Malfuudzaat 51

Beliau berkata, “Derajat zakat adalah lebih rendah dari hadiah. Karena inilah zakat diharamkan bagi Rasulullah tetapi hadiah tidak baginya. Walaupun zakat hukumnya fardhu dan hadiah adalah mustahab namun dalam beberapa hal, pahala mustahab bisa melebihi pahala fardhu. Misalnya mendahului memberi salam adalah sunnah dan menjawab salam adalah fardhu, tetapi mendahului memberi salam adalah lebih utama dari menjawabnya. Begitu juga zakat, sungguhpun hukumnya fardhu tetapi hanya untuk membersihkan harta saja.

Walaupun mustahab tetapi dari segi faedah, hadiah lebih afdhal karena menyukakan hati Muslim lainnya. Yang demikian adalah lebih tinggi dari mensucikan harta. Memang zakat juga menunaikan hajat serta menyukakan hati muslim lain, namun itu bukanlah tujuan utamanya. Sedangkan memberi hadiah memang maksud utamanya adalah untuk menggembirkan hati Muslim lain.”

Beliau berkata lagi, “Pembayar zakat harus meneliti siapa orang yang akan diberi zakat. Seperti orang yang akan shalat, ia harus mencari air suci dan menyucikan untuk berwudhu. Penerima zakat yang sah adalah orang yang tidak tamak kepada harta zakat. Syariat memfardhukan zakat bukan supaya timbul sifat tamak pada diri orang miskin terhadap harta orang kaya hingga mereka menunggu-nunggu zakat orang kaya.

Maka sesiapa yang tawakkal dan sabar, maka hukumnya wajib bagi hartawan untuk membantunya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarag : 273, yang artinya:

“Infaqkanlah kepada orang-orang faqir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu, menyangka mereka adalah orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta.”

Maka yang layak menerima zakat ialah mereka yang gigih dalam kerja agama dan bersabar dan bertawakkal kepada Allah. Ia tidak meminta-minta dari sesiapapun dan tidak ada sifat tamak terhadap harta orang lain.

Sayang sekali pada zaman ini, pemilik harta merasa puas asal bisa membayar zakat. Pada hal mereka telah merusak zakatnya sendiri. Inilah penyebab hilangnya keberkahan harta walaupun zakat telah ditunaikan. Pada hal suatu janji yang pasti bahwa dengan zakat, harta akan menjadi berkah. Maka barangsiapa yang setelah menunaikan zakat tetapi tidak merasa berkahnya hendaklah memahami bahwa zakatnya tidak ditunaikan kepada yang berhak dan berarti ia belum meneliti siapa penerima zakatnya itu.”

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: