Jamaah Tabligh Pakai Hadits Dhaif?

Kamis, 16 Agu 07 10:34 WIB

Assalamualaikum wr… Wb.

Ustadz yang dirahmati Allah SWT., saya ingin menanyakan perihal Jamaah Tabligh (JT). Kurang lebih 6 bulan terakhir ini, saya agak aktif mengikuti mengikuti kegiatan dakwah JT, dan bahkan beberapa kali saya pernah mengadakan khuruj (perjalanan dakwah keluar daerah) sebelum masuk di sini(JT).

Awalnya saya sempat menanyakan kepada seorang ikhwan dari kalangan salafi yang mengatakan bahwa jamaah ini adalah sesat. Dengan beberapa alasan yang dikemukakan, seperti selalu menggunakan hadits-hadits dhaif dan sebagainya.Tapi karena saya ingin berada dalam suatu lingkungan yang Islami (saat ini berada di Jepang), saya akhirnya mencoba masuk. Dan ternyata, sepengetahuan saya hadits-hadtis yang digunakan juga adalah yang sering saya baca sebelum masuk di JT.Juga tidak ada pembaiatan amir seperti yang dikatakan teman salafi itu. Justru ibadah-ibadah sunnah saya sudah mulai dijalankan. Saya ingin ustadz tolong berikan gambaran tentang JT ini, apakah memang ada hal-hal yang bid’ah di dalamnya. Maaf pertanyaan saya agak panjang ustadz.Jazakallah khoirRZRZ

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagai muslim yang baik, kita diwajibkan olehAllah SWT untuk selalu berhusnudzdzan kepada sesama muslim. Kehati-hatian kita untuk tidak terjebak berpegang kepada hadits yang dhaif bukan berarti kita boleh selalu berburuk sangka kepada semua orang. Karena boleh jadi suatu kelompok yang terlanjur kita tuding melakukan kesalahan, suatu ketika mereka melakukan perbaikan. Sehingga apa yang kita komplain dari mereka sudah tidak ada lagi. Lalu apakah kita tidak ikhlas kalau ada orang yang memperbaiki diri?

Hukum Beramal Dengan Hadits Dhaif

Tentang hukum beribadah dengan berdasarkan hadits yang lemah (dhaif), memang ada sementara kalangan yang membolehkan kita beribadah yang bersifat nafilah (tambahan) dengan menggunakan landasan hadits-hadits yang dhaif, namun harus diakui bahwa pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama lain. Ini adalah perbedaan pendapat yang bersifat klasik sejak dulu, di mana para ulama besar memang berbeda pendapat. Tidak ada gunanya kita sekarang ini meributkan hal-hal yang para ulama telah berselisih. Apalagi sampai harus membuat hubungan ukhuwah (persaudaraan) di antara muslimin menjadi retak. Seandainya ada di antara anggoa Jamaah Tabligh yang pernah menggunakan hadits dhaif dalam ibadah mereka, ketahuilah bahwa sejak dulu sudah ada ulama yang membolehkannya. Dengan catatan, tingkat kedhaifan hadits itu tidak terlampau parah, serta masalahnya bukan masalah aqidah atau hukum halal dan haram. Bila ada jamaah lain yang cenderung berpendapat sebaliknya, hanya mau mengamalkan hadits shahih saja, tentu sangat baik. Akan tetapi kalau diiringi dengan sikap antipati, merendahkan, melecehkan atau malah menuding sesat kepada saudaranya yang tidak sependapat dengan mereka, tentu hal ini patut kita sayangkan. Apalagi kalau kita mengingat bahwa status hukum suatu hadits, apakah shahih atau hasan atau dhaif, terkadang juga masih menjadi perbedaan di kalangan ulama hadits sendiri. Boleh jadi ada hadits yang dihukumi sebagai shahih oleh sebagian ulama, namun menurut ulama lain hadits itu malah dhaif. Kalau sudah begini, tentu masalahnya akan semakin kompleks.

Jamaah Tabligh

Jamaah tabligh bukan jamaah yang bervisi misi tentang keshahihan suatu hadits, meski juga bukan berarti mereka tidak punya ulama hadits. Latar belakang berdirinya yang membuat jamaah ini tidak terlalu menekankan masalah keshahihan hadits. Dan sebenarnya, kebanyakan jamaah di dunia ini memang tidak selalu berorientasi kepada keshahihan suatu hadits, karena latar belakang pendirian serta bidang garapnya memang tidak ke sana. Namun kami sangat yakin manakala mereka diajak baik-baik untuk belajar ilmu hadits, diberi motivasi untuk lebih mendahulukan hadits shahih ketimbang hadits dhaif, tentu mereka akan menerima. Siapa sih umat Islam yang tidak mau mengamalkan hadits shahih? Mungkin saja ketika ada orang yang mengamalkan hadits yang kita anggap dhaif, ternyata sebabnya sederhana sekali. Yaitu dia memang belum pernah belajar ilmu hadits. Sehingga tidak tahu bahwa hadits itu terbagi menjadi shahih, hasan dan dhaif. Dan rasanya, kebanyakan umat Islam di negeri ini memang masing lemah dan awam dalam masalah hadits. Jangankan urusan keshahihan hadits, lha wong baca Al-Quran saja banyak yang terbata-bata. Maka ada baiknya kita mengajak mereka untuk belajar, bukan dengan dengan menjatuhkan mental sambil menggoblok-goblokkan. Perlu kita pahami bahwa setiap jamaah dari umat Islam tidak akan mampu menjadi jamaah yang sempurna di semua sisinya. Pasti akan selalu ada sisi-sisi tertentu yang menjadi skala prioritas misinya, dengan tentunya punya kelemahan pada sisi lainnya. Kalau cara bergaul kita dengan sesama jamaah muslimin selalu dengan pendekatan untuk mencari titik-titik lemahnya, maka selamanya kita akan selalu berpecah belah. Karena kita selalu memandang semua orang dengan sebelah mata. Kita akan selalu beranggapan bahwa semua jamaah itu jelek, biang bid’ah, aliran sesat, harus ditahdzir, dan seterusnya. Seolah yang punya hak untuk menetapkan salah dan benar hanya diri kita sendiri. Karena itu sebaiknya kita tidak perlu mendiskriditkan lembaganya, yang perlu kita lakukan adalah mengajak orang-orang untuk belajar ilmu hadits kepada ahlinya. Kalau perlu kita membuka kelas-kelas pelajaran hadits secara gratis dan terbuka buat siapa saja. Marilah kita ajarkan ilmu hadits, dengan semangat untuk meningkatkan kualitas umat, bukan untuk mencari kelemahan sesama jamaah muslimin. Semoga Allah SWT memelihara niat tulus kita dan mengabulkan harapan kita agar ilmu hadits dapat lebih dikenal dan dipahami oleh umat Islam. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

About these ads
Categories: Jemaah Tabligh | Tags: | 32 Komentar

Post navigation

32 thoughts on “Jamaah Tabligh Pakai Hadits Dhaif?

  1. abu ibrahim

    assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuhu

    *jamaah tabligh bukan jamaah yang bervisi misi tentang keshahihan suatu hadits, meski juga bukan berarti mereka tidak punya ulama hadits. Latar belakang berdirinya yang membuat jamaah ini tidak terlalu menekankan masalah keshahihan hadits. Dan sebenarnya, kebanyakan jamaah di dunia ini memang tidak selalu berorientasi kepada keshahihan suatu hadits, karena latar belakang pendirian serta bidang garapnya memang tidak ke sana*

    ana ko jadi bingung ya akh….sama tulisan antum diatas…., maafkan kebodohan ana dan semoga ALLAH beri ana kefahaman tentang “jamaah” antum

  2. brohitman

    yah payah, sama2 mau menang. rekan tabligh kalo dikriting, eh dikritik gt, wes aja, nyante. kalo rekan salafy yg kritik ampe kriting say thanks god aja. Lha wong yg ngekritik baca alquran ma hadist, orang yg ngaku jago elmu…. (tp lemah dalam ngamalin hehehe..fakta man), dan rekan tabligh yg ngaku jago belajar iman, kudu liat2, yg dibela2in itu benar2 salah ato nyimpang… Lha ahmadiyah yg punya jemaah sangat bejibun itu juga mati2an bela usahanya shalih…So, masing sebaiknya sering2 tadabbur malam2, ingat kedaifan kita, kelemaha hati dengan sombong dan ujub, dan seabrek2 dosa2 kita……… oke ya freen………..

  3. brohitman

    aaaaaaaaa

  4. sekarang kalau salafy suka ngritik saya biarkan karena salafy sudah menemukan dalil-dalil zikir lama-lama habis sholat wajib, dalil-dalil sholat ISRO,dalil-dalil membuat jamaah sholat wajib yang kedua,mengangkat tangan ketika berdua

    // Kalau ada yang ganggu ketika sedang melakukan ketaatan kepada Allah, diterima saja dengan hati terbuka.

    URLnya kok pakai punya orang

  5. maaf sebenarnya saya mau menulis suka memfonis setelah membaca yang menulis Ustad Ahmad Sarwat, Lc maka saya ganti ngritik

  6. enchex

    assalamu’alaikum..

    jagalah lidah dan nafsu kita . .

    hamba ALLAH yang dhoif..
    wassalaam..

  7. Assalamu alaikum……..
    barang siapa menutupi aib seorang muslim maka Allah swt akan menutupi aib kita,barang siapa menunaikan hajat saudara yang muslim maka allah akan menunaikan hak kita.
    ya akhi……
    orang mau ngomong apa kita dengerin dan ambil ibrohnya aja,orang mau mencemoh,menghina,atau mau apa kita terima aja,semakin banyak kita diejek,di fitnah,di hibah maka dosa2kita akan berguguran di ampuni oleh Allah swt.
    dikatan kita kurang ilmu memang kita ini masih kurang ilmu,walaupun seorang yang alim sekalipun yang sudah hafidz al-qur’an dan hafal hadits puluhan ribu itu aja masih kurang ilmu,kenapa karena apa bila ilmu umat sedunia sekalipun apabila di bandingkan dengan ilmunya allah swt ibarat jarum di masukan ke dalam lautan dan air yang menetes itulah ilmu umat.maka jangan lah kita merasa alim.karena al- alim adalah Allah swt.maka kita terima aja kalau kita di katakan bodoh2.memang kita bodoh.!!!!!!!!apa yang mengatakan kita bodoh sudah alim?baru ikut 2an majlis aja udah modoh2in orang.maka marilah kita yang masih bodoh2 ini kita tingkatkan pengorbanan dengan khuruj fisabilillah minimal 4 bulan setiap tahun.maka Allah swt akan memberi ilmu hikmah pada diri kita sebagai mana Allah swt memberikan almu hikmah pada nabi Hidir,yang orang lain tidak akan di beri.4 bulan adalah ruhnya agama.hamba yang bodoh ini minta doa dari antum yang membaca…semoga kita tetap di istiqomahkan dalam amalan agama.ami…..en.
    wassalamu alaikum……..

  8. enchex

    Assalamu’alaikum wr wb..
    Banyak bicara tentang ke AGUNGAN ALLAH..Kemuliaan RasuluLLAH..
    Mohon dikurangi waktu didepan komputer untuk mengurusi orang2 yang membenci saudaranya..
    wassalam..

  9. ya setiap manusia memiliki dasar ingin dianggap paling pinter, benar dan seterusnya. Saya ikut usaha dakwah ini belum lama bari setahun, tapi ini menurutku tidak ada penyimpangan….hanya kawan2 yang menganggap kita bodoh (tidak berilmu dan sesat) saja mungkin ngiri karena kita koq bisa dan mpu ya keliling masjid, mengajak orang ke masjid, meninggalkan anak isteri, berkorban materi dan seterusnya, sedangkan mereka hanya duduk di masjid (itu juga gak lama), tak pernah ngajak orang shalat (ini di kampungku) tapi rajin mempengaruhi orang yang ikut usaha dakwah ini untuk berhenti…..aneh

    Mereka bilang ahli sunah tapi dikit kali sunah yang dijalankannya….Allahualam lah, moga Allah mengampuni saya, kita dan mereka

  10. muhammad Amin

    saudara yang se iman tidak malu kah kamu di ejek sama agama lain!?soalnya ada teman yang beragama lain ngejek dia bilang bagaimanna saya akan mau masuk islam sedangkan orang islam aja saling mengejek.itu pun orang udah banyak ilmunya.jadi perbaikilah iman kita jangan saling adu argumen di internet.carilah pelajaran yang bermanfaat.wslm….

  11. dhalili daud khalil ahmada mualana

    kadang kita perlu kajia kembali diri kita JT sendiri menurut saya bangus lebih mengajak ke baikan dgn menamkan hati kpd kalimat tayyibah dan sy lihat yg orng uda mendapatkan hidayah mereka mersa dekat dgn allah lalu mengajak org dgn paksaan sama aja mengerjakan amal krn manusia itu riya

  12. dhalili daud khalil ahmada mualana

    bagiman ggk pecah ummat islam masing 2 ingin di hormati bhwa jadi pengikutnya akan lbh baik masuk surga bukanya unutk saling mengajarkan cara sholat yg benr bagimana tepat wakytu sholat wudhu yg benar masih banyak ummat manusia yg tidak mengkaji hal tsbt pegennya simpel tapi langsung masuk surga lihat baginda nabi muhhammad s.aw berjuang mencari hakikta islam hinnga ahati ini kita pajang dirumah di tempat yg ramai di tempat tidur dan diatas tikar dan lain-lain sy manghimbau baik itu salafy maupun JT jangan saling meremahkan sesama ummat islam jika nabi mau memgutuk ummar yg pd saat itu mencaci menghina bisa saja tetpi rasull tidak punya kehendak yg punya kehendak adalah Alllah swt

  13. shafiq

    shafiq

    Assalamu’alaikum wr wb..
    Banyak bicara tentang ke AGUNGAN ALLAH..Kemuliaan RasuluLLAH..
    Mohon dikurangi waktu didepan komputer untuk mengurusi orang2 yang membenci saudaranya..
    wassalam..

  14. shafiq

    asslamu’alaikum

    saya memohon copy …

  15. ali

    Assalammu’alaikum

    Bismillah.

    Ana kira alangkah baiknya jika akhi2 salaf mau berbagi ilmu kepada akhi2 JT yang baru mau dekat dengan Allah SWT, dengan tidak memberikan suntikan2 kebencian terhadap JT itu sendiri.
    Dan lebih bagus lagi jika akhi2 salaf mau ikut keluar (Khuruj) bersama/mendampingi akhi2 JT selama 4 bulan.
    Ana sudah mengalami keluar 4 bulan. Terasa betul, setitik kecil pengorbanan yang telah Nabi Muhammad SAW pada saat kita keluar, kalo akhi2 salaf nggak percaya coba sendiri …

    Ana yakin antum bisa … Amiin.

    Salam buat Masyekh2 diseluruh dunia.

    Wassalam

  16. Anonymous

    hati-hati dengan adanya hadits2 yang meragaukan bahkan menyesatkan,hadits shahih yaitu terdiri dari matan,sanat,dan perowi.itu perlu diperhatikan.karena sekarang kerap sekali para orang yang sudah merasa dirinya sempurna sehingga membuat hadits sendiri tanpa tau kebenarannya.sebagai seorang muslim gak usah lah melakukan hal2 yang aneh2, jangan larang manusia selama masih menjalankan rukun iman&rukun islam.jaga persatuan sesama muslim jangan pandang dari sisi mana.

  17. ari

    hati-hati dengan adanya hadits2 yang meragaukan bahkan menyesatkan,hadits shahih yaitu terdiri dari matan,sanat,dan perowi.itu perlu diperhatikan.karena sekarang kerap sekali para orang yang sudah merasa dirinya sempurna sehingga membuat hadits sendiri tanpa tau kebenarannya.sebagai seorang muslim gak usah lah melakukan hal2 yang aneh2, jangan larang manusia selama masih menjalankan rukun iman&rukun islam.jaga persatuan sesama muslim jangan pandang dari sisi mana.

  18. arieniya

    Asalamualaikum.
    Salam hormat dan takdim kami
    Terima kasih atas penjelasan Ustad Sarwat.
    Kami memang bersedih pada tuduhan2 bahwa FA menjadi satu2nya kitab hidup kami. kami yang awam ingin sekali terus belajar.

    Tuduhan kepada kitab ini lazim kedengaran tetapi sejauh ini belum dijumpai seseorang yang secara khusus mentakhrij hadis-hadis dlm kitab Fadhail Amal. Tanpa takhrij yang lengkap, bagaimana mereka tahu dan menuduh di dalamnya ada “banyak” hadis dhaif dan maudhu ?

    Dari satu sumber saya petik, Maulana Zakariya ketika menyusun kitab Fadhilah Amal merujuk hadis-hadis kepada sumber berikut:

    KITAB-KITAB RUJUKAN KITAB FADHILAH AMAL
    1. Ahkaamul Qur’an, Abu Bakar Ahmad bin Ali Razi Al Jashshosh
    2. Aini Syarah Bukhari, Badruddin Abu Muhammad bin Ahmad ‘Aini
    3. Al Kamil, Izuddin Ali bin Muhammad Ibnu Atsir Jazuri
    4. Al Qaulil Badi fis Shalati ‘Alal Habibi, Syamsuddin Muhammad As Sakhowi
    5. Az Zawajir, Imam Ibnu Hajar Al Haitami
    6. Al Ishobah, Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i
    7. Al Muwaththa’, Abu Abdullah Maliki bin Anas bin Maliki
    8. Asyhur Masyahir Islam, Rafiq Baki Al Azhim
    9. Asy Syifa, Qadhi ‘Iyadh bin Musa Al Husaini
    10. At Targhib wat Tarhib, Abdul Azhim bin Abdul Qawiy Al Mundziri
    11. Ath Thobaqot, Muhammad bin Sa’id Katibi Al Waqidi
    12. ‘Aunul Ma’bud, Abu Abdurrahman Syarif
    13. Awjazul Masaliki, Maulana Muhammad Zakariyya
    14. Baihaqi, Abu Bakar bin Husain bin Ali Al Baihaqi
    15. Bayanul Qur’an, Maulana Asyraf Ali Thanwi
    16. Badzlul Majhud, Maulana Kholil Ahmad Muhajir Madani
    17. Bukhari Syarif, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail
    18. Diroyah, Ibnu Hajar Alaihir Rahmah
    19. Durrul Mantsur, Allamah Jalaluddin Suyuti
    20. Fatawa Alamghiri, Hadzrat Alamghiri
    21. Fathul Bari Abu Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani
    22. Harzuts Tsamin Fii Mubasyiratin Syah Waliyullah Dahlawi
    Nabiyyil Amiin
    23. Hishni Hashin Syamsuddin bin Muhammad Al Jazuri
    24. Hilyatul Aulia’ Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Asbahani
    25. Hujjatullah Al Balighah Syah Waliyullah
    26. Ibnu Hibban Muhammad bin Hibban bin Ahmad
    27. Ihya’ Ulumuddin Imam Ghazali
    28. Iqamatul Hujjah Maulana Abdul Hayyi Lakhnawi
    29. Irwahi Tsalatsah Tartib, Maulana Zhuhri Al Hasan
    30. Isti’ab Hafidz Ibnu Abdul Bar Maliki
    31. Ithaf Sadatul Mutaqin Muhammad bin Muhammad Az Zubaidi
    32. Jam’ul Fawaid Muhammad bin Muhammad Sulaiman
    33. Jamal Syaikh Sulaiman Al Jamal
    34. Jami’ush Shoghir Abdurrahman Jalaluddin Suyuti
    35. Kanzul ‘Ummal Allamah Ali Burhan Puri
    36. Kaukabud Durri Syaikh Zadu Majdah
    37. Khoshoish Kubra Allamah Suyuti
    38. Kitabul Amwal Imam Abu Abid Al Qasim bin Salam
    39. Kitabul Ummah was Siyasat Abdullah bin Muslim
    40. Majma’uz Zawaid Hafidz Nuruddin Al Haitsami
    41. Maqosid Hasanah Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman
    42. Masyirul ‘Azam Jamaluddin Abdurrahman bin Al Jauzi
    43. Mazhahirul Haq Nawab Qatbuddin Khan Bahadur
    44. Mirqatu Syarah Misykat Nuruddin Abi bin Sulthan Muhammad Harwi
    45. Misykat Syarif Waliyuddin Muhammad bin Abdullah
    46. Musamirat Syaikh Akbar Ibnu Arabi
    47. Mushonnif Abdullah bin Muhammad Ibnu Abi Syaibah
    48. Musnad Abu Awanah Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim Naisaburi
    49. Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin Al Natsna Al Muwashol
    50. Musnad Ahmad Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
    51. Musnad Al Firdaus Abu Mansur Ad Dailami
    52. Musnad Bazzar Abu Bakar Ahmad bin Umar Al Bazari
    53. Musnad Hakim Muhammad bin Abdullah bin Muhammad
    54. Musnad Ibnu Khuzaimah Muhammad bin Ishaq Ibnu Khuzaimah
    55. Mustadrak Hakim Muhammad bin Abdullah Naisaburi
    56. Nazhatul Basatin Abdullah bin As’ad Yamini Yafi’i
    57. Qashoidu Qasimi Maulana Muhammad Qasim Nanatwi
    58. Qiyamul Lail Muhammad bin Ahmad bin Ali Marwazi
    59. Qurratul ‘Uyun Syaikh Abu Laits Samarqandhi
    60. Rahmatul Muhtadah Abul Khairi Nurul Hasan wal Husaini
    61. Raudhul Faiq Syaikh Syu’aib Al Harifaisyi
    62. Raudhur Riyahin Abdullah bin As’ad Yamani Yafi’i
    63. Shahih Muslim Abul Hasan Muslin bin Al Hajjaj
    64. Sunan Abu Dawud Abu Dawud sulaiman bin Asy’ats Sajastani
    65. Sunan Darami Abdullah bin Abdurrahman Darami
    66. Sunan Daroquthni Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad
    67. Sunan Ibnu Majah Muhammad bin Yazid Al Qardini
    68. Sunan Nasai Ahmad bin Syu’aib bin Ali
    69. Sunan Thabrani Abdul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin ayyub
    70. Sunan Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Surah At Tirmidzi
    71. Syamail Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Surah At Tirmidzi
    72. Syarhus Sunnah Husain bin Ma’ud Al Farail
    73. Tadzkiratul Huffadz Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Zaibi
    74. Tafsir Kabir Imaduddin Abdul Fadai Ismail bin Umar bin Katsir
    75. Tafsir Khozin Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim
    76. Tafsir ‘Azizi Syah Abdul Aziz Dahlawi
    77. Tahdzibul Mustadzib Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani
    78. Talqihu Fuhumil Atsir Jamaluddin Abdurrahman bin Al Jawazi
    79. Tanbihul Ghafiliin Syaikh Abu Laits Samarqandi
    80. Tarikh Khomis Syaikh Husain Muhammad Ibnu Al Hasan
    81. Tarikhul Khulafa Allamah Jalaluddin Abdurrahman Suyuthi
    82. Usudul Ghobah Allamah Ibnu Atsir Jazuri
    83. Yusuf Zulaikha Maulana Abdurrahman Jami’
    84. Zadu Sa’id fi Dzikrin Nabiyyil Habib Hadzrat Aqdas Tsanwi

    Di dalam kitab FA memang terdapat hadis-hadis dhaif di mana:

    [a] Maulana Zakariya berpegang kepada pendapat jumhur yang membolehkan penggunaan hadis dhaif untuk Fadhail Amal.

    [b] Darajat hadis dirujuk beliau kepada apa yang dinilai oleh tokoh-tokoh sepertimana dalam rujukan di atas.

    Sikap yang benar di dalam masalah ini ialah memahami manhaj Maulana Zakaria dalam menyusun Fadhilah Amal terlebih dahulu. Jika benar ada “banyak” hadis dhaif, maka itu memang merupakan manhaj beliau sebagaimana manhaj kebanyakan tokoh lain.

    Jika benar ada hadis maudhu, maka adakah itu satu kesengajaan oleh Maulana ? Saya pasti tidak pasti.

    [2] Buku Fadhail Amal memiliki banyak ajaran kurafat dan bid’ah.
    Jawab: Sekali lagi, siapakah yang telah mentahqiq kitab FA secara lengkap sehingga dapat dikatakan jumlahnya ialah “banyak” ?

    Kedua, kurafat dan bid’ah tersebut – adakah ia sesuatu yang disepakati atau masih ada perbedaan pendapat di dalamnya.

    Ketiga, jika ada maka tugas kita ialah membetulkannya dan bukan mengkritik sehingga mengeneralisasikannya kepada seluruh kitab FA.

    Keempat, Maulana Zakaria di akhir kitab Fadhail Solat ada menerangkan bahawa sebahagian kisah yang dibawanya itu bersifat “longgar” bertujuan untuk menarik atau menggetarkan hati. Beliau menegaskan ia bukannya hadis. Ini merupakan manhaj yang dipegang oleh sebahagian tokoh terdahulu.

    Kelima, kurafat dan bid’ah adalah masalah yang terdapat di dalam pelbagai aliran, maka kenapa dikhususkannya kepada JT sehingga ditutupi segala kebaikan mereka yang lain ?

    [3] JT tidak memiliki ilmu dalam berdakwah.

    Jawab: Sekali lagi, siapakah yang memiliki ilmu yang mencukupi untuk berdakwah ? Seberapakah ilmu yang cukup untuk di ijinkan berdakwah ? Apakah tidak membaca kitab ? Jika ilmu mereka sudah cukup, kritikan sebegini tidak akan keluar daripada mulut mulut mereka. Jika ilmu belum cukup, maka kenapa sibuk kritik orang lain ?

    Insya Allah kita harus niat dakwah kepada siapapun, dimanapun, kapanpun, dengan siapapun dan kondisi apapun.

    “Karte karte marnahe, marte marte karnahe
    Sari ke sari kamiyabi Allah sirep ke hatmehe”

  19. sebenarnya sudah lama ada pentakhrij kitab fadhoil amal maulana zakariya rah mungkin sekitar tahun 2004 atau 2005an..yaitu almuhaddits lathifurrahman qosimi rah..Kitabnya ada kok di arab saudi, bahkan diperpustakan king fahd national library..ini linknya http://www.kfnl.gov.sa:88/ipac20/ipac.jsp?session=1S48075N7445A.2254&profile=akfnl&uri=link=3100020@!384385@!3100006@!3100013&aspect=basic_search&menu=search&ri=1&source=172.16.16.74@!kfnl1256&term=%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%87%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D8%AC%D9%8A%D8%8C+%D9%84%D8%B7%D9%8A%D9%81+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%85%D9%86+%D8%AE%D8%A7%D9%86+%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%A7%D8%B3%D9%85%D9%8A&index=

    ini judul kitabnya
    تحقيق المقال
    في تخريج احاديث
    فضاءل الاعمال
    للمحدث لطيف الرحمن القاسمي

    tahqiq maqol fii takhrij ahadits fadhoil amal
    ini sedikit informasinya:
    This book has an introduction in which the author proves that the stories mentioned in Fazail e Amaal which seem extraordinary are also collected by Hanaabilah scholars the likes of Ibnul Jawzi, 0, and many others, and the “Tabaqaatul Hanabialh” (a book about the biographies of Hambali scholars) is full of such stories.

    He then speaks on the status of weak narrations. He also mentions the many weak narrations that were collected by the likes of Bukhari, Muslim, in their books other than the Sahihain. He also mentions the weak narrations collected by Zahabi, Nawawi, Ibn Hajr, Nawaab Siddique Bopali Salafi, and many other great Muhadditheen from the past. He pointed out some Fabricated Ahadith that Zahabi and some others mentioned.

    All to say if you want to reject Fazail e Aamaal then reject the books of Ibnul Qayyim, Ibn Taymiyah, Zahabi, Bukhari and Muslim and many other Muhadditheen, becuse they also collected weak narrations and some even collected fabricated ones.

    ini link informasinya: http://www.sunniforum.com/forum/showthread.php?p=250707

    Kemudian bagaimana mengenai penggunaan hadits dhoif?? saya kopikan aja suatu hasil diskusi:

    Didalam kitab al adzkar imam nawawi rah (bab perintah dalam mengkhlaskan dan memperbagus niat di dalam keselruhan amal baik yang nampak maupun tersembunyi) disebutkan oleh beliau rah, bahwa para ulama, muhadditsin, fuqoha, atau selainnya memperbolehkan penggunanan hadits dhoif dalam fadhilah/keutamaan2 amal, targhib wa tarhib.

    Beliau juga mengatakan hal tersebut dalam muqodimahnya dalam kitab arbain an nawawiyah. Bahkan dalam muqodimahnya tersebut imam nawawi rah menyatakan bahwa semua ulama telah sepakat membolehkan pengamalan hadits dhaif dalam keutamaan amal-amal..

    Ada sebuah kitab dimana imam bukhari mengumpulkan dalam kitab tersebut hadits-hadits tentang targhib wa tr tarhib, adab dan fadhail. Kitab itu bernama Al Adab Al Mufrad. Pernah tidak mbaca adab mufrad? tidak hanya periwayatan hadits di situ, tapi Imam bukhari Berhujah dengan hadits itu, yaitu dengan menjelaskan bab -bab mustahab amalan- amalan tertentu, lalu beliau sebutkan hadits-hadits yang sesuai untuk dijadikah hujah, sesuai bab itu, dan haditsnya ada yang sahih ada yang dhaif.

    Dalam kitab itu bercampuran antara hadits shohih, hasan dan dhoif. Al Albani sendiri telah “memecah” kitab ini menjadi shohih adab al mufrad dan dhoif adab al mufrad, sebagaimana yang ia lakukan terhadap kitab-kitab hadist yang lain, seperti riyadh as salihin (imam nawawi), kalim thayib (ibnu Taimiyah) juga tarhib wa targhib (hafidz al mundziri, guru hafidz dimyathi yang merupakan guru dari imam dzahabi), mereka itu juga membolehkan hadits dhoif dalam targhib dan adab.

    Ok, supaya lebih yakin kita lihat takhrij adab almufrad milik imam bukhari.

    Atsar ke 12, juga hadits ke 40, 56, 64, 80, 84 dalam sanandnya ada Abdullah bin Shalih Al Juhani yang dhoif. Atsar 14, 45 terdapat Abdurrahman bin Shabih yang dhoif. Atsar 23 terdapat Ali bin Al usain Waqid Al Maruzi, dhoifl hadits. Hadits 30 terdapat Al Hasan bin Bishri Al Hamdani dan Hakam bin Malik, kedua-duanta majruh.
    Hadits 43 terdapat Muhammad bin Fulan bin Thalhah, majhul. matruk, dhoif. Atsar 45 ada ubaidillah bin mauhab, Ahmad mengatakan la yu’raf (tidak dikatahui). Atsar 51 ada Abu Sa’ad Sa’id bin Matzaban Al Baqqal Al A’war, dhoif. Hadits 61 ada Hadzrad bin Utsman Abu Al Khitab As sa’di, dhoif. Hadits 63 ada Sulaiman bin Adam, dhoif, tidak tsiqah, matruk dan kadzab. Hadits 65 ada Muhamamd bin Abdul Jabar, majhul. Atsar 94 Al Washafi Ubaidillah Al Walid, dhoif. Hadits 111 ada Laits bin Abi Sulaim Al Qursyi Abu Bakar, dhoif. Hadits 112ada Abdullah bin Mushawir, majhul. Hadits 120 ada Abdullah bin Ziyad bin An’um Al Afriqi, ada yang mentsiqahkan dan ada yang mendhoifkan. Hadits 125 ada Abu Umar Al Manbahi An Nakha’i, majhul. Hadits 137 ada Yahya bin Sulaiman, mungkarul hadits.

    Ini berdasarkan kitab Fadhlullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Am Mufrad, oleh Al Muhadits Fadhlullah Haidar Al Abadi Al Hindi.

    Dengan demikian maka sudah jelas bahwa Imam Bukhari memakai hadits dhoif dalam fadhoil A’mal, targhib wa tarhib serta adab. Karena beliau mustahil tidak bisa bedakan shahih dan dhoif. Barang siapa mengatakan bahwa Imam Bukhari menolak hadits dhoif mutlak, maka hal itu bertentangan dengan fakta.

    Masalah bukhari ini dibahas cukup banyak dalam kitab musthalah Dhafar Al Amani, Imam Laknawi.

    Ibnu Hajar juga menilai bahwa bukhari tasahul terhadap periwayatan hadits dalam fadhoil, walau dalam shahih beliau. Dalam Hadyu As Sari beliau ketika menyebutkan perowi At Thufawi yang dihukumi Abu Zur’ah sebagai mungkarul hadits, ibnu hajar menyebutkan ada tiga hadits dalam shohih bukhari yang terdapat perawi itu, salah satunya adalah “kun fi addunya ka’anaka ghorib”,di hadits ini At Thufawi sendirian, hingga ibnu hajar mengatakan,”sepertinya bukhari tidak memperketat periwayatan hadits ini, karena ia termasuk hadits targhib wa tarhib.

    Memakai hadits dhoif bukan dusta atas nama Rasulullah, baru dikatakan dusta kalau itu maudhu’. Ibnu Al Madini melarang penyamaan antara hadits dhoif dan maudhu’, karena, dhoif masih ada kemungkinan sbda rasulullah. Ini dinukil dalam At Ta’rif.

    Penguatan dibutuhkan untuk menguatkan, Hadits shahih tidak perlu penguatan karena sudah kuat dengan sendirinya, apalagi dengan hadits dhoif. Yang ada justru kebaliknya, hadits dhoif dikuatkan oleh hadits shahih, hingga derajatnya terangkat.

    Ok, supaya lebih mudah, ana nukilkan salah satu contoh dalam adab mufrad yang “dipecah” al albani.
    Imam bukhari menulis: 10. Bab wujub Shilah Ar Rahim (Bab, kewajiban silaturrahim). Dari Kulaib bin Manfa’ah ia berkata……Al Albani mengatakan :”Dhoif”.

    Lihat, di judul Bukhari mengatakan wajibnya silaturrahim, lalu nyantumkan hadits. Kalau memang ga boleh dijadikan hujah, kenapa bukhari mengatakan wajib?
    Dan Bukhari juga tidak menjelaskan hadits ini dhoif. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan Suyuthi, yaitu dengan tanpa menjelaskan kedhoifannya (tadrib rowi). Kalau Bukhari menyeru untuk meninggalkan hadits-hadits dhoif mutlak. Kenapa bisa begini??? cara Imam bukhari ini sama dengan Imam Ahamd dan Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhud beliau berdua.
    Dan Al Albani tidak mentolelir sama sekali seperti ini, makanya “memecah” jadi dua.Yang jadi tanda tanya, bagaimana al albani mengaku ikut madzhab bukhari?

    Untuk bab ini Bukhari berhujjah satu amalan dengan hadits shahih dan dhoif, nah cara ini juga tidak disetujui mereka yang mengaku-ngaku ikut madzhab bukhari, kata mereka:”Kalau ada yang shahih, mengapa pakai dhoif?” Makanya, Adab Mufrad perlu “dipecah” menurut mereka.

    Tapi di Bab:La tanzilu arrahmah ala qoum qathi’u arrahim, Bukhari hanya menampilkan satu hadits dhoif. Makanya Bab ini tidak ditemukan dalam Shahih Adab Mufrad Al Albani.

    Ok, ana juga tunjukkkan bahwa para muhadits awal membolehkan amal dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib.

    Hafidz Ibnu Al Arabi dalam Al ‘Aridhah, syarh Tirmidzi mengatakan:” Abu ‘Isa telah meriwayatkan sebuah hadits majhul “In Syi’ta Syamithu, wa In syi’ta fa la”. Walau hadits itu majhul, tapi mustahab untuk diamalkan, karena menyeru kepada hal yang baik dan berbaik kepada teman serta berkasih sayang kepadanya”. Ini sekaligus sanggahan terhadap Al Qasimi yang mengatakan bahwa Abu Bakar bin Al Arabi menolak hadits dhoif dalam fadhail amal

    Syaikh Sakhawi mengatakan dalam Fathu Al Mughits, bab man tuqbalu riwayatuhu wa man turaddu, bahwa kebolehan amala dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib telah dinukil dari lebih dari satu imam, seperti Ibnu Muhdi, Ahamd bin Hanbal, Ibnu Ma’in (Ini sekaligus menggugurkan mereka yang mengatakan bahwa Ibnu Ma’in melarang amal dengan hadits dhoif mutlak), Ibnu Mubarak, As Sufyanaini (dua sufyan, sufyan bin uyainah dan sufyan atsauri).

    Dalam kitab Tadrib Rowi, syarh Takrib Nawawi punya hafidz Suyuthi: Boleh menurut ahlul hadits (para pengklaim madzhab ahlul hadits) dan lainnya, tasahul (bermudah-mudah) dalam sanad-sanad dhoif dan meriwayatkannya, selain maudhu’ dan mengamalkannya tanpa menjelaskan kedhoifannya, selain sifat-sifat Allah. Dan itu adalah hal-hal yang berkenaan dengan kisah-kisah, fadail, dan nasehat serta lainnya, selain hukum dan aqa’id.

    Tidak hanya Tadrib Ar Rawi yang menjelaskan, Hafidz Al Iraqi (guru Ibnu Hajar) pun menjelaskan dalam Alfiyah Hadits. Wa sahalu fi ghiri maudhu’ rawu (dan mereka mempermudah periwayatan selain maudhu’) Min ghoiri tabyini li dha’fihi wa ra’u (tanpa penjelasan terhadap dhoifnya…)

    Begitu juga Hafidz Ibnu sholah dalam almuqodimah: “min ghoiri ihtimam bayan dho’fiha (tanpa memperhatikan penjelasan dhoifnya)

    Pensyarah Alfiyah seperti Hafids Sakhawi pun bersepakat dengan pendapat al Iraqi, itu bisa dilihat di Fathul Mughuts Syarh Alfiatul Hadits..

    Ibnu Taimiyah juga membolehkan amal dengan hadits dhoif selain Aqidah dan Hukum. Sebagai bukti, lihat buku beliau Al Kalim Atthayiib. yang telah dirubah oleh Al Albani menjadi Shahih Kalim Atthayib.

    Mereka yang melarang hadits dhoif mutlak terkadang juga berargumen dengan dengan Al Fawaid Al Majmu’ah, dimana Syaukani melarang pengamalan hadits dhoif. Tapi itu gugur dengan perkataan dan prektek Imam Syaukani. Dalam Nail Al Authar, ketika bicara tentang disyariatkannya banyak shalat antara magrib dan isya, beliau mengatakan: Dan hadits-hadits ini, walau kebanyakan dhoif, akan tetapi bisa menguat jika digabungkan. Apalagi dalam masalah fadhail amal.

    Dalam prakteknya, beliau juga punya Tuhfatu AdDzakirin, yang mirip Al Adzkar An Nawawi. Dimana didalamnya banyak juga hadits dhoif.

    Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkii dalam fathul mubin syarh al arbain juga jelas-jelas mengatakan bahwa amal dengan hadits dhoif dalam fadhail tidak termasuk perkarah bid’ah

    Salah satu dari syarat amal hadhits dhoif adalah mundarijan tahta ashli ‘am (sejalan dengan dalil umum. Imam Laknawi menerangkan maksud kalimat Ibnu Hajar yang dinukil oleh Sakhawi ini. Beliau mengatakan dalam Dhafar Al Amani: YAitu kandungannya termasuk hal-hal yang memiliki asal dalam keumuman syari’at, dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidan diniyah.

    Ada lagi syarat pengamalan ahdits dhoif, yaitu dhoifnya tidak parah. So kalau dhoif parah tidak dipakai. Syarat ini juga disampaikan oleh Ibnu Hajar

    JADI, JANGANLAH MUDAH MAIN KATA INI SESAT..INI SESAT..BERHATI-HATILAH..JANGAN-JANGAN TUDINGAN ITU MEMBALIK PADA DIRINYA SENDIRI…

  20. ebenarnya sudah lama ada pentakhrij kitab fadhoil amal maulana zakariya rah mungkin sekitar tahun 2004 atau 2005an..yaitu almuhaddits lathifurrahman qosimi rah..Kitabnya ada kok di arab saudi, bahkan diperpustakan king fahd national library..ini linknya http://www.kfnl.gov.sa
    تحقيق المقال
    في تخريج احاديث
    فضاءل الاعمال
    للمحدث لطيف الرحمن القاسمي

    tahqiq maqol fii takhrij ahadits fadhoil amal
    ini sedikit informasinya:
    This book has an introduction in which the author proves that the stories mentioned in Fazail e Amaal which seem extraordinary are also collected by Hanaabilah scholars the likes of Ibnul Jawzi, 0, and many others, and the “Tabaqaatul Hanabialh” (a book about the biographies of Hambali scholars) is full of such stories.

    He then speaks on the status of weak narrations. He also mentions the many weak narrations that were collected by the likes of Bukhari, Muslim, in their books other than the Sahihain. He also mentions the weak narrations collected by Zahabi, Nawawi, Ibn Hajr, Nawaab Siddique Bopali Salafi, and many other great Muhadditheen from the past. He pointed out some Fabricated Ahadith that Zahabi and some others mentioned.

    All to say if you want to reject Fazail e Aamaal then reject the books of Ibnul Qayyim, Ibn Taymiyah, Zahabi, Bukhari and Muslim and many other Muhadditheen, becuse they also collected weak narrations and some even collected fabricated ones.

    ini link informasinya: http://www.sunniforum.com/forum/showthread.php?p=250707

    Kemudian bagaimana mengenai penggunaan hadits dhoif?? saya kopikan aja suatu hasil diskusi:

    Didalam kitab al adzkar imam nawawi rah (bab perintah dalam mengkhlaskan dan memperbagus niat di dalam keselruhan amal baik yang nampak maupun tersembunyi) disebutkan oleh beliau rah, bahwa para ulama, muhadditsin, fuqoha, atau selainnya memperbolehkan penggunanan hadits dhoif dalam fadhilah/keutamaan2 amal, targhib wa tarhib.

    Beliau juga mengatakan hal tersebut dalam muqodimahnya dalam kitab arbain an nawawiyah. Bahkan dalam muqodimahnya tersebut imam nawawi rah menyatakan bahwa semua ulama telah sepakat membolehkan pengamalan hadits dhaif dalam keutamaan amal-amal..

    Ada sebuah kitab dimana imam bukhari mengumpulkan dalam kitab tersebut hadits-hadits tentang targhib wa tr tarhib, adab dan fadhail. Kitab itu bernama Al Adab Al Mufrad. Pernah tidak mbaca adab mufrad? tidak hanya periwayatan hadits di situ, tapi Imam bukhari Berhujah dengan hadits itu, yaitu dengan menjelaskan bab -bab mustahab amalan- amalan tertentu, lalu beliau sebutkan hadits-hadits yang sesuai untuk dijadikah hujah, sesuai bab itu, dan haditsnya ada yang sahih ada yang dhaif.

    Dalam kitab itu bercampuran antara hadits shohih, hasan dan dhoif. Al Albani sendiri telah “memecah” kitab ini menjadi shohih adab al mufrad dan dhoif adab al mufrad, sebagaimana yang ia lakukan terhadap kitab-kitab hadist yang lain, seperti riyadh as salihin (imam nawawi), kalim thayib (ibnu Taimiyah) juga tarhib wa targhib (hafidz al mundziri, guru hafidz dimyathi yang merupakan guru dari imam dzahabi), mereka itu juga membolehkan hadits dhoif dalam targhib dan adab.

    Ok, supaya lebih yakin kita lihat takhrij adab almufrad milik imam bukhari.

    Atsar ke 12, juga hadits ke 40, 56, 64, 80, 84 dalam sanandnya ada Abdullah bin Shalih Al Juhani yang dhoif. Atsar 14, 45 terdapat Abdurrahman bin Shabih yang dhoif. Atsar 23 terdapat Ali bin Al usain Waqid Al Maruzi, dhoifl hadits. Hadits 30 terdapat Al Hasan bin Bishri Al Hamdani dan Hakam bin Malik, kedua-duanta majruh.
    Hadits 43 terdapat Muhammad bin Fulan bin Thalhah, majhul. matruk, dhoif. Atsar 45 ada ubaidillah bin mauhab, Ahmad mengatakan la yu’raf (tidak dikatahui). Atsar 51 ada Abu Sa’ad Sa’id bin Matzaban Al Baqqal Al A’war, dhoif. Hadits 61 ada Hadzrad bin Utsman Abu Al Khitab As sa’di, dhoif. Hadits 63 ada Sulaiman bin Adam, dhoif, tidak tsiqah, matruk dan kadzab. Hadits 65 ada Muhamamd bin Abdul Jabar, majhul. Atsar 94 Al Washafi Ubaidillah Al Walid, dhoif. Hadits 111 ada Laits bin Abi Sulaim Al Qursyi Abu Bakar, dhoif. Hadits 112ada Abdullah bin Mushawir, majhul. Hadits 120 ada Abdullah bin Ziyad bin An’um Al Afriqi, ada yang mentsiqahkan dan ada yang mendhoifkan. Hadits 125 ada Abu Umar Al Manbahi An Nakha’i, majhul. Hadits 137 ada Yahya bin Sulaiman, mungkarul hadits.

    Ini berdasarkan kitab Fadhlullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Am Mufrad, oleh Al Muhadits Fadhlullah Haidar Al Abadi Al Hindi.

    Dengan demikian maka sudah jelas bahwa Imam Bukhari memakai hadits dhoif dalam fadhoil A’mal, targhib wa tarhib serta adab. Karena beliau mustahil tidak bisa bedakan shahih dan dhoif. Barang siapa mengatakan bahwa Imam Bukhari menolak hadits dhoif mutlak, maka hal itu bertentangan dengan fakta.

    Masalah bukhari ini dibahas cukup banyak dalam kitab musthalah Dhafar Al Amani, Imam Laknawi.

    Ibnu Hajar juga menilai bahwa bukhari tasahul terhadap periwayatan hadits dalam fadhoil, walau dalam shahih beliau. Dalam Hadyu As Sari beliau ketika menyebutkan perowi At Thufawi yang dihukumi Abu Zur’ah sebagai mungkarul hadits, ibnu hajar menyebutkan ada tiga hadits dalam shohih bukhari yang terdapat perawi itu, salah satunya adalah “kun fi addunya ka’anaka ghorib”,di hadits ini At Thufawi sendirian, hingga ibnu hajar mengatakan,”sepertinya bukhari tidak memperketat periwayatan hadits ini, karena ia termasuk hadits targhib wa tarhib.

    Memakai hadits dhoif bukan dusta atas nama Rasulullah, baru dikatakan dusta kalau itu maudhu’. Ibnu Al Madini melarang penyamaan antara hadits dhoif dan maudhu’, karena, dhoif masih ada kemungkinan sbda rasulullah. Ini dinukil dalam At Ta’rif.

    Penguatan dibutuhkan untuk menguatkan, Hadits shahih tidak perlu penguatan karena sudah kuat dengan sendirinya, apalagi dengan hadits dhoif. Yang ada justru kebaliknya, hadits dhoif dikuatkan oleh hadits shahih, hingga derajatnya terangkat.

    Ok, supaya lebih mudah, ana nukilkan salah satu contoh dalam adab mufrad yang “dipecah” al albani.
    Imam bukhari menulis: 10. Bab wujub Shilah Ar Rahim (Bab, kewajiban silaturrahim). Dari Kulaib bin Manfa’ah ia berkata……Al Albani mengatakan :”Dhoif”.

    Lihat, di judul Bukhari mengatakan wajibnya silaturrahim, lalu nyantumkan hadits. Kalau memang ga boleh dijadikan hujah, kenapa bukhari mengatakan wajib?
    Dan Bukhari juga tidak menjelaskan hadits ini dhoif. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan Suyuthi, yaitu dengan tanpa menjelaskan kedhoifannya (tadrib rowi). Kalau Bukhari menyeru untuk meninggalkan hadits-hadits dhoif mutlak. Kenapa bisa begini??? cara Imam bukhari ini sama dengan Imam Ahamd dan Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhud beliau berdua.
    Dan Al Albani tidak mentolelir sama sekali seperti ini, makanya “memecah” jadi dua.Yang jadi tanda tanya, bagaimana al albani mengaku ikut madzhab bukhari?

    Untuk bab ini Bukhari berhujjah satu amalan dengan hadits shahih dan dhoif, nah cara ini juga tidak disetujui mereka yang mengaku-ngaku ikut madzhab bukhari, kata mereka:”Kalau ada yang shahih, mengapa pakai dhoif?” Makanya, Adab Mufrad perlu “dipecah” menurut mereka.

    Tapi di Bab:La tanzilu arrahmah ala qoum qathi’u arrahim, Bukhari hanya menampilkan satu hadits dhoif. Makanya Bab ini tidak ditemukan dalam Shahih Adab Mufrad Al Albani.

    Ok, ana juga tunjukkkan bahwa para muhadits awal membolehkan amal dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib.

    Hafidz Ibnu Al Arabi dalam Al ‘Aridhah, syarh Tirmidzi mengatakan:” Abu ‘Isa telah meriwayatkan sebuah hadits majhul “In Syi’ta Syamithu, wa In syi’ta fa la”. Walau hadits itu majhul, tapi mustahab untuk diamalkan, karena menyeru kepada hal yang baik dan berbaik kepada teman serta berkasih sayang kepadanya”. Ini sekaligus sanggahan terhadap Al Qasimi yang mengatakan bahwa Abu Bakar bin Al Arabi menolak hadits dhoif dalam fadhail amal

    Syaikh Sakhawi mengatakan dalam Fathu Al Mughits, bab man tuqbalu riwayatuhu wa man turaddu, bahwa kebolehan amala dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib telah dinukil dari lebih dari satu imam, seperti Ibnu Muhdi, Ahamd bin Hanbal, Ibnu Ma’in (Ini sekaligus menggugurkan mereka yang mengatakan bahwa Ibnu Ma’in melarang amal dengan hadits dhoif mutlak), Ibnu Mubarak, As Sufyanaini (dua sufyan, sufyan bin uyainah dan sufyan atsauri).

    Dalam kitab Tadrib Rowi, syarh Takrib Nawawi punya hafidz Suyuthi: Boleh menurut ahlul hadits (para pengklaim madzhab ahlul hadits) dan lainnya, tasahul (bermudah-mudah) dalam sanad-sanad dhoif dan meriwayatkannya, selain maudhu’ dan mengamalkannya tanpa menjelaskan kedhoifannya, selain sifat-sifat Allah. Dan itu adalah hal-hal yang berkenaan dengan kisah-kisah, fadail, dan nasehat serta lainnya, selain hukum dan aqa’id.

    Tidak hanya Tadrib Ar Rawi yang menjelaskan, Hafidz Al Iraqi (guru Ibnu Hajar) pun menjelaskan dalam Alfiyah Hadits. Wa sahalu fi ghiri maudhu’ rawu (dan mereka mempermudah periwayatan selain maudhu’) Min ghoiri tabyini li dha’fihi wa ra’u (tanpa penjelasan terhadap dhoifnya…)

    Begitu juga Hafidz Ibnu sholah dalam almuqodimah: “min ghoiri ihtimam bayan dho’fiha (tanpa memperhatikan penjelasan dhoifnya)

    Pensyarah Alfiyah seperti Hafids Sakhawi pun bersepakat dengan pendapat al Iraqi, itu bisa dilihat di Fathul Mughuts Syarh Alfiatul Hadits..

    Ibnu Taimiyah juga membolehkan amal dengan hadits dhoif selain Aqidah dan Hukum. Sebagai bukti, lihat buku beliau Al Kalim Atthayiib. yang telah dirubah oleh Al Albani menjadi Shahih Kalim Atthayib.

    Mereka yang melarang hadits dhoif mutlak terkadang juga berargumen dengan dengan Al Fawaid Al Majmu’ah, dimana Syaukani melarang pengamalan hadits dhoif. Tapi itu gugur dengan perkataan dan prektek Imam Syaukani. Dalam Nail Al Authar, ketika bicara tentang disyariatkannya banyak shalat antara magrib dan isya, beliau mengatakan: Dan hadits-hadits ini, walau kebanyakan dhoif, akan tetapi bisa menguat jika digabungkan. Apalagi dalam masalah fadhail amal.

    Dalam prakteknya, beliau juga punya Tuhfatu AdDzakirin, yang mirip Al Adzkar An Nawawi. Dimana didalamnya banyak juga hadits dhoif.

    Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkii dalam fathul mubin syarh al arbain juga jelas-jelas mengatakan bahwa amal dengan hadits dhoif dalam fadhail tidak termasuk perkarah bid’ah

    Salah satu dari syarat amal hadhits dhoif adalah mundarijan tahta ashli ‘am (sejalan dengan dalil umum. Imam Laknawi menerangkan maksud kalimat Ibnu Hajar yang dinukil oleh Sakhawi ini. Beliau mengatakan dalam Dhafar Al Amani: YAitu kandungannya termasuk hal-hal yang memiliki asal dalam keumuman syari’at, dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidan diniyah.

    Ada lagi syarat pengamalan ahdits dhoif, yaitu dhoifnya tidak parah. So kalau dhoif parah tidak dipakai. Syarat ini juga disampaikan oleh Ibnu Hajar

    JADI, JANGANLAH MUDAH MAIN KATA INI SESAT..INI SESAT..BERHATI-HATILAH..JANGAN-JANGAN TUDINGAN ITU MEMBALIK PADA DIRINYA SENDIRI…

  21. abu abdat

    Imam Nawawi rahimahullah kita kenal salah satu imam yg membolehkan menggunaan hadits dhaif, namun dgn beberapa syarat. Hanya saja kesalahannya adlh kalo menganggap bhw hal tersebut adalah kesepakatan ulama. kenyataannya tidak semua ulama membolehkan penggunaan hadits dhaif, bahkan ada ulama yg sama sekali tidak mau memakai hadits dhaif…
    Kenapa kita-kita yg juga dhaif ini mempermasalahkan penggunaan hadits dhaif sementara kita sdh tercukupi dengan adanya hadits-hadits shahih. Kemmudian apa kalo imam Nawawi membolehkan penggunaan hadits dhaif maka kita juga serta merta memakainya???. Ingat….imama Nawawi berijtihad demikian sehabis-habis ilmu beliau, dan karena kesalahannya maka Allah mengganjarnya dengan 1 pahala, kerena beliau seorang mujtahid… Sementara kita, jangan harap pahala akhi, justru dosa yg kita dapat dengan memakai hadits-hadits dhaif.
    Kemudian coba kita bertanya ke hati kecil kita, apakah kita yakin bahwa hadits dhaif itu betul-betul dari Rasulullah atau bukan?????.

  22. fachry

    dari pada kita terus berbeda pendapat, lebih baik kita perbaiki sholat kita, sudahkah hati kita tergetar bila mendengar azan berkumandang. Sudahkah kita menitik air mata ketika kita mengingat Allah SWT? Allah SWT akan memberi kita kepemahaman akan tujuan hidup kita.

  23. Addinul fahmi

    Berusahalah, dan berdo’alah.. Allah lebih mengetahui..

  24. Yahya

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
    “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka kehebatan Islam akan tercabut darinya; dan apabila umatku meninggalkan amar makruf nahi mungkar, maka di haramkan (atas mereka) keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling menghina satu sama lain,maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah. (Hr. Hakim dan Tarmizi)

    “Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya waktu pagi dan waktu petang, sedangkan mereka mengharapkan keridhaannya”(Surat Al-An’am 52)

    kerja Tabligh :
    1. untuk menegakkan kalimah Allah hingga menjadi tinggi
    2. Meneruskan kerja kenabian “amar makruf nahi mungkar” sehingga mendapat keberkahan wahyu
    3. Tidak suka menghujat umat lain
    4. Barang siapa mengusir/menghasut, maka berhadapan langsung dengan Allah

  25. toto

    Ass wr wb :
    Tugas dakwah sebagai warisan kerja nabi, wujudnya agama dalam kehidupan sehari kami kira lebih penting maslalah perbedaan pendapat sejak dulu sudah ada kenapa kita warisi terus menerus sampai memecah persaudaraan antar muslim. masih banyak saudara kita yang belum melaksanakan sholat, korupsi dianggap rejeki dll…. usaha itu kami kira lebih mendesak.
    Wass wr. wb.

  26. Yoga

    Di beberapa kampung di Indonesia aliran wahabi salafi sudah diharamkan karena kajian-kajiannya membuat orang malas ke masjid, sementara banyak orang berusaha untuk mengajak orang ke Masjid,karena orang tsb dihujat di katakan bid’ah dsb (itu yang dagung-agungkan dan dibesar-besarkan wahabiisme/salafi). Dan ciri khas dakwahnya salafi adalah menguasai masjid utk golongannya, orang-orang yg berbeda pendapat dilarang sholat di mesjid yg sudah dikuasai dan itu banyak terjadi. Apalagi para pemimpin di tubuh Salafi saling cakar dlm berdakwah sehingga ada -/+14 aliran/organisasi dalam tubuh salafi wahabiisme.Rasulullah SAW mengajarkan jangan sampai berpecah belah dalam dakwah harus satu.

    Dalam berdakwah para salafiyun wahabi menggunakan selebaran, fotocopyan, radio, majalah dsb adalah tindakan bid’ah dalam berdakwah.

    Para Nabi dan Sahabat r.hum dulu apakah memakai sarana/media itu ?. Apakah Rasulullah Muhammad SAW bila meminta kepada Allah SWT media-media spt itu untuk berdakwah tidak dikasih sama Allah?. Tapi Rasulullah SAW tidak pernah memakai media/sarana tsb dlm dakwah.Jadi kaum yang mebid’ah bid’ahkan ternyata mereka pelaku bid’ah itu sendiri . Dan tahukan antum sekalian sifat siapa yang merasa paling benar dan paling tinggi sendiri ?

    Yang paling benar dan paling tinggi adalah Allah STW

    WaAllahu ‘alam bishawab

  27. agus

    Yang paling penting adalah : Bagaimana umat manusia hanya menyembah kepada ALLAH.
    Tinggalkan debat yang hanya memecah persatuan umat Islam.
    Kebenaran yang Hakiki Hanyalah milik ALLAH. SWT

  28. kritik itu ada manfaat;
    1.untuk introfeksi,cegah ujub,cegah pikiran benar mutlak/benar sendiri.
    2.memperluas wawasan.
    3,menemukan kebenaran hakiki.
    Kl anti kritik bisa terjerumus taklik buta.bisa jg otoriter.
    Gue ni….tak mau terima bulat2 pendapat siapun.

  29. saya ingin anak saya jadi hafidz quran, ahli ilmu, tidak seperti saya yang dhoif ahli maksiat. saya mengenal agama yang sempurna dari yang antum-antum sebut jamaah tabligh/jamaah kompor. mereka hebat, tinggalkan anak istri sesaat untuk mengajak orang taat kepada Allah, berpa juta ahli maksiat menjadi taat kepada Allah. saya merasa kerdil ketika berada duduk bersama mereka. saya meninggalkan anak istri untuk bermaksiat kepada Allah, dengan alibi mencari nafkah. tanpa asbab jamaah itu mungkin saat ini dalam kemaksiatan selamanya. saya ikut jamaah itu belumlah berdakwah, tapi semata-mata ingin memperbaiki diri. saya ingin sekali istikomah bersama mereka, duduk bersama orang salih, berkasih sayang semata karena Allahm, tidak pernah membicarakan keburukan orang lain, tidak berbicara politik, tidak mengungkit masalah khilafiah. saya masih ingin dan terus keluar 3,40 harid dan 4 bulan mengorbankan harta dan jiwa. jika antum melihat jamaah itu buruk itu bukan jamaahnya yang buruk melainkan saya yang masih buruk.

  30. Assalamalaikum wr wbrkt

    Semakin banyak korban kita kepada agama allah maka smakin banyak pula kepahaman kita terhadap agama allah
    Klau sdikit pengorbanan kita terhadap agama allah maka sedikit juga kepahaman yg allah beri

    Banyak korban banyak paham
    Tidak mau berkorban salah paham…..

    Maafkan saudaramu yg belum pernah berkorban di jalan allah….

    Mari sama sama kita mencari hidayah lewat ke ikhlasan kita berkorban di jalan allah

  31. It’s very easy to find out any topic on web as compared to textbooks, as I found this piece of writing at this website.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 60 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: