Pendahuluan

PENDAHULUAN

 

Nama Maulana Muhammad Ilyas Rah. A. telah saya ddengar sejak saya masih belajar. Pertama kali saya bertemu beliau kira-kira pada bulan Ramadhan 1353 H (1934 M). Empat atau lima tahun kemudian beberapa kali saya berpeluang bertemu dan menziarahi Beliau. Saya menganggap Beliau seorang ulama mithali yang mukhlish dan seorang yang luas pandangan namun saya belum terkesan dan belum dapat memahami maksud usaha dakwahnya.

Pada masa agama mengalami kemunduran dan tidak dianggap penting, Beliau telah berusaha menghidupkan kembali ruh agama dan membangkitkan semangat yang tinggi dan harapan cerah untuk mengishlah umat.

Pada 1358 H (1939), seorang penulis terkenal buku-buku agama telah bertemu Maulana Ilyas dan menghadiri satu perhimpunan dakwah di Mewat. Beliau telah menulis sebuah buku yang menggambarkan kesan dan hasil perhimpunan itu dan sejauh yang saya ingat tulisan tersebut adalah naskah pertama yang menyiarkan perhimpunan dakwah.

Beberapa hari kemudian pada bulan Zulkaidah 1358 H, saya berkeinginan mengikuti safar Maulana Ilyas dengan niat ingin belajar dan mendalami usaha dakwah ini bersama Maulana Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadwy (wafat 1420 H/1999) dan seorang teman dekat –Mulwi Abdul Wahid. Setibanya di New Delhi tanpa diduga saya telah menerima sepucuk telegram yang isinya meminta saya untuk pulang segera. Maka tanpa bertemu Maulana Ilyas saya terpaksa pulang dan meninggalkan kedua teman saya. Mereka berdua telah mempelajari dan mendalami usaha Tabligh secara langsung dari Maulana Ilyas sewaktu safar bersama Beliau.

Maulana Abul Hasan Ali An-Nadwy sangat terkesan dengan pribadi dan kemuliaan Maulana Ilyas serta hasil dari kerja Tablighnya. Beliau telah mengirim beberapa surat untuk meyakinkan saya berkenaan Dakwah dan Tabligh dan mengajak saya untuk ambil bagian di dalamnya. Bagaimana pun semua itu belum membuka pintu hati saya.

Beberapa saat kemudian, berlangsung satu ijtimak Tabligh di Mewat dan saya dijemput untuk hadir. Dengan rela hati saya pun pergi ke sana. Saya akui banyak mempelajari kerja ini dalam safar dan bergaul dengan Maulana Ilyas. Saya menyaksikan banyak perubahan yang mengagumkan pada masyarakat Mewat. Pengalaman itu sungguh mencerahkan kehidupan saya namun saya belum bersedia memperjuangkan usaha ini sepenuh hati.

Selanjutnya saya mengalami satu peristiwa.

Para masyaikh seperti Hadrat Mujaddid Alfa Tsani, Syah Waliyullah, Sayyid Ahmad Syahid, Syah Ismail Syahid Ahmad Ganggohi adalah imam-imam suluk. Saya sangat menyanjung pribadi mereka tetapi saya kurang meminati ajaran tasawufnya. Ada beberapa hal ilmiah yang masih mengganjal dalam pikiran saya.

Pada akhir tahun 1361 H atau awal 1362 H (1942) saya telah berkhidmat kepada seorang masyaikh selama seminggu. Satu hari saya minta diajarkan tasawuf. Beliau telah memberi petunjuk tentang salah faham dan keraguan saya. Dalam dua tiga hari berbagai masalah saya terjawab. Apabila saya akan pulang, dengan penuh mahabbah masyaikh tersebut menegaskan kepada saya, “Seringlah kamu menziarahi Hadrat Dehlawy (Maulana Ilyas).” Saya berkata, “Saya telah menziarahi dan berkhidmat kepada Beliau. Saya sangat memuliakannya namun saya belum terpaut dengannya.” Masyaik pun menjelaskan mengenai kemualiaan Maulana Ilyas dengan penuh penghormatan, Beliau berkata, “Di sepanjang zaman, terdapat banyak Khawwas (hamba Allah yang memiliki hubungan khusus dengan Allah) namun ada beberapa orang yang memiliki hubungan yang lebih khusus di antara yang khusus tersebut. Saya berpendapat pada masa ini Hadrat Dehlawy adalah orang yang memiliki hubungan yang lebih khusus dengan Allah di antara yang khusus tersebut.”

Mendengar kelebihan Maulana Ilyas itu, saya yang telah terpaut dengan masyaikh itu, langsung berazam dari situ saya akan langsung menziarahi Maulana Ilyas kemudian baru pulang. Saya tiba semasa Maulana sedang sakit parah dan tidak bisa bangun. Ketika saya berada dihadapan Beliau dan hendak berjabat tangan setelah memberi salam, Beliau segera berdiri sambil memegang tangan saya. Saya meminta Beliau untuk berbaring saja. Beliau berkata, “Tidak mengapa, mereka telah menyusahkan kamu dan membuat kamu sakit. Marilah, ambil usaha agama ini, Insya Allah kamu akan beruntung.” Maulana melepaskan tangan saya setelah saya berjanji akan datang lagi dan melapangkan masa untuk dakwah ini. Saya dapat bersama beliau sehari semalam. Saya lihat dalam sakit parah pun Beliau selalu merisaukan keadaan agama. Kerisauan agama Beliau membuat saya sungguh terkesan dan saya bertekad dalam hati akan datang lagi dan akan memberi hidup saya untuk usaha ini. Semoga Allah menganugerahkan kesehatan kepada Beliau dan saya akan berkhidmat kepada Beliau.

Setelah Beliau sembuh, pada bulan Jumadil Akhir 1362 H, diadakan ijtimak di Mewat. Saya yang hina ini telah pergi menemui Beliau dan sahabat saya yang mulia Maulana Abul Hasan An-Nadwy juga hadir. Semoga Allah membalas kebaikan Maulana Ihtishamul Hasan yang telah mengatur saya menaiki kendaraan kecil Maulana Muhammad Syafi’ Quraisy bersama Maulana Ilyas. Saya, Maulana Ilyas, Maulana Muhammad Syafi’ dan pemandunya berada di satu kendaraan.

Apabila kendaraan bergerak dari Nizamuddin, Maulana pun mulai berbicara. Karena penting dan bernilainya ucapan Beliau saya terlintas di dalam hati untuk mencatatnya. Saya keluarkan buku dan pena dari saku lalu mulai mencatatnya. Catatan dalam perjalanan ini dijadikan Malfuudzaat Bab Pertama bersama catatan pada bulan Rajab 1362 H (1943). Beliau telah mengizinkan saya untuk menerbitkannya di Majalah Al Furqan. Malfuudzaat Bab Kedua dicatat pada bulan Rabiul Awal dan akhit tahun 1363 H. Keduanya ada dalam buku ini.

Sebulan setelah ijtimak Mewat. Saya berkesempatan lagi bersama Maulana Ilyas selama satu Minggu di Ijtimak Lucknow dan Kanpur. Ucapan-ucapan yang penting telah saya catat dan dijadikan Bab Ketiga dari malfuudzaat Beliau. Beberapa lama kemudian Maulana kembali sakit hingga Beliau wafat pada tahun 1363 H / 1944 M.

Empat bulan sebelum Maulana wafat, di bulan Rabiul Awwal sewaktu sakit parah dan mendekati sakaratul maut saya hadir di sisi Beliau. Pada saat itu Maulana Abul Hasan An-Nadwy juga datang berkunjung dan menyarankan agar saya berkhidmat kepada Maulana Ilyas. Satu ketika Maulana Ilyas berkata kepada saya, “Mulwi Shahab, kerja ini perlu diberi masa. Berapa yang kamu sanggup berilah dan tinggallah disini untuk mempelajarinya. Sekarang ini pun (rohani) kamu mampu bergerak ribuan batu sehari.”

Saya mengambil keputusan, Insya Allah akan selalu berada di sisi Maulana, Cuma seminggu kemudian, saya pulang dua tiga hari untuk suatu keperluan. Keseluruhannya saya bersama Beliau kira-kira selama dua bulan sebelum Beliau wafat.

Malfuudzaat Bab selanjutnya dicatat pada masa-masa ini hingga beliau wafat. Bab keempat telah ditulis dan disusun oleh Maulana Za’far Ahmad Thanwy yang berkhidmat di Nizamuddin selama sebulan penuh pada masa-masa akhir kehidupan Maulana Ilyas Rah. A.

Bab-bab selanjutnya disusun sewaktu Maulana sedang sakit sehingga Beliau wafat.

Menyaksikan keadaan Maulana ketika akhir kehidupannya menambahkan lagi yakin akan kisah-kisah yang terjadi pada orang-orang terdahulu yang banyak tertulis pada kitab-kitab. Sakit Beliau sangat membimbangkan kami. Banyak hal yang ingin saya sampaikan dan pengalaman istimewa ini saya rekam dalam makalah saya “Pengalaman Hidup Saya.”

Sukar menerangkan kehebatan pribadi istimewa ini namun saya harap sahabat saya Maulana Abul Hasan Ali An-Nadwy telah menulis mengenainya. Insya Allah dengan menelaah ringkasan dan petikan nasihat serta malfuudzaat ini para pembaca yang mulia akan mendapat gambaran mengenai pribadi dan derajat almarhum.

Beberapa Catatan :

  1. Sewaktu Maulana memberi nasihat, saya yang hina ini menulis secara ringkas dan di lain waktu saya menyusunnya kembali melalui ingatan. Kemungkinan terjadi sedikit perbedaan lafadznya.
  2. Sering juga ketika Maulana sedang berucap saya hanya mendengar dengan tawajjuh kemudian baru disalin berdasarkan ingatan yang mungkin sepersepuluh dari ucapan beliau.
  3. Usaha Maulana menyebarkan kehidupan beragama dan ruh keimanan adalah khusus dengan cara mengorbankan seluruh jiwa dan hidup beliau. Usaha asal Beliau hanyalah dakwah agama. Alhamdulillah setelah Beliau wafat dengan Rahmat Allah dan asbab fikir Beliau usaha meningkat dan bertambah maju.

Mereka yang meneruskan usaha ini sangat penting menjaga tertib serta ruh dakwah ini (Iman dan Ihtisab) dengan tawajjuh. Semoga malfuudzaat ini dapat memberi petunjuk dan bimbingan bagi kita.

Maulana Manzur Nu’mani

Categories: Tertib Dakwah | Tags: , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Pendahuluan

  1. Assalamualaikum wrt. wbt. Tuan yang dihormati, adakah ‘saya’ yang dimaksudkan di atas adalah tuan sendiri?

    • Wa’alaikum salaam wa Rahmatullahi wa Barakaatuhu

      Saya dalam pendahuluan tersebut merujuk ke penulis buku, yaitu Maulana Manzur Nu’mani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: