Perjalanan Syaikh Abu Hatam rah.a (kisah 2)

Kemudian ada orang yang memberitahu bahwa Tanafasi rah.a. adalah juga seorang ulama yang terkenal di di kawasan Qazwin (sekitar 81 kilometer dari Raye) dan hidup lebih mewah lagi. Maka Syaikh Abu Hatam rah.a. pergi ke sana untuk menemuinya. Setelah bertemu dengannya ia berkata, “Hamba ini seorang ajam (non Arab) ingin belajar kepada tuan soal agama dari awal, yaitu dari wudhu yang merupakan kunci shalat.”

Tanafasi rah.a. menjawab, “Dengan senang hati, saya bersedia.” Kemudian ia menyuruh seseorang membawakan air untuk wudhu dan memperagakan cara berwudhu dengan sempurna sambil berkata, “Beginilah cara berwudhu.”

Setelah Tanafasi selesai memperagakan cara berwudhu, Syaikh Abu Hatam berkata, “Izinkanlah saya mengambil wudhu di hadapan tuan, supaya pelajaran saya menjadi sempurna.” Maka Tanafasi beranjak dari tempat wudhu kemudian Syaikh Abu Hatam duduk di tempat itu dan mengambil wudhu. Ia membasuh tangannyaa sebanyak empat kali. Tanafasi menegur, “Ini adalah israf (berlebihan), sebaiknya tiga kali saja.” Maka Syaikh Abu Hatam berkata, “Subhanallah! Sedikit saja air yang saya gunakan menjadi kemubaziran. Bukankah semua perhiasan dan kemewahan yang tuan gunakan untuk hidup mewah itu adalah suatu kemubaziran?” Barulah Tanafasi menyadari bahwa maksud Syaikh Abu Hatam bukanlah untuk belajar tetapi hendak menegurnya.

Setelah itu Syaikh Abu Hatam rah.a. sampai di Baghdad. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal rah.a. mengetahui kedatangannya, ia pun menjumpainya lalu bertanya, “Apakah cara untuk mendapatkan keselamatan dari pengaruh buruk dunia?” Syaikh Abu Hatam menjawab, “Engkau tidak akan selamat dari dunia selagi tidak terdapat perkara ini: (1) Ampunilah orang yang berkelakuan jahil kepadamu, (2) Jangan berlaku jahil kepadanya, (3) Membelanjakan apa yang ada pada kamu ke atasnya dan (4) Jangan percaya dengan apa yang kamu miliki.”

Kemudian Syaikh Abu Hatam rah.a. sampai ke Madinah al Munawwarah. Ketika mengetahui kedatangannya orang-orang di sana berkumpul untuk menemuinya. Ia bertanya kepada mereka, “Kota besar manakah ini?” Mereka menjawab, “Inilah kota besar Rasulullah saw.” Ia bertanya, “Dimanakah istana Rasulullah saw. Saya hendak ke sana untuk mengerjakan shalat dua rakaat.” Mereka menjawab, “Rasulullah tidak pernah tinggal dalam istana. Rumah beliau saw adalah pondok yang sederhana, kecil dan rendah.” Ia berkata, “Tunjukilah saya istana-istana para shahabat r.a.!” Mereka menjawab, “Para shahabat pun tidak pernah mempunyai bangunan seperti istana. Mereka tinggal di pondok-pondok yang kecil dan rendah yang atapnya seolah-olah hendak menyentuh bumi.”

Syaikh Abu Hatam berkata, “Kalau begitu, maka ini adalah kota Fir’aun.” Mendengar itu, mereka ramai-ramai menangkapnya (karena mereka tersinggung melihat orang ajam menghina Madinah al Munawwarah) lalu membawanya kepada Amir Madinah al Munawwarah. Mereka mengadukan kepadanya bahwa orang ajam ini menghina Madinah Thayyibah dengan mengatakannya sebagai kota Fir’aun. Amir bertanya kepadanya, “Apakah hal ini benar?” Ia berkata, “Tuan jangan terburu nafsu. Silakan dengar rangkaian peristiwa tadi. Saya seorang ajam, ketika saya memeasuki kota ini, saya bertanya kota siapakah ini?” Kemudian ia menceritakan seluruh peristiwa itu. Setelah itu ia berkata bahwa di dalam Al Quran yang suci Allah SWT berfirman:

“Laqad kaana lakum fii Rasulillahi uswatun hasanah”

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu adaa suri tauladan yang baik…” (QS Al Ahzab[33]:21)

“Jadi jawablah sendiri, apakah kalian telah mengikuti cara Rasulullah saw atau cara Fir’aun.” Mendengar keterangan demikian, kemudian mereka melepaskannya.

Categories: Kisah Dakwah | Tags: , | 5 Komentar

Navigasi pos

5 thoughts on “Perjalanan Syaikh Abu Hatam rah.a (kisah 2)

  1. topan thalhah

    dakwah itu memberi bukan meminta
    dakwah itu berbicara militansi bukan kemalasan

    dakwah itu profesional bukan asal-asalan
    dakwah itu mengenai ketaatan bukan suudzon yang mengacaukan barisan
    di jalan dakwah ini orang berhimpun

    dalam satu tujuan untuk mencurahkan mahabbah pada Rabbnya

    bersatu dalam membela agama dan syariat-Nya

  2. idris wibiyanto

    maksudnya apa ini. Apakah syaikh Abu Hatam berbohong supaya tdkdihukum amir madinah? pdhl diakan sudah ngomong bahwa madinah itu adalah kota firaun.

  3. Bambang DeKa

    nasehat yang mengena dengan contoh jelas

  4. Usman

    assalamu’alaikum
    saya sangat prihatin dan tidak setuju dengan model cerita semacam ini, Nabi Muhammad seoraang pedang yang kaya raya, bigitu juga para sahabat tetapi memang tetap tawaddu’, kalau model cerita macam ini (belum tentu kebenarannya) yang mau kita ikuti saya yakin umat islam akan terjajah oleh agama yang lain , ingat “kemiskinan akan mendekat kepada kekufuran”,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: