KITAB-KITAB RUJUKAN KITAB FADHILAH AMAL

  1. Ahkaamul Qur’an, Abu Bakar Ahmad bin Ali Razi Al Jashshosh
  2. Aini Syarah Bukhari, Badruddin Abu Muhammad bin Ahmad ‘Aini
  3. Al Kamil, Izuddin Ali bin Muhammad Ibnu Atsir Jazuri
  4. Al Qaulil Badi fis Shalati ‘Alal Habibi, Syamsuddin Muhammad As Sakhowi
  5. Az Zawajir, Imam Ibnu Hajar Al Haitami
  6. Al Ishobah, Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i
  7. Al Muwaththa’, Abu Abdullah Maliki bin Anas bin Maliki
  8. Asyhur Masyahir Islam, Rafiq Baki Al Azhim
  9. Asy Syifa, Qadhi ‘Iyadh bin Musa Al Husaini

Read the rest of this entry »

Abdul Wahid bin Zaid rah. a. salah seorang syaikh terkenal di kalangan Chistiyah berkata, “Pada suatu ketika kami sedang melakukan perjalanan dengan mengendarai kapal. Badai telah membawa kami ke sebuah pulau. Di sana kami melihat seorang laki-laki yang sedang menyembah berhala. Kami bertanya kepadanya , “Kamu menyembah siapa?” Ia menunjuk ke arah patung. Kami berkata kepadanya, “Sesembahanmu itu buatan kamu sendiri, sedangkan sesembahan kami dapat membuat segala sesuatu. Benda yang dibuat oleh tanganmu sendiri tidaklah patut untuk disembah.” Ia bertanya, “Lalu siapakah yang kalian sembah?” Kami menjawab, “Dzat Yang Mahasuci yang Arasy-Nya berada di atas langit, kekuasaan-Nya berada di bumi,  kebesaran dan keagungan-Nya paling tinggi.” Ia bertanya, “Bagaimana kalian bisa tahu Dzat yang Mahasuci itu?” Kami menjawab, “Ia mengutus seorang rasul kepada kami, dia sangat baik kepada kami. Rasul itulah yang memberitahu kepada kami semuanya ini.” Ia bertanya, “Di manakah rasul itu?” Kami menjawab, “Setelah menyampaikan risalah dan telah memenuhi haknya, dia dipanggil oleh Malik untuk menerima balasan atas tugasnya.” Ia bertanya, “Apakah Rasul itu meninggalkan tanda dan bukti kepada kalian?” Kami menjawab, “Ya, dia telah meninggalkan untuk kami firman Allah, yakni AlQuranul Kariim.” Orang itu berkata, “Tunjukkanlah kepadaku kitab itu.” Kami mengambil Al Quran kemudian meletakkannya didepannya. Orang itu berkata, “Aku tidak dapat membaca. Bacakanlah sedikit bagian darinya untukku.” Ketika kami membacakan sebuah surat, ia mendengarkannya dengan berlinangan air mata. Kami membaca surat tersebut hingga ayat terakhir, dan orang itu berkata, “Merupakan kewajiban kita kepada-Nya yang telah mewahyukan kitab ini, hendaknya kita tidak pernah mengabaikan perintah-perintah-Nya.”

Read the rest of this entry »

Allah terima suatu amalan jika hatinya ikut sehingga Allah akan memberinya taufiq. Kerja dakwah ini adalah usaha untuk menjadi orang kecil (‘abdi) bukan untuk menjadi orang besar. Orang yang buat kerja dakwah dengan niat untuk mengishlahkan diri sendiri maka ia akan menjadi shaleh dan orang yang shaleh akan menjadi asbab untuk orang lain menjadi shaleh juga.

Read the rest of this entry »

Syarat Khuruj :

  1. Khuruj dengan diri sendiri, dengan penuh ridha, ikhlash tanpa dipaksa.
  2. Khuruj dengan harta yang halal.
  3. Khuruj dengan waktu yang halal.
  4. Khuruj dengan merasa butuh kepada Allah.

Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi lahir pada 25 Jumada I, 1335 H, sesuai dengan 20 Maret 1917 di Kandahla di India. Keluarganya terkenal dengan keilmuan dan kesetiaan total dalam perjuangan Islam.

Read the rest of this entry »

Point – Point Pesan Masyaikh di Ijtima’ Tonggi
29/01 s/d 01/02 2009

1. Maulana Syamim

Amalan haji adalah ijtima umat islam terbesar dan kewajiban hanya sekali saja. Jika berhaji dengan betul, akan jadi wali Allah. Jika niat berhaji tak betul, haji tanpa kesan, akan dilempar balik seperti kain kotor yang dilemparkan. Begitupun ijtima, jika datang dengan niat baik, maka satu ijtima cukup membuat cinta kepada Allah SWT. Satu ijtima yang betul cukup bagi Allah SWT untuk membuat keputusan memberi hidayah untuk seluruh alam.
Ijitima bukan untuk menghimpun manusia sebanyak-banyaknya, tapi untuk mengumpulkan dua usaha, sebelum ijtima (ruh ijtima), setelah ijtima (perhiasan ijtima).

Usaha sebelum ijtima adalah menjumpai setiap orang islam agar hatinya berpaling dari selain Allah kepada Allah SWT sehingga ada kemanisan untuk ta’at. Dikarenakan adanya pengorbanan orang-orang sebelum ijtima, maka yang hadir di ijtima mendapat hidayah, dan hidayah juga akan tersebar ke seluruh alam. Usaha dalam ijtima adalah agar setiap orang terlibat dalam amal ijtimai dan infirodi. Semakin terjaga amalan, maka semakin cepat turunnya hidayah. Hidayah ada 2 tahap : untuk diri sendiri dan asbab hidayah untuk orang lain. Untuk menjadi asbab hidayah maka niatkan untuk bergaul dengan semua orang dari semua negara, kita merasa sebagai satu umat, hilangkan ashabiyah. Ashabiyah ini sangat dibenci Allah dan menyebabkan tertolaknya amal seseorang.

Untuk menghilangkan ashobiyah : Allah SWT perintahkan ibadah haji, shalat dan shaum. Dalam haji diperintahkan untuk menyebarkan salam (untuk menghilangkan sifat sombong, merasa sebagai penanggung jawab. Sehingga Nabi SAW selalu mendahului dalam memberi salam, tidak pernah didahului oleh sahabat), bersikap lemah lembut, dan suka memberi makanan (jangan menunggu untuk diikrom, tapi beri ikrom untuk satukan hati).

Di negara-negara anda akan diadakan ijtima dan jika anda bersungguh-sungguh usaha atas ijtima ini, maka ijtima anda akan menjadi asbab hidayah ke seluruh alam. Tanggal ijtima bukan awal ijtima, tapi itu tanggal berakhirnya ijtima. Ijtima bermula sejak tanggal ijtima ditetapkan.

Read the rest of this entry »

Ada beberapa penyebabnya seseorang tidak lagi melakukan tugas dakwah, antara lain :

  1. Terlalu Ekstrem atau berlebihan dalam menjalankan aturan Agama
  2. Melampaui Batas kewajaran dalam melakukan hal-hal yang mubah
  3. Memisahkan diri dari Jemaah
  4. Kurang mengingat kematian dan kehidupan akhirat
  5. Menyepelekan kewajiban harian
  6. Tubuhnya termasuki barang yang haram atau syubhat
  7. Mencukupkan diri dengan melakukan sebagian saja dari syariat agama
  8. Melalaikan kaidah sunatullah
  9. Mengabaikan kebutuhan jasmani
  10. Tidak siap menghadapi kendala dakwah
  11. Berteman dengan orang yang lemah semangatnya
  12. Tidak terprogramnya aktifitas yang dilakukan
  13. Berlarut-larut dalam maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil

Read the rest of this entry »

Dari Alqamah bin HArits ra, dia menceritakan, “Aku datang kepada Rasulullah saw dan aku adalah orang ketujuh di antara tujuh orang dari kaumku yang telah memeluk Islam. Lalu kami memberi salam kepada Rasulullah saw dan Beliau pun menjawab salam kami. Kemudian kami berbincang-bincang dengan Beliau  dan Beliau pun merasa takjub dengan pembicaraan kami, lalu Beliau bertanya, “Kalian ini siapa?” Kami menjawab, “Kami adalah orang yang beriman.” Beliau bertanya, “Setiap ucapan mempunyai hakikat (bukti), maka apakah hakikat keimanan kalian?”

Read the rest of this entry »

Dari Abdurrahman bin A’id ra, dia berkata, “Adalah Rasulullah saw apabila hendak mengirimkan pasukan, maka Beliau memberi nasehat, ‘Bersikap lembut dan sayanglah kepada orang-orang! Jangan menyerang mereka sebelum kalian BERDAKWAH kepada mereka, dan janganlah menghancurkan rumah-rumah mereka! Jangan biarkan satu orang penghuni rumah pun yang ada di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali kalian membawa mereka ke hadapanku dalam keadaan muslim (telah memeluk Islam), karena yang demikian itu lebih aku sukai daripada kalian datang padaku dengan membawa istri-istri dan anak-anak mereka setelah kalian membunuh suami-suami mereka!’ “. (HR. Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir dalam kitab Al Kanz jilid II halaman 294. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Syahin dan Al Baghawi seperti terdapat dalam kitab Al Ishaabah jilid III halaman 153, juga Tirmidzi dalam kitabnya jilid I halaman 195).

Read the rest of this entry »

Dari Abdullah bin Ja’far rhuma, dia menceritakan, “Ketika Abu Thalib wafat, maka Rasulullah saw pergi berdakwah ke Thaif dengan berjalan kaki untuk mengajak mereka ke dalam Islam. Tetapi mereka tidak mau menerima ajakan Nabi saw. Maka beliau meninggalkan mereka dan pergi ke bawah sebatang pohon rindang, lalu mengerjakan shalat dua rakaat. Setelah shalat beliau berdoa :

“Allahumma ilaika asykuu dho’fa quwwatii wa hawaanii ‘alannaas yaa arhamar raahimiin. Anta rabbul mustadh’afiin wa anta rabbii ila man takilunii ila ba’iidin yatajahhamunii am ila ‘aduwwin malaktahuu amrii in lam yakun(m) bika ghadhabun ‘alaiyya falaa ubalii walakin ‘aafiyatuka hiya ausa’u lii. A’uudzu binuuri wajhikal ladzii asyraqat lahudz dzulumaatu wa sholaha ‘alaihi amrud dunya wal ‘akhirah min an yanzila bii ghodhobuka au yahulla ‘alayya sakhothuka lakal ‘utba hatta tardhoo laa haula wa laa quwwata illa bika”.

Artinya :

“Wahai tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahiim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah padaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlidung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”

(HR. Thabrani. Menurut Al Haitsami dalam kitabnya jilid VI halaman 35, di dalam sanadnya ada seorang perawi yaitu Ibnu Ishaq, dia adalah mudallis tsiqat, tetapi para perawi lainnya adalah tsiqat).

 

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 77,080 hits

a

Quran Surat Al ‘Ashr :

"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat untuk berpegang teguh dalam kebenaran, dan berwasiat untuk berlaku sabar."

Page Rank Check