Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dan Thabrani dari Abu Hurairah ra, katanya: Kami berada bersama-sama dengan Rasulullahsaw tiba-tiba seorang lelaki bangun.

Mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah! Alangkah lemahnya lelaki itu.” Atau mereka berkata, “Alangkah lembeknya si fulan itu.”

Mendengar pernyataan itu, Rasulullah saw bersabda, “Kamu telah mengumpat saudaramu dan kamu telah memakan dagingnya.”

Dalam lafadz Thabrani dikatakan bahwa seorang lelaki berdiri dari majlis Rasulullah saw, lalu para sahabat yang hadir melihat kea rah lelaki itu yang dalam keadaan lemah sekali. Mereka pun berkata, “Alangkah lemahnya si fulan.”

Rasulullah saw pun bersabda, “Kalian telah mengumpatnya dan memakan daging saudara kalian.” (At Targhib wa At Tarhib)

Dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu’az Bin Jabal ra dengan makna riwayat lalu dengan sedikit tambahan: Mereka berkata, “Wahai Rasulullah saw, kami berkata yang benar dengan keadaannya.”

Rasulullah saw bersabda, “Sekiranya kamu telah mengatakan tentang yang tidak benar mengenainya, kamu telah melemparkan tuduhan terhadapnya.”

Dikeluarkan oleh Al Isbahani dengan isnad hasan dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa mereka telah berbicara mengenai seorang lelaki, “Ia tidak makan kecuali setelah diberi makanan oleh orang lain dan ia tidak akan bergerak ke suatu tempat kecuali setelah ia digerakkan.”

Maka Rasulullah saw bersabda, “Kamu telah mengumpatnya.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud ra katanya: Kami berada di samping Rasulullah saw ketika seorang lelaki tiba-tiba berdiri dan seorang lelaki lain mengata-ngatai lelaki itu. Maka Rasulullah saw bersabda kepada lelaki yang mengata-ngatai itu, “Bersihkan dirimu dan bertaubatlah.”

Tetapi lelaki itu berkata, “Untuk apa saya membersihkan diri saya.”

Jawab Rasulullah saw, “Sesungguhnya kamu telah memakan daging saudaramu.” (At Targhib wa At Tarhib).

Read the rest of this entry »

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Sufyan bin Abu Auja, katanya: Umar bin Khaththab ra berkata, “Demi Allah! Aku tidak tahu apakah aku ini seorang khalifah atau seorang raja? Jika aku seorang raja, maka urusan mengenai khalifah ini adalah sangat besar kepentingannya.”

Seseorang berkata, “Wahai Anirul Mu’minin! Sesungguhnya di antara keduanya (raja dan khalifah) terdapat satu perbedaan, karena khalifah tidak akan mengambil sesuatu melainkan dengan hak, ia tidak membelanjakannya kecuali dengan kebenaran. Segala pujian bagi Allah yang telah melakukan hal seperti itu. Sebaliknya, raja merampas hak orang banyak, mengambil sesuatu dari seseorang dan memberikannya kepada orang lain.”

Umar ra pun terdiam mendengar kata-kata lelaki itu.

Juga dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Salman bahwa Umar ra berkata kepadanya, “Apakah aku ini seorang raja atau seorang khalifah?”

Maka Salman pun berkata kepaadnya, “Jika engkau telah mengambil satu dirham, baik kurang atau lebih banyak dari bumi kaum muslimin lalu engkau membelanjakannya di jalan yang tidak sepatutnya, maka engkau adalah raja, bukan seorang khalifah.

Mendengar kata-kata Salman itu , berlinanganlah air mata Umar ra.

(Kanzul Ummal)

Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Asim katanya, Abu Bakar ra telah mengumpulkan orang banyak ketika ia sedang sakit. Ia menyuruh orang membawanya ke mimbar. Itulah khutbah terakhir yang dilakukannya. Ia memuji Allah dan berkata, “Wahai kaum muslimin, janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia dan janganlah terfitnah olehnya karena terpikat oleh kecantikannya. Utamakanlah kehidupan akhirat dari kehidupan dunia dan senantiasalah mencintai kehidupan akhirat di dalam dirinya. Jika kalian mencintai salah satu di antara keduanya, maka kalian merasa benci kepada salah satu yang lain.”

“Berkaitan dengan persoalan khalifah, itu mengawali segala urusan kita yang pada zaman berikutnya tidak akan menjadi baik kecuali dengan perantaraan yang memperbaiki zaman yang awal. Jabatan khalifah tidak akan dipikul oleh seorang pun kecuali oleh yang cakap dan mampu mengendalikan dirinya sendiri dan orang yang lebih afdhal dari segi kekuatan. Ia adalah seorang yang tegas dalam situasi tegang dan orang yang lemah lembut dalam hal yang rumit. Ia adalah orang yang paling mengetahui pendapat orang-orang yang memberikan pendapat dan memberikan penghargaan sepenuhnya dan ia tidak menyibukkan dirinya dengan perbuatan yang tidak memberikan manfaat kepada dirinya. Ia tidak kesal atau berduka cita jika terlepas dari sesuatu yang di luar kemampuannya. Ia tidak merasa malu untuk belajar. Ia tidak bingung pada saat tegang dan cemas. Ia sangat memelihara harta rakyat dan tidak menyalahgunakan harta dengan perbautan khianat dan melampaui batas. Ia seorang yang taat dan berjaga-jaga dari kemurkaan Allah SWT. Ia adalah Umar bin Khaththab ra.”

Kemudian Abu Bakar ra turun dari mimbar.

(AL KANZ)

Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Sa’id Al Naghasgi dari Ummu Salmah r.ha, katanya, Dua orang lelaki Anshar datang menemui Rasulullah saw untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka mengenai harta pusaka mereka dan perselisihan itu telah berlangsung sejak sekian lama dan mereka tidak mempunyai satu orang saksi pun.

Nabi saw bersabda kepada keduanya, “Kamu berdua datang kepadaku untuk menyelesaikan perselisihan di antara kalian. Sesungguhnya aku membuat keputusan ini berdasarkan pendapatku karena tidak diwahyukan kepadaku mengenai masalah ini. Karena itu, seandainya keputusanku akan memberikan hak yang lebih kepada salah seorang dari kamu sedangkan ia tidak berhak kepadanya, ia hendaklah menolaknya karena aku telah memberikan kepadanya sepotong api neraka dan ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan sebidang tanah tergantung di lehernya.”

Maka kedua lelaki itu pun menangis, masing-masing berkata, “Wahai Rasulullah! Aku menyerahkan hakku kepadanya.”

Lalu Rasulullah saw pun bersabda kepada mereka, “Jika kamu berdua setuju untuk melakukan sebagaimana yang telah kamu katakan, maka pergilah, tegakkanlah keadilan dan berbagilah dan setelah dibagi sama rata jadikanlah sebidang tanah darinya sebagai perkongsian (kerja sama) di antara kamu.”

Dikeluarkan oleh Bukhari dari Urwah bahwa seorang wanita telah mencuri pada zaman Rasulullah saw ketika terjadinya penaklukan Makkah. Lalu kaumnya menemui Usamah bin Zaid ra untuk mendapatkan ampunan bagi anak perempuan mereka.

Urwah berkata, “Ketika Usamah menemui Rasulullah saw dan member tahu permintaan kaum itu, wajah Rasulullah saw menjadi kemerah-merahan dan bersabda, ‘Apakah kamu berkata-kata denganku mengenai hukuman Allah SWT (untuk mengubah atau meringan-ringankannya)?’”

Usamah berkata, “Ampunilah saya wahai Rasulullah.”

Pada waktu petangnya Rasulullah saw berkhutbah dihadapan orang banyak. Baginda memuji Allah seperti biasa dan bersabda, “Amma ba’du. Sesungguhnya telah binasalah kaum yang terdahulu apabila orang-orang mulia di kalangan mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Tetapi apabila orang-orang rendah di kalangan mereka mencuri, mereka menjatuhkan hukuman ke atasnya. Demi Allah yang memegang jiwa Muhammad di dalam tangan-Nya! Jika seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri pasti aku akan memotong tangannya.”

Kemudian Rasulullah saw memerintahkan supaya tangan perempuan yang mencuri itu dipotong, Setelah itu bertaubat sungguh-sungguh dan menikah.

Kisah Abu Dujanah yang Bercahaya ketika Sakit

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Zaid bin Aslam ra, katanya, Beberapa orang masuk menengok Abu Dujanah ketika ia sedang sakit. Wajahnya bercahaya walaupun ia dalam keadaan sakit. Maka seseorang bertanya kepadanya, “Apakah yang menyebabkan wajahmu begitu bersinar-sinar?”

Abu Dujanah menjawab, “Aku tidak mempunyai amalan lain yang aku bergantung kepadanya kecuali dua amalan. Salah satunya, aku tidak akan berkata-kata kecuali yang memberi manfaat kepadaku dan aku selalu menjaga kebersihan hatiku terhadap kaum muslimin”.

Kisah Abdullah bin Amru ra dan Seorang Lelaki yang Telah Diberi Kabar Gembira bahwa Ia adalah Ahli Jannah

Dikeluarkan oleh Ahmad dengan isnad hasan dan Nasa’I dari Anas bin Malik ra, katanya: Kami sedang duduk bersama dengan Rasulullah saw, tiba-tiba Rasulullah saw bersabda, “Telah muncul dihadapanmu seorang lelaki Ahli Jannah.”

Terlihat seorang lelaki Anshar sedang mengusap-usap janggutnya dengan air wudhu sambil memegang sepatunya di tangan kirinya. Esok harinya, sekali lagi Rasulullah saw bersabda seperti itu. Pada hari yang ketiga, Rasulullah saw juga bersabda seperti itu dan lelaki itu muncul seperti kemunculannya pada hari pertama.

Ketika Rasulullah saw berdiri dari majlisnya, Abdullah bin Amru mengikuti lelaki Anshar itu dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku sedang bertengkar dengan bapakku dan aku bersumpah tidak akan menemuinya selama tiga hari. Jika engkau tidak keberatan, izinkanlah aku menumpang di rumahmu  selama tiga hari.”

Lelaki Anshar itu mengizinkan Abdullah bin Amru ra menumpang di rumahnya selama tiga hari.

Anas berkata bahwa Abdullah menceritakan bahwa ia telah menghabiskan tiga malam tidur di rumah lelaki Anshar itu. Aku tidak pernah melihatnya beribadah yang banyak kecuali ia berdzikir sedikit dan menyebut “Allahu Akbar” kemudian dia bangun dari tempat tidurnyauntuk mendirikan shalat subuh. Aku hanya mengetahui kalau berbicara ia selalu berbicara mengenai kebaikan.

Kata Abdullah selanjutnya, Setelah tiga malam berlalu, aku menganggap amalannya itu biasa saja, lalu aku berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan bapakku dan tidak kabur dari rumah, tetapi aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda mengenai dirimu sebanyak tiga kali, “Telah muncul di hadapanmu seorang lelaki Ahli Jannah.” Setiap kali Rasulullah saw mengatakan kata-kata itu, engkau pun muncul. Karena itulah aku ingin mengetahui apakah amalan engkau itu sehingga Rasulullah saw mengatakan demikian. Akan tetapi aku tidak melihat amalan istimewa yang engkau lakukan.”

Lelaki Anshar itu berkata, “Tidak ada amalan lain yang aku lakukan selain yang engkau lihat.”

Ketika aku berpaling darinya, ia memanggilku dan berkata, “Tidak ada amalan lain yang telah aku lakukan selain yang engkau lihat, hanya saja ada satu amalan yang biasa aku lakukan yaitu aku tidak pernah menyimpan rasa dendam atau hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.”

Aku berkata, “Inilah amalan yang menyebabkan Rasulullah saw bersabda demikian tentang dirimu.”

(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Bazar seperti itu dan ia menamakan lelaki Anshar itu adalah Sa’ad)

Diriwayatkan oleh Bazar dari Abu Hurairah ra, katanya: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya akan datang satu kaum setelahku yang masing-masing akan mengharap untuk bertemu denganku dengan mengorbankan harta dan keluarganya.”

Dalam riwayat Ahmad dari Anas ra, katanya : Rasulullah saw bersabda, “Aku sangat mengharapkan untuk bertemu dengan saudara-saudaraku yang beriman denganku walaupun mereka tidak pernah melihatku.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan kata-kata: (Rasulullah saw bersabda), “Bilakah aku akan bertemu dengan saudara-saudaraku?”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudara engkau.”

Rasulullah bersabda, “Kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman denganku dalam keadaan mereka tidak pernah melihatku.”

KITAB-KITAB RUJUKAN KITAB FADHILAH AMAL

  1. Ahkaamul Qur’an, Abu Bakar Ahmad bin Ali Razi Al Jashshosh
  2. Aini Syarah Bukhari, Badruddin Abu Muhammad bin Ahmad ‘Aini
  3. Al Kamil, Izuddin Ali bin Muhammad Ibnu Atsir Jazuri
  4. Al Qaulil Badi fis Shalati ‘Alal Habibi, Syamsuddin Muhammad As Sakhowi
  5. Az Zawajir, Imam Ibnu Hajar Al Haitami
  6. Al Ishobah, Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i
  7. Al Muwaththa’, Abu Abdullah Maliki bin Anas bin Maliki
  8. Asyhur Masyahir Islam, Rafiq Baki Al Azhim
  9. Asy Syifa, Qadhi ‘Iyadh bin Musa Al Husaini

Read the rest of this entry »

Abdul Wahid bin Zaid rah. a. salah seorang syaikh terkenal di kalangan Chistiyah berkata, “Pada suatu ketika kami sedang melakukan perjalanan dengan mengendarai kapal. Badai telah membawa kami ke sebuah pulau. Di sana kami melihat seorang laki-laki yang sedang menyembah berhala. Kami bertanya kepadanya , “Kamu menyembah siapa?” Ia menunjuk ke arah patung. Kami berkata kepadanya, “Sesembahanmu itu buatan kamu sendiri, sedangkan sesembahan kami dapat membuat segala sesuatu. Benda yang dibuat oleh tanganmu sendiri tidaklah patut untuk disembah.” Ia bertanya, “Lalu siapakah yang kalian sembah?” Kami menjawab, “Dzat Yang Mahasuci yang Arasy-Nya berada di atas langit, kekuasaan-Nya berada di bumi,  kebesaran dan keagungan-Nya paling tinggi.” Ia bertanya, “Bagaimana kalian bisa tahu Dzat yang Mahasuci itu?” Kami menjawab, “Ia mengutus seorang rasul kepada kami, dia sangat baik kepada kami. Rasul itulah yang memberitahu kepada kami semuanya ini.” Ia bertanya, “Di manakah rasul itu?” Kami menjawab, “Setelah menyampaikan risalah dan telah memenuhi haknya, dia dipanggil oleh Malik untuk menerima balasan atas tugasnya.” Ia bertanya, “Apakah Rasul itu meninggalkan tanda dan bukti kepada kalian?” Kami menjawab, “Ya, dia telah meninggalkan untuk kami firman Allah, yakni AlQuranul Kariim.” Orang itu berkata, “Tunjukkanlah kepadaku kitab itu.” Kami mengambil Al Quran kemudian meletakkannya didepannya. Orang itu berkata, “Aku tidak dapat membaca. Bacakanlah sedikit bagian darinya untukku.” Ketika kami membacakan sebuah surat, ia mendengarkannya dengan berlinangan air mata. Kami membaca surat tersebut hingga ayat terakhir, dan orang itu berkata, “Merupakan kewajiban kita kepada-Nya yang telah mewahyukan kitab ini, hendaknya kita tidak pernah mengabaikan perintah-perintah-Nya.”

Read the rest of this entry »

 

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 79,998 hits

a

Quran Surat Al ‘Ashr :

"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat untuk berpegang teguh dalam kebenaran, dan berwasiat untuk berlaku sabar."

Page Rank Check