Malfuudzaat 60

Beliau berkata, “Maulana! Alim ulama belum ikuti usaha ini. Apakah yang harus saya perbuat? Ya Allah ! Apa yang harus saya perbuat?” Saya berkata, “Tuan berdoalah, semua akan ikut.” Beliau berkata, “Saya senantiasa berdoa, kamulah juga berdoa!” Kemudian beliau membaca syair,

Astaghfirullahi min qauli bilaa ‘amalin # laqad nasibtu bihi naslan ladzi ‘iqam

Dhalamtu sunnata min ahyidh dhulaama ila # anistakat qadamaahudh dhurra man waram

“Daku mohon ampun kepada Allah dari perkataan tanpa ‘amal # Karena telah banyak kaum yang binasa # Saya telah mendzalimi sunnah Nabi yang besar # yang telah bengkak kakinya karena shalat sepanjang malam.”

Sambil menangis beliau berkata, “Bersyair adalah salah satu kebiasaan para ulama tetapi bukan untuk menyusun kata-kata indah, hanya untuk melembutkan hati dan menambahkan cinta kepada Nabi saw.”

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: