You are currently browsing the category archive for the ‘Tertib Dakwah’ category.

Beliau berkata, “Apabila seorang hamba ingin berbuat kebaikan, maka syaitan akan menghalanginya dengan berbagai cara dan menyempitkan jalannya serta menimbulkan rintangan. Jika cara ini tidak berhasil maka syaitan akan menggunakan cara merusak niat dan keikhlasan dengan menyuntikan racun Riya’ dan sum’ah dan mencabangkan niatnya agar timbul niat lain. Syaitan selalu berhasil dengan muslihat ini.

Maka ahli agama hendaklah berhati-hati atas tipu daya ini dan senantiasa memeriksa niat kita. Niat hanya karena Allah jangan dicampur dengan niat lain yang menyebabkan amal tersebut tidak diterima.

Beliau berkata, “Ada ahli agama dan ulama yang salah memahami ISTIGHNA (tidak berhajat kepada yang lain selain keredhaan Allah). Mereka menyangka bahwa maksud istighna adalah tidak bertemu dan bergaul dengan orang-orang kaya dan hartawan. Padahal maksud istighna adalah kita pergi jumpai mereka dengan perasaan tidak berhajat kepada harta dan pangkat tapi semata-mata untuk ishlah diri mereka. Bertemu dengan maksud agama dan menyampaikan perkara agama, tidak menyalahi maksud istighna bahkan ini sangat penting. Yang perlu dijaga sewaktu kita bertemu dengan mereka adalah hati kita jangan terkesan serta tidak berhajat kepada dunia dan pangkat mereka.

Beliau berkata, “Derajat WAJIB adalah lebih tinggi daripada SUNNAH. Perlu difahami bahwa sunnah itu untuk menyempurnakan hal wajib yang ada kekurangan. Sunnah adalah penghias dan wajib adalah tujuan. Banyak orang salah faham. Mereka melalaikan yang wajib dan sibuk dengan amalan sunnah. Tuan-tuan telah mengetahui bahwa dakwah ilal khair, amar makruf dan nahi mungkar adalah FARDHU dan kewajiban agama. Berapa banyak orang yang melakukannya? Sedangkan dzikir-dzikir sunnah dan banyak lagi amalan agama yang derajatnya sunnah, sangat banyak orang yang mengerjakannya.”

Beliau mengatakan, “Tujuan khusus thariqat (tashawuf) adalah agar tabiat manusia gemar dengan perintah Allah dan membenci larangan Nya (merasakan kelezatan beribadah dan merasa duka cita jika berbuat maksiat) Inilah tujuan dari thariqat. Yang lain di dalamnya (dzikir, ibadah, riyadhah, tafakkur, sughul, mujahadah, dll) adalah asbab agar segera sampai kepada tujuan. Namun hari ini banyak orang menyangka bahwa asbab itu adalah tujuan thariqat. Padahal kebanyakannya adalah BID’AH. Karena dengan derajat semua cara itu adalah asbab pada tabiat bukan tujuan, maka mengikut kehendak dan keadaan yang berlainan, cara itu harus diperbaiki untuk sampai kepada tujuan. Yang terpenting adalah perkara di dalam syariat karena syariat itu WAJIB diamalkan sepanjang zaman.

Beliau berkata, “Di dalam Al Quran dan Hadits telah banyak disebut tentang pentingnya Hakikat Agama dan Agama itu ‘YUSRAN (mudah dan ringan). Semakin penting suatu perkara dalam agama maka semakin mudah. Ruh agama itu Tashhiih Niat dan Ikhlash, merupakan bagian terpenting dalam agama yang juga sangat mudah dan menjadi maksud suluk dan thariqat (cara ishlah dalam tashawuf). Bahwa suluk dan thariqat juga sangat mudah.

Perlu diingat bahwa setiap perkara akan menjadi mudah apabila dibuat dengan tertib dan caranya. Dengan cara yang SALAH perkara mudah menjadi sangat susah. Kesalahan manusia ialah tidak menjaga tertib . Padahal apapun perkara dunia ada tertib dan caranya yang perlu di ikut. Sekiranya tidak mengikut tertib maka pasti tidak akan berhasil. Membawa pesawat, kapal laut, kereta api, mobil, hingga memasak roti pun ada tertib dan kaidahnya sendiri.

Beliau berkata, Lazimnya, umat nabi-nabi terdahulu apabila jauh dari zaman kenabian, ruh dan hakikat amalan serta ibadah mereka mati lalu berubah menjadi adat dan upacara-upacara saja. Itulah agama yang tinggal. Untuk menghapuskan kesesatan dan adat itu maka para nabi diutus menghidupkan kembali ruh ibadah dan hakikat agama yang tulen sehingga akhirnya diutus baginda Rasulullah saw. Seluruh agama samawi waktu itu berkeadaan demikian, yang tinggal hanyalah beberapa adat yang disangka syariat. Rasulullah saw datang menghapuskan adat-adat itu dan mengajar hakikat agama, hokum, dan akhlak yang sebenarnya.

Umat Muhammad saw kini juga sedang menderita penyakit yang sama, amal ibadah telah menjadi adat saja. Taklim agama yang sepatutnya menjadi asbab untuk ishlah diri telah menjadi adat juga. Karena silsilah nubuwah telah tamat maka kerja nubuwah ditanggungjawabkan kepada para ulama pewaris nabi. Fardhu atas mereka usaha memperbaiki suasana fasad dan sesat ini dengan cara membetulkan niat. Karena suatu amalan menjadi adat jika dilakukan bukan dengan niat karena Allah dan sifat penghambaan. Oleh karena itu membetulkan niat akan menghidupkan ruh amalan hingga tidak lagi disebut sebagai adat malah sebagai hakikat dan penghambaan diri kepada Allah.

Maka dalam setiap amalan hendaknya ada sifat penghambaan dan semangat beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu menanamkan niat yang shahih dalam setiap amalan agar menjadi hakikat menjadi tugas dan kewajiban para ulama dan ahli-ahli agama.

PENDAHULUAN

 

Nama Maulana Muhammad Ilyas Rah. A. telah saya ddengar sejak saya masih belajar. Pertama kali saya bertemu beliau kira-kira pada bulan Ramadhan 1353 H (1934 M). Empat atau lima tahun kemudian beberapa kali saya berpeluang bertemu dan menziarahi Beliau. Saya menganggap Beliau seorang ulama mithali yang mukhlish dan seorang yang luas pandangan namun saya belum terkesan dan belum dapat memahami maksud usaha dakwahnya.

Pada masa agama mengalami kemunduran dan tidak dianggap penting, Beliau telah berusaha menghidupkan kembali ruh agama dan membangkitkan semangat yang tinggi dan harapan cerah untuk mengishlah umat.

Baca entri selengkapnya »

Sampul Buku

Syarat Khuruj :

  1. Khuruj dengan diri sendiri, dengan penuh ridha, ikhlash tanpa dipaksa.
  2. Khuruj dengan harta yang halal.
  3. Khuruj dengan waktu yang halal.
  4. Khuruj dengan merasa butuh kepada Allah.

Dari Abdurrahman bin A’id ra, dia berkata, “Adalah Rasulullah saw apabila hendak mengirimkan pasukan, maka Beliau memberi nasehat, ‘Bersikap lembut dan sayanglah kepada orang-orang! Jangan menyerang mereka sebelum kalian BERDAKWAH kepada mereka, dan janganlah menghancurkan rumah-rumah mereka! Jangan biarkan satu orang penghuni rumah pun yang ada di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali kalian membawa mereka ke hadapanku dalam keadaan muslim (telah memeluk Islam), karena yang demikian itu lebih aku sukai daripada kalian datang padaku dengan membawa istri-istri dan anak-anak mereka setelah kalian membunuh suami-suami mereka!’ “. (HR. Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir dalam kitab Al Kanz jilid II halaman 294. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Syahin dan Al Baghawi seperti terdapat dalam kitab Al Ishaabah jilid III halaman 153, juga Tirmidzi dalam kitabnya jilid I halaman 195).

Baca entri selengkapnya »

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tanggal Hijriyah

Blog Stats

  • 248,818 hits

Cari Tulisan Melalui Kategori :

Quran Surat Al ‘Ashr :

"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat untuk berpegang teguh dalam kebenaran, dan berwasiat untuk berlaku sabar."

Page Rank Check

Negara :

free counters

Top of Blog :

TopOfBlogs
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.