Daily Archives: 1 Agustus 2017

Penjelasan Syura Indonesia -Ustadz Muslihuddin di Pertemuan Solo


Di Jakarta terjadi perbedaan pendapat antar para masyaikh di Nizamuddin, jadi bukan perbedaan pendapat antara Nizamuddin dan Reiwind, tapi antara para masyaikh dengan yang mulia Maulana Saad DB. Sehingga kami dengar sebagian masyaikh meninggalkan Nizammuddin. Kumpul semua syura di Kebon Jeruk untuk membahas masalah itu. Saya usulkan, kita jangan mempercayai dulu berita-berita ini dari orang, surat-surat, dari WhatsApp. Tapi kita langsung tabayun kepada yang bersangkutan. Langsung kita jumpa satu per satu masyaikh. Apa masalahnya, tanya langsung kepada beliau. Jumpa Maulana Saad, jumpa maulana Ibrahim, jumpa maulana Yaqub, jumpa maulana Ahmad Lat, para masyaikh langsung.

Lalu disetujui, katika itu bersamaan akan ada ijtimak akan adanya di Tongi, maka kami semua berangkat ke Tongi pada Januari 2017. Kita minta waktu untuk jumpa langsung Maulana Saad. Pertanyaannya redaksinya kami musyawarahkan terlebih dahulu sebelum jumpa beliau, mutakalimnya pak Cecep, diterjemahkan bahasa Arab oleh Ustadz Lutfi, supaya kami bisa pahami semua yang disampaikan, Lalu kami jumpa beliau. Pak Cecep mengatakan atas nama Indonesia kami menyayangi, mencintai maulana Saad,  juga mencintai semua para masyaikh di Nizamuddin, di Reiwind, dan di Kakrail. Juga permohonan kami, pertama kami ingin para masyaikh untuk kembali lagi ke Nizamuddin, dan kami memohon kepada maulana Saad agar semua tertib-tertib yang akan disampaikan bermusyawarah dahulu kepada para masyaikh. Beliau menyambut dengan baik, saya juga ingin para masyaikh kembali ke Nizamuddin, tapi kata Beliau ingin para masyaikh kembali ke Nizamuddin tanpa syarat. Maulana mengatakan mereka akan kembali dengan syaratnya saya harus mengakui syura alami, itu kesimpulan ketika kami menghadap Beliau. Kemudian ada peristiwa lagi, waktu itu setelah maghrib malamnya ada musyawarah besar, musyawarah program. Semua masyaikh dari India, Banglades, dan Pakistan hadir, kecuali Bay Wahab karena ada uzur, sakit. Semau syura Indonesia juga hadir, saya, ustadz lutfi, pak Cecep, Pak Syuaib, Kiyai Mukhlisun, juga beberapa orang lama hadir disitu. Maulana Saad memberikan targhib, dan saya hafal perkataannya itu dan memang bagus sekali, “Saudara-saudara sekalian usaha dakwah ini akan maju karena ada pertolongan Allah Ghaibiyyah, dijelaskan panjang lebar. Bukan didukung oleh orang kaya, pengusaha. Nusratullah itu akan muncul karena Ijtimaiyyat, tiga unsur ijtimaiyyat yaitu kesatuan hati, kesatuan pikir, dan yang ketiga kesatuan …. Dan ijtimaiyyat ini akan muncul dengan adanya Musyawarah. Musyawarah itu akan makbul dengan adanya ketaatan. Sampai situ maulana berhenti. Satu orang berbahasa Arab berdiri, mengatakan ketaatan adalah ketaatan kepada Amir, Amir kita saat ini adalah Maulana Saad. Dan hadraji kita adalah maulana saad, setuju…? Sebagian orang mengatakan setuju, kebanyakan diam. Lalu berdiri orang berbahasa Inggris. Maksud ketaatan Beliau adalah ketaatan kepada Amir, Amir alam kita saat ini adalah maulana Saad. Setuju…? Apa yang dikatakan oleh maulana Saad, “Ana khadimukum”. Maksudnya membenarkan apa yang dikatakan oleh kedua orang itu, saya Amir kalian, ini iklan kepada seluruh dunia dan beliau mendeklarasikan kalau beliau adalah Amir. Menurut keterangan dari Maulana Husein dari Benglore putra dari Maulana Qasim Quraisyi yang kemarin datang ke Jakarta. Beliau pertama kali mengangkat diri menjadi Amir pada Ijtimak Bophal tahun 2015, itu yang membuat geger di India. Dan yang secara alam (dunia) itu dideklarasikan di Ijtimak Tongi, saya mendengarkan langsung, ustadz Lutfi dan lainnya.

Nah setelah itu kembali ke Jakarta, musyawarah lagi. Untuk jumpa kepada masyaikh yang lain. Kami hubungi maulana Faruk, lalu meminta kami datang ke Pakistan karena ada jord qudama di Pakistan. Maka sepakat semua ke Pakistan, kami minta waktu untuk bertemu, semua masyaikh kumpul. Syaikh Abdul Wahhab, Maulana Ibrahim, Maulana Yaqub, Maulana Ahmad Lat, Maulana Sanaullah, dll kumpul dalam satu ruangan. Mutakalimnya pak Cecep diterjemahkan oleh saya dalam bahasa Inggris. Waktu itu kami sampaikan seperti yang disampaikan ke Maulana saad, tapi ada tambahannya, Kenapa para Masyaikh meninggalkan Nizamuddin? Bukankah lebih baik kalau para masyaikh kembali ke Nizamuddin dan menyelesaikan masalah yang terjadi disana, jadi umat tidak terbelah-belah seperti ini. Jawabannya apa, kami sudah berusaha sejak 21 tahun yang lalu untuk bagaimana menyatu tapi tidak bisa. Bahkan kemudian dari penjelasan-penjelasan itu. Kami-kami ini adalah guru-guru dari Maulana Saad, kami telah menyarankan untuk segala sesuatu dimusyawarahkan, tapi tidak pernah didengar, tidak pernah ikut. Apalagi setelah deklarasi menjadi Amir, siapa saja di Nizamuddin yang tidak mendukung keamiran Beliau dan tidak menyetujui apa-apa yang menjadi pemikiran Beliau, diintimidasi. Ini saya dengar langsung, bukan katanya ini. Ini disampaikan Syaikh Faruq dan Dr Sanaullah, itu diulang-ulang. Kami yang tidak sepaham dengan beliau dan tidak mengakui keamiran beliau, kami dipukuli sampai berdarah-darah dan kami diancam untuk dibunuh, itu yang mengatakan Dr. Sanaullah, maka untuk menyelamatkan jiwa kami sementara kami pindah dulu, itu alasannya. Kemudian alasan yang lain adanya reaksi keras dari ulama-ulama di seluruh India sebagaimana yang dijelaskan ustadz Lutfi, tapi saya ulang lagi, yang saya dengar langsung, saya dokumennya ada, bukti-bukti ada, dari Deoband, dari Saharanpur, dari Lucknow, bahkan dari negeri-negeri lain South Africa, ada dokumennya. Dan apa-apa masalah-masalah yang mereka tentang itu, tafsiran-tafsiran Hadits Quran itu diuraikan secara mendetail bertentangan dengan pendapat jumhur ulama. Yang dulunya mufti-mufti ini, zaman Maulana Ilyas, zaman Maulana Yusuf, zaman Maulana In’amul Hasan adalah pendukung-pendukung kuat dakwah, sehingga dakwah tersebar ke seluruh India, diterima karena dukungan para ulama. Mereka belum terlibat langsung dalam amal dakwah, ulama umum, ulama madrasah. Mufti-mufti, seperti mufti Ubaidullah di New Delhi, Mulvi Ali Thanwi, dll. Pemikiran-pemikiran Beliau yang disampaikan dalam bayan-bayan sudah bertentangan dengan jumhur ulama India saat ini. Awalnya mufti-mufti ini masih menahan, namun karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari umat Islam, terpaksa dikeluarkan fatwa. Tapi sebelum dikeluarkan fatwa, para mufti ini datang ke Nizamuddin. Untuk tabayun kepada Maulana Saad, tapi ternyata maulana diam, tapi tidak merubah fatwa-fatwanya. Karena bertahun-tahun tidak ada perubahan maka para ulama mengeluarkan fatwa, bahwa tafsiran AlQuran dan Hadits oleh Maulana Saad telah keluar dari Ahli Sunnah wal Jamaah, ini sangat berbahaya kepada dakwah. Dengan alasan-alasan ini para masyaikh keluar dari Nizamuddin. Kalau mereka tetap di Nizamuddin nanti mereka akan dicap setuju dengan apa yang difatwakan oleh Beliau. Untuk menyelamatkan usaha dakwah kami terpaksa keluar dari Nizamuddin sampai keadaan kondusif lagi, kami akan kembali ke Nizamuddin.

Dan kami tidak membuat markaz lagi. Markaz di India satu. Lalu kami bermusyawarah bagaimana menyikapi keadaan ini setelah jumpa dengan para masyaikh. Kami bermusyawarah di salah satu ruangan yang disediakan untuk Indonesia di Reiwind. Ditanya satu persatu, sebagai usulan, lalu Beliau, Yang Mulia, Pak Cecep memutuskan berdasarkan pengamatan langsung dan pertanyaan-pertanyaan kami, untuk menyatukan kerja di Indonesia, kerja di Indonesia tidak ada berubahan, apa-apa yang diperselisihkan oleh para masyaikh, tidak dihentikan dan tidak ditarghibkan. Adapun masalah-masalah yang terjadi di Indonesia merujuk kepada Syura Alam. Ini keputusan dari pak Cecep dan kita semua setuju. Saya usulkan kesepakatan ini kita tulis dan kita tandatangani, maka ditulis. Yang disuruh nulis, saya. Maka dibaca oleh pak Cecep, atas nama syura Indonesia, Beliau tanda tangan sendiri. Kemudian setelah itu kembali ke Indonesia, beliau mengusulkan untuk mengundang Syura Alami di Musyawarah Indonesia bulan April agar mereka membimbing kita, itu usulan pak Cecep. Kami setuju, itu bagus. Maka disampaikan dan mereka setuju untuk hadir. Ringkasnya, kemudian kita adakan musyawarah Indonesia dan syura alam hadir dari India, dan Pakistan, kemudian pak Cecep hadir ke Malaysia, kami usulkan untuk tidak kesana. Namun pak Cecep tetap ke Malaysia dengan tujuan untuk menyampaikan sikap Indonesia di sana. Apa yang dibicarakan di Malaysia kita tidak tahu, tapi kesimpulannya Maulana Saad akan mengirimkan juga utusannya untuk musyawarah Indonesia. Ini jadi runyam disini. Ringkasnya kemudian hadir kedua pihak, satu dari Syura Alam, satu dari Maulana Saad. Waktu itu kami musyawarah, kami, syura Indonesia dan Syura Alam. Bagaimana cara menghandle keadaan ini, pasti akan perang dimimbar ini. Maka syura alam mengatakan, bahwa yang diundang kan kami, jadi yang menghandle kami semua. Kami atas undangan kalian. Iya juga ya. Mereka itu tamu yang tidak diundang, ya diterima dengan baik, tapi jangan ikut campur di mimbar, pasti akan bertentangan. Silakan diputus. Kami (syura alami) dapat pesan dari Bay Wahhab yang putus musyawarah bukan syura alami, yang menjadi faisalat program itu adalah syura Indonesia. Maka ditawarkan, siapa yang akan menjadi faisalat? Tidak ada yang mau. Pak Cecep tidak mau, saya tidak mau, yang lain juga tidak mau. Kata Belaiau, kalian tidak mau jadi faisalat itu bagus, tapi harus taat katanya. Maka setelah musyawarah  antara syura alami diputuskan yang menjadi faisalat musyawarah program adalah Muslihuddin. Wah jadi masalah buat saya ini. Saya bilang saya mau tanya dulu senior saya pak Cecep, saya bilang. Pak gimana pak? Gak mungkin kalau masih ada bapak saya jadi faisalat, kata pak Cecep, gak papa terima aja. Jadi karena Beliau mengatakan seperti itu, saya terima dengan berat hati. Karena saya menyadari ini saya dihimpit dua gunung ini. Itulah yang terjadi di Cikampek saya dianggap kudeta, mengambil alih faisalat Indonesia. Ya saya terima, saya diam saja. Tapi saya jelaskan, setelah itu mengkristal perbedaan, sehingga mereka mengadakan pertemuan di Medan. Itu juga kami mengatakan sebaiknya bapak jangan pergi ke Medan. Bikin masalah. Gak, saya pergi kesana untuk menjelaskan agar tidak terjadi perpecahan, tapi tetep berangkat juga, tapi yang aneh kemudian bahkan Beliau turut mengundang untuk hadir di Nizamudin tanggal 24 juni 2017. Dan terang-terang mengatakan bahwa Pak Cecep bahwa saya sekarang mendukung Maulana Saad, jadi pak Cecep sekarang sudah meninggalkan kami (Syura Indonesia yang lain) ya kan. Yang tadi sepakat merujuk syura alam sekarang, di Medan mengatakan saya sekarang mendukung Maulana Saad. Itulah, menjadi masalah berkepanjangan, lalu ada pertemuan di Semarang, yang lebih membelah lagi keadaan-keadaan itu. Saya secara pribadi tidak ada masalah dengan pak Cecep. Bahkan waktu itu, beberapa hari sebelum lebaran saya datang ke kamarnya, saya bicara dari hati ke hati, pak, di antara seluruh syura Indonesia yang lebih lama adalah Bapak dan Saya, Saya dan Bapak adalah yang paling bertanggung jawab. Kalau sampai dakwah di Indonesia terpecah belah, bagaimana nanti kita menghadap Allah. Pak Cecep termenung.. Saya setuju, tapi bagaimana? Saya katakan, pak coba kita kumpulkan seluruh syura, kita duduk dengan hati yang jernih, kita pikirkan bagaimana menyatukan Indonesia, kapan? Saya telepon seluruh syura, disepakati tanggal 1 Juli, bertepatan dengan pergantian petugas khidmat markaz daerah Bengkulu, Lampung, dan Palembang dengan Makasar, Sulawesi. Semua sepakat tanggal 1. Setelah beberapa hari kemudian saya dapat berita undangan disebar ke seluruh Indonesia, terutama temen-temen yang menunjukan dukungan ke Maulana Saad. Saya tanya, pak! Kenapa ngundang banyak-banyak? Iyalah, katanya. Saya dengar Pak Syuaib akan bawa pasukan 100 orang katanya. Darimana itu pak? Tanggal 1 itu kan pergantian petugas khidmat. Jadi kalo Pak Syuaib bawa satu, dua orang khidmat, bukan bawa pasukan untuk nyerbu Kebon Jeruk. Oh gitu. Tapi undangan kan sudah gak bisa di cancel. Itulah yang terjadi tanggal 1, oleh karena itu suasana genting kami laporkan kepada para masyaikh. Ini terjadi masalah begini ni. Tanggal 1 ada pertemua, para penanggung jawab diundang dari pihak pak Cecep ya kan. Langsung bay Wahab sendiri yang tulis surat, kalian jangan adakan pertemuan tanggal 1. Itu langsung dari beliau, mungkin beliau ada firasat yang tinggi akan terjadi masalah. Nah kesimpulannya tanggal 1 syura-syura yang lain tidak boleh hadir. Kalau saya kan hari-hari ada di Kebon Jeruk, ya saya ada disitu. Tapi saya gak ikut pertemuan. Nah, karena tidak hadir, maka syura alami mengirim 3 orang utusan menyampaikan pesan Bay Wahab. Diutus Haji Maimun, Farid Sungkar, dan Haji Burhan. Namun Haji Burhan berhalangan digantikan oleh Abu Bakar Bogor. Waktu itu berkumpallah pak Cecep dengan semua penanggung jawab daerah di satu ruangan. 3 orang tadi jam 9 menyampaikan pesan dari masyaikh, ditanya, mana syura-syura. Disampaikanlah oleh Haji Maimun sebagai mutakalim bahwasanya melihat situasi dan kondisi syaikh Abdul Wahab menyatakan untuk tidak membuat pertemuan tanggal 1, ini suratnya. Dibacakan dan diserahkan. Setelah itu karena orangnya banyak, diumumkan jam 9 pertemuan di lantai 2. Apa yang diputuskan disana, diantaranya bahwa Kebon Jeruk ini adalah khusus untuk kegiatan kita yang merujuk kepada Maulana Saad. Jadi syura alami silakan cari tempat lain. Itu ada keputusannya tertelis, ditandatangani oleh pak Cecep. Dan lain-lain ada, tapi intinya itu. Oleh karena itu, makanya temen-temen memilih sementara untuk tidak datang ke Kebon jeruk. Karena banyak masalah yang harus dihandle maka dipilih tempat di Masjid Al Muttaqin Ancol. Saya sendiri tetap bertahan di Kebon Jeruk.

Iklan
Categories: Kisah Dakwah | Tag: , , , , , | 4 Komentar