah SWT, walau pun ia selalu berkorban dan berkorban, tetap meyakini semua hasil semata-mata karunia dari Allah, maka saat-saat fathul Mekkah, saat Nabi memasuki kota Mekkah dengan para sahabat, keadaan beliau tidak menyombongkan diri bahkan beliau menunduk hampir mengenai punuk onta dan beliau berkata, Segala puji bagi Allah saja, yang telah menepati janjiNya, dan Dia yang telah mengalahkan musuh-musuh dengan sendiri saja. Nabi selalu menisbahkan kemenangan kepada Allah SWT, bukan kepada diri beliau sendiri. Kemenangan pada perang Badar, perang Ahzab, juga fathu Mekkah, semata-mata adalah karunia daripada Allah.

Ini kerja telah diterima oleh Allah SWT, dikerjakan oleh ambia dan para sahabat, terjaga hadirin. Yang membuat ini kerja adalah Allah dan yang menjaga ini kerja juga adalah Allah. Kerja ini tidak bisa ditantang atau dibahayakan, yang berbahaya adalah para dai itu sendiri. Dainya diterima oleh Allah atau tidak? Hasil kerja sudah berkembang dan dia merasa ini hasil kerja saya, maka sebentar lagi dia akan disingkirkan oleh Allah SWT. Jadi yang berbahaya bukan kerja, diri dia sendiri yang berbahaya kalau dia merasa ini kerja karena hasil kerja saya, maka sebentar lagi akan disingkirkan oleh Allah. Sebaliknya dia ikhlas, dia tidak ingin dipuji, tapi orang lain yang memuji, kalau tidak ada dia bagaimana, maka Allah akan ambil dia dengan cepat, Allah matikan atau Allah wafatkan. Supaya jangan sampai dia berbahaya dengan pujian-pujian yang begitu banyak, ataupun Allah tidak mau disaingi dengan pujian, maka cepat-cepat dia dimatikan oleh Allah SWT.

Dalam malfudzat Maulana Ilyas, bila dai buat kerja dengan usul yang benar, maka Allah SWT akan segerakan hidayah kepada dia, hidayah atau kebaikan-kebaikan yang akan datang, karena kerja dakwah yang dikerjakan dengan ushul yang benar, maka kebaikan-kebaikan itu akan disegerakan oleh Allah. Sebaliknya jika dai buat kerja tanpa ushul, atau ushul kerja diabaikan, maka kejelekan-kejelekan yang tadinya akan datang pada masa yang lama, akan disegerakan oleh Allah SWT. Hendaklah ushul-ushul dakwah diperhatikan oleh para dai, sehingga akan mempercepat turunnya kebaikan. Kalau ushul diabaikan akan dipercepat datangnya keburukan, di antara keburukan adalah adanya PERPECAHAN di antara umat, begitu juga kesatuan hati akan hilang, hingga di antara dai pun berpecah belah sendiri, karena mereka telah meninggalkan ushul-ushul dakwah.

Dai yang buat kerja dengan penuh yakin kepada Allah, dan dia mendoa dan menambah pengorbanan, tapi tidak mau bermusyawarah. Kerja dengan pemikiran sendiri, maka bukan kebaikan-kebaikan yang datang, tapi kerusakan-kerusakan yang akan datang dalam dakwah ini. Penting sekali kita letakan diri kita dalam musyawarah, buat ini kerja dengan bermusyawarah. Ada beberapa keuntungan bila musyawarah senantiasa kita kerjakan, pertama dengan bermusyawarah kita akan tahu potensi-potensi umat, dan potensi-potensi itu bisa kita gunakan untuk agama. Kedua, perpecahan akan dihilangkan oleh Allah SWT, perpecahan antar ulama akan dihilangkan oleh Allah, perpecahan antara orang Arab dan orang Ajam (non Arab) akan dihilangkan oleh Allah. Tidak nampak lagi perbedaan bangsa, bahasa karena adanya musyawarah.

Bersambung….

Categories: Bayan | Tag: , | Tinggalkan komentar